Jumat, 31 Juli 2020

Terpental

Terpental dalam KBBI; terpelanting jauh.

Dalam versi umum; berpindah posisi dari titik sat uke titik satunya dalam jarak yang berbeda. Penyebabnya karena ada momentum yang membuat kita berpindah posisi lalu begitu saja penjelasannya, lengkapnya saya belum tau.

Saya sedang membersihkan kamar, karena sudah sumpek untuk dilihat, tetapi frekuensi aktivitasnya lebih lama bengong daripada bersih-bersihnya. Terutama saat menemui barang-barang yang harusnya saya buang, tetapi masih menumpuk rapih di dalam lemari. Akibat menemukan barang-barang itu saya jadi terpental, tetapi posisi saya tidak berpindah ke mana-mana, karena yang berpindah bukan tubuh saya, melainkan ingatan saya.

Tiket-tiket bioskop XXI saya jejerkan di depan saya. Sebagian masih jelas tertulis judul film dan lokasi bioskop, ada juga yang sudah pudar. Saya punya kebiasaan menulis di belakang tiketnya dengan siapa saya menonton film tersebut. Jadi kalo saya balik tiketnya, saya bisa terpental ke momen yang terjadi waktu itu. Mengingat-ingat setelah nonton ngapain lagi, atau sebelum nonton saya jemput di mana, izin sama orang tuanya atau ketemuan langsung di tempat. Salah satunya tiket nonton bioskop yang sudah agak pudar, tapi judul filmnya terbaca; Soekarno. Sebelum film dimulai, semua penonton disuruh berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Alhamdulillah, cuma saya dan partner yang berdiri dan menyanyikannya dengan lantang.

Beberapa surat dari zaman SMP sampai SMK saya temukan, ada surat cinta dari lawan jenis maupun sejenis dan beberapa tulisan saya di file sewaktu SMK. Baca tulisan saya tempo dulu aja bikin bengong, dibaca sampai habis terus mikir ini tulisan kenapa bisa dibuat, gamungkin ada api kalo gak ada fire-kan?

Mungkin karena sifat saya yang masih suka menumpuk barang dan menyayangkan untuk dibuang.  Maka, kamar bisa terlihat sumpek begini. Orangnya sayangan banget saya tuh, beli baju baru aja bisa 1 tahun kemudian dipakai. Hal yang gak bagus dilakuin sebenernya, soalnya jadi numpuk di lemari. Masih banyak barang lainnya yang menumpuk di kamar. Padahal sebagian sudah pernah dibuang waktu lampau tetapi, kenapa masih keliatan sumpek aja ya?

Akhirnya sudah terpilah; barang-barang yang harus dibuang agar tidak memenuhi isi kamar. Sebenarnya prinsip kamar rapih serupa sama pikiran yang jernih; singkirkan hal-hal gak penting yang bikin memungsingkan kepala, lalu tata dengan teratur apa yang perlu kita simpan. Jika ada orang yang masuk lalu meninggalkan sampah, segera buang jangan pernah tertumpuk di sana. Dan yang penting, kamar harus wangi, jangan tidak.  

 


Selasa, 14 Juli 2020

Kebersamaan, Kerepotan, dan Kebanggaan yang tertunda.

Senin, 13 Juli 2020. Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru bagi seluruh siswa di seluruh Indonesia. Seharusnya, jalan raya dipenuhi oleh siswa/i yang berangkat ke sekolah mulai dari angkutan umum, diantar orang tua, juga mengendarai motor menumpuk tiga. Namun, akibat COVID-19 yang belum selesai di Indonesia, semuanya berubah. Di jalan, saya tidak melihat lalu lalang dari mereka, beberapa saja yang terlihat, sangat tidak banyak. Bahkan pedagang balon gas yang biasanya berdiam di dekat sekolah, tidak ada yang terlihat sama sekali.

Bagi siswa/i, saya paham gimana rasanya ingin bertemu teman-teman sekolah setelah libur panjang yang kali ini terasa melelahkan (karena harus diam di rumah). Merindukan suasana riuh canda tawa, melakukan hal-hal konyol di dalam kelas, dan yang paling ditunggu; beramai-ramai ghibah dari kalangan artis, selebgram, dan tentu teman sendiri.

Begitu juga untuk yang baru masuk ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya, bertemu teman baru lalu beradaptasi dengan lingkungannya jadi hal yang ditunggu. Repot menyiapkan hal-hal ospek, sibuk menebak kata kunci makanan dan minuman yang mau dibawa. Di zaman saya, perempuannya diharuskan mengkuncir rambutnya dengan kuncir warna warni, laki-lakinya wajib berkepala botak. Di mana harus mengejar KAMBING (Kaka Pembimbing) untuk dimintai tanda tangannya, kalo diinget, rajin juga ya saya, malah kadang kambingnya sok jual mahal, meh.

Apalagi bagi orang tua, melihat anaknya menggunakan seragam SD di hari pertama mereka bersekolah sambil berujar, “Udah gede juga ya kamu, Nak.” lalu mengantarkannya sampai ke depan pintu gerbang dan momen mengharukan terjadi saat harus rela melepas anaknya menuntut ilmu seorang diri. Saya rasa kata-kata tidak akan cukup untuk mendeskripsikan perasaan orang tua saat itu.

Hari pertama saya bersekolah, lupa dengan siapa saya berangkat waktu itu. Tapi saya ingat saat sedang di dalam kelas, saya melihat beberapa orang tua mengamati anaknya dari balik jendela. Di jam istirahat, orang tua siap menyambut anaknya dengan bekal yang mereka buat. Lonceng pulang berbunyi, anak-anak disambut dengan pertanyaan, “Kamu tadi belajar apa?” dari orang tua mereka.

Sekarang, semua hal diatas terpaksa harus ditunda dulu entah sampai kapan. Kesunyian jadi pengisi kekosongan di sudut lorong-lorong sekolah serta di dalam kelas mereka. Semuanya berpindah ke dalam layar gadget. Terlihat penuh di dalam layar, namun, dari luar layar mereka tetap sendiri di dalam ruangannya masing-masing.

Harapan kita semua sama, pandemi ini cepat berakhir. Agar hal-hal di atas bisa kembali dirasakan oleh semua siswa/i, semua orang tua, dan para pedagang di sekolah. Karena ada sisi yang kosong saat kita harus berinteraksi melalui gadget, yaitu; hangatnya kebersamaan.

Jumat, 10 Juli 2020

Tragedi di Sukamantri

Sudah lewat setengah jam saya menunggu hujan berhenti di salah satu teras ruko dekat mall di daerah Pondok Gede. Hujan yang tiba-tiba membuat saya telat menjemput Zahra di Halte Pinang Ranti.

Berawal dari obrolan ringan di grup whatsapp teman-teman SMK, Fuad; teman saya yang sering naik gunung mengajak kita kemcer (kemping ceria). Bak air tumpah, ajakannya disambut bahagia karena banyak yang belum pernah kemping. Lanjut perihal teknis Fuad yang mengurus karena dia lebih paham. Dia memberikan banyak pilihan tempat, sampai meruncing jadi dua pilihan; di Balong Endah atau Sukamantri.  


Sukamantri menjadi pilihan untuk kemping setelah melalui debat dari kita yang belum pernah kesana dengan membandingkan dua tempat tersebut perihal; tempat foto, track, dan keberadaan hewan buas (ini serius loh) melalui refrensi via Istagram. Agak rumit emang kemauan manusia.


Buat yang belum tau, bumi perkemahan Sukamantri itu berada di kaki Gunung Salak. Kalo dilihat dari foto-foto yang tersebar di Instagram, tempatnya bersahabat buat pemula yang mau kemah atau kemah dengan balutan keluarga gitu.


Hujan sudah berhenti, saya lanjut menjemput Zahra. Dari Pinang Ranti, kemudi saya arahkan ke rumah Bebek. Di sana ada Fuad, Nabila, Nurul, dan Bebek (Fikri). Mereka baru pulang membeli stok makanan buat besok, lalu Fuad membagi-bagikan bawaan besok di dalam tas sekaligus mencoba tenda yang digunakan untuk tidur kita di sana. Setelah semua dirasa cukup, kita pulang ke rumah masing-masing menyiapkan tenaga buat besok.

Rencananya semua berkumpul di rumah Fuad pukul 9 pagi. Bukan orang Indonesia kali ya kalo nggak telat, karena semua baru bisa kumpul pukul setengah 11 lewat. Akhirnya kita bagi-bagiin lagi bawaan yang dipersiapkan buat di sana. Selain 5 orang yang saya sebutkan sebelumnya di atas, ada Elisa, Devari, dan Aji yang juga ikut ke Sukamantri, jadi total kita ada 9 orang. Semua tas sudah terisi barang bawaan, sekitar pukul 11 lewat kita berangkat menuju Sukamantri.

Jalur yang kita lewatin (seinget gue) Leuwinanggung – Tapos – Cibinong – Bogor, selebihnya lupa. Drama saling tunggu karena ketinggalan nggak bisa dipisahkan kalo lagi naik motor ramean begini. Alhamdulillah, saya ada di bagian yang ditungguin alias motor saya gabisa ngebut T.T (ini emot sedih). Setengah perjalanan kita laluin, teman-teman memutuskan buat rehat sejenak di tukang soto mie karena pantat udah kerasa tidak enak (maklum gak biasa) dan perut yang keroncongan.

Setelah perut terisi dan pantat enakan, kita ngelanjutin perjalanan. Tidak jauh; kita memasuki area pemukiman warga, suasana sejuk menyapa kita di sana, lanjut menanjaki jalan bebatuan. Karena takut terjadi apa-apa, kita jalan satu-persatu secara bergantian. Semua terlihat tanpa kendala, sampai  tiba-tiba Adjie nyeletuk, “Tong, motor lu ngebul.”

“Wadadadadadaw,” respon saya dalam hati. Serentak semuanya berhenti, saya langsung mengecek motor. Ternyata nggak cuma asapnya ngebul, bau sangit juga keluar dari motor saya. Keadaan motor membuat saya diem, mikirin perjalanan pulang nanti, nyampe aja belum, ini udah mikirin pulang. Fuad bilang buat berhenti sebentar nunggu motor saya bener (sedikit). Tentu, saya harap-harap cemas sama keadaan ini, masa gagal sih udah setengah lebih perjalanan.

Fuad bilang kalo dikit lagi udah nyampe dan meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Anjay. Memulai dengan Bismillah, kita melanjutkan perjalanan. Zahra yang awalnya satu motor sama saya, pindah ke Fuad yang sendirian. Alhamdulillah, tidak lama dari situ kita disambut jalanan yang udah di cor gitu. Semuanya berhenti lalu foto bersama di dekat gapura bertuliskan “Kujang Raider”.

Akhirnya sampai juga di tempat perkemahan Sukamantri, sebelum markirin motor, kita bayar uang masuk terlebih dahulu. Biayanya Rp 25,000/orang dan belum termasuk parkir. Setelah memakirkan motor, kita harus berjalan sedikit buat sampai di wilayah tempat masang tenda. Di Sukamantri ini ada dua wilayah tempat buat kita berkemah, satu di dekat tempat parkir, satu lagi agak jauh tapi masih bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Perasaan lega menghampiri semuanya saat sampai di wilayah berkemah. Kemudian yang perempuan menggelar tikar untuk meletakkan barang bawaan, sedangkan laki-lakinya memasang tenda. Ditemani lagu-lagu yang udah dipersiapkan sehari sebelumnya dan pemandangan hijau nan asri sejauh mata memandang. Kini, suasana liburan sudah ada di dalam genggaman. Gelak tawa jadi teman saat memasang tenda, saya dan Adji sedikit kesulitan saat memasang tenda. Tiga tenda sudah terpasang dengan kokoh, satu tenda buat tempat tidur perempuan, sisanya buat barang bawaan dan tempat tidur laki-laki.

“Bek, panggangan mana?” tanya Nabila saat mempersiapkan alat memasak.
Semua melihat Bebek, dia diam sebentar, “Lah ada disitu, cari napa Bil,” ujarnya.
“Mana si? Orang gak ada.”
Bebek menuju tasnya dan mencari panggangan, alhamdulillah, yang dicari gak ada.
“Kayanya ketinggalan dah, Bil,” ujar Bebek pasrah.
“Ih kok bisa? Ajksjhdjkaskd,” ocehan Nabilla yang gabisa dikendalikan.

Bukannya pada membela, yang lain malah menertawakan si Bebek, ya mau gimana lagi kan? Tadi motor saya bermasalah, sekarang Bebek lupa bawa panggangan. Ada-ada saja emang tragedinya. Untuk menebus kesalahan, Bebek mencari panggangan di sekitaran situ. Lama berselang, Bebek datang membawa panggangan. Alhamdulillah, dia meminjam panggangan di warung tempat kita menumpang masak nasi saat pertama datang.

Gelap mengganti peran si terang di langit Sukamantri, lalu adzan maghrib berkumandang. Sebagian berangkat ke mushollah untuk salat, kita menggunakan senter ke sana karena gak ada sumber penerangan di Mushollah. Yang ada di Mushollah memutuskan untuk sekalian salat Isya biar rasane plong, gituh.

Keluar mushollah, ada Nabilla yang mau buang air ditemenin sama Devari. Saya, Zahra, Elisa, dan Bebek pamit ke atas. Kamar mandi di sini ada dua lokasinya, satu di ujung tempat dari wilayah kita kemah, satunya lagi di dekat musholah. Akses ke kamar mandinya kita harus nurunin jalan gitu yang pijakannya cukup buat satu kaki, harus hati-hati saat naik maupun turun, apalagi kalo malam, harus pake senter, soalnya bisa terpeleset.

Selain bakar ayam, kita juga bawa kompor kecil buat ngegoreng makanan, kaya naget, otak-otak, sosis, dll. Menikmati makan di alam bebas bersama teman-teman, menghadirkan rasa senang dan haru. Senang karena masih bisa seperti ini dalam keadaan yang sehat, haru karena nggak tau kapan lagi bisa kaya gini.

Menghabiskan sisa waktu malam di tenda dengan canda gurau, mengenang masa-masa sekolah, dan berandai-andai tentang masa depan walaupun semuanya masih abu-abu.


“Nanti kalo kalian menikah, bakal bisa kaya gini lagi ga?” tanya dari salah satu kita, gua lupa siapa orangnya waktu itu, yang jelas bukan gua, apalagi Bebek.

Tiba-tiba satu teman perempuan menangis, bukan karena kesurupan, tetapi menangis haru. Perempuan lainnya terbawa suasana, sedangkan saya dan laki-laki yang lain, menertawainya, jahat ya emang hahaha. 

Lensa kamera dibuka, tombol rekam ditekan oleh Devari. Mata kamera merekam kegiatan kita di temani bintang dan bulan yang cerah pada malam itu, dimulai dengan masing-masing kita diberikan pertanyaan-pertanyaan yang “dalam”. Lalu satu persatu menjawab pertanyaan yang membuka kenangan lama, menyimpulkan benang merah yang kusut. Ada juga yang berkilah tidak mau menjawab, tetapi dari situ bisa menimbulkan gelak tawa dan haru yang membunuh suasana sunyi hutan dalam momen kebersamaan kita.

Nabilla membangunkan satu persatu yang tidur saat adzan subuh berkumandang. Saya dibangunkan paling terkahir karena tidur di tenda barang, terpisah sama laki-laki yang lain karena tendanya gak muat. Balik dari musholla kita menyiapkan sarapan, karena setelah itu kita akan pergi ke curug buat berenang. Momen yang ditunggu oleh semua peserta kemping ceria ini.

“Jalan kaki aja, susah jalannya kalo bawa motor, gak jauh kok dari sini,” ujar Fuad meyakini kita semua yang awalnya mau pergi mengendarai motor, semua menerima. Jalur yang kita lewati itu jalan aspal yang kita naikin di perjalanan berangkat, sampai ketemu gapura “Kujang Raider” kita belok ke kiri di perbatasan jalur aspal dan tanah, perjalanannya memakan waktu sekitar 30 menit (ini udah ditotal sama ngaso beberapa kali di tengah jalan).


Eh ternyata pas sampai kita ngeliat jalannya bisa dilaluin sama motor. Fuad cengengesan karena berhasil mengelabui kita. Namun, lelahnya perjalanan berubah menjadi teriakan bahagia. Semua menyambut pemandangan hijau dan air yang mengalir di sini. Terutama Nabilla, dia baru pertama kalinya ke curug dan sangat bahagia bisa menapakkan kakinya di dalam air mengalir. Adjie; katanya tidak sia-sia ngambil cuti kerja untuk datang ke sini. Dua pernyataan di atas bisa mewakili bagaimana keindahan alam di sana. Keadaan juga masih sepi karena kita datangnya pagi banget, info juga, curugnya gratis.

Satu dua batu kita pijak untuk sampai di tempat yang bisa dibuat berenang, jalan sekitar 5 menit lagi, kita sampai di tempatnya. Semuanya langsung loncat ke sungai, suasana sepi, air dingin, pemandangan hijau, jadi hal asing yang kita jumpai selama di hidup di perkotaan. Curugnya juga serasa milik kita sendiri karena masih sepi banget, ya sekitar 20 menit kemudian baru satu-persatu pengunjung datang. Satu jam lewat kita menikmati pemandian di aliran sungai ini. Maunya sih terus berendam, tapi waktu ikutan berjalan. Semua berbenah dan meninggalkan curugnya. Melihat sekitaran kolam, ternyata udah banyak pengunjung yang dateng, bahkan ada yang ramean naik truk. Untung aja kita udah selesai foya-foya di airnya.

“EHHH!!”, ucap kaget Elisa saat sampai di tenda karena sampah berserakan di mana-mana. Ternyata ini ulah sekumpulan para monyet di kawasan hutan Gunung Salak. Katanya kalo pagi emang banyak yang silaturahmi, sekedar nyari makan dari bawaan pengunjung ataupun bekas sampah makanan kita. Kita makan lagi buat bekal perut di perjalanan pulang, setelah makan, semua membereskan perlengkapannya dan menutup tenda. Kemudian saat semuanya telah siap pulang, ternyata ada yang menghambat, yaitu si Bebek yang masih mandi.

Buah semangka jadi teman menyantap sambil menunggu Bebek. Buah yang menurut banyak pendaki jadi terasa nikmat saat menyantap di ketinggian puncak. Beberapa potong semangka saya kasih ke kerumunan monyet. Namun, petaka dimulai dari situ, sekumpulan monyet semakin banyak yang datang ke tenda kita. Semuanya panik, masing-masing menyelamatkan barang bawaan lalu menjauh dari kerumunan monyet. Beberapa bawaan ada yang belum saya tutupi dengan alas biar gak dibrendel monyet. Bener aja, ada monyet yang berhasil mengambil satu renceng susu jahe.

“BEBEKKKKKKKKKKK, LAMA BANGET LU,” kita meneriaki Bebek agar lebih cepat mandinya.

Lebih dari 30 menit, akhirnya Bebek keluar dari kamar mandi, “Sempak gua ilang Boy,” ujar Bebek saat baru sampai. Semuanya bingung, kaget, dan tentu tertawa. Bebek disuruh buru-buru mempersiapkan dirinya untuk pulang. Barang bawaan sudah gak ada yang ketinggalan, semua bergegas pulang meninggalkan keluarga besar monyet. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya Nyet! Berangkat dengan doa, pulang juga harus dengan doa, kemudian kita pamit sama petugas di sana.

Bergantian kita memulai perjalanan pulang, dalam hati yang bahagia dan lega, perkempingan dua hari satu malam telah terlaksana dengan perasaan yang sangat puas. Dengan beberapa tragedy yang tejadi tidak membuat kita merasa ini sebagai perjalanan yang buruk, melainkan jadi sisi menarik yang bisa kita ceritakan kelak. Seperti kumpulan daging rendang yang nikmat, tetap saja kita suka menggigit lengkuas yang pahit.

Pertama kali berkemah gak mungkin bisa saya lupakan, sama seperti cinta pertama lah ya, hehe.

FYI:
- Fuad juga pernah kehilangan sempak saat mandi di WC yang sama, hmmm?
- Kalian bisa bawa beras dari rumah, lalu meminta tolong buat dimasakin di warung yang ada di sana, biaya masaknya lupa.
- Ada beberapa curug yang tersedia di sana, yang membedakan jarak dan jalur tempuhnya aja.

Minggu, 21 Juni 2020

Terus Melihat Ke Depan, Rusa!


Selama pandemic, saya banyak menghabiskan waktu menonton video-video di youtube. Chanel National Geographic menjadi salah satu favorit saya. Chanel yang banyak berisi tentang kehidupan satwa di alam liar dan melihat bagaimana rantai makanan bekerja dengan sesungguhnya.

Aksi kejar-kejaran antara singa dan rusa menjadi pemuas indra penglihatan saya. Singa lebih sering saya lihat berhasil menerkam rusa dibanding rusa berhasil meloloskan diri dari si raja hutan. Lalu saya perhatikan kaki-kaki rusa lebih cepat bergerak dibanding kaki singa, di situ membuat saya bingung. Akhirnya saya googling dan berhasil menemukan fakta bahwa sebenarnya rusa lebih cepat berlari daripada singa. Kemudian apa penyebab rusa kalah saat meyelamatkan diri dari singa?

Faktor umur? Hmm.

Ternyata faktor yang membuat rusa mudah diterkam singa karena si rusa sering menoleh ke belakang saat berlari menghindari singa. Hal itu membuat rusa merasa singa semakin dekat dengannya dan akhirnya benar-benar dekat sehingga singa bisa menerkam rusa. Hmm, bukannya kalo udah dekat tuh bisa jadian ya? Ohh tidak seperti itu konsepnya, Mukhlis. Lagipula banyak juga yang udah deket, tetapi gak jadian, hehe. Hush! Ngelantur aja nih.

Kejadian di atas bisa dicerminkan dalam kehidupan. Banyak dari kita yang masih suka menoleh ke belakang saat sedang fokus menekuni sesuatu, mengingat kegagalan di masa lalu yang semestinya tidak perlu kamu ingat. Memang gak mudah untuk melupakannya, tetapi kalo kamu terus menoleh, jadinya kamu tidak pernah fokus untuk berlari, hanya fokus untuk menoleh.

Saat kamu berlari, teruslah berlari, jangan coba untuk menoleh ke belakang. Fokus dengan apa yang kamu lihat, bukan apa yang mau kamu lihat. Sebab banyak kegagalan tercipta karena hal-hal yang tidak perlu kita pikirkan jadi ikut dipikirkan, membuat beban kerja otak kita bertambah.

Rusa juga tidak menyadari bahwa larinya lebih cepat daripada singa, sebab dia tidak fokus untuk memaksimalkan kemampuannya. Manusia juga sama, terkadang tidak sadar mempunyai kelebihan karena dihantui rasa cemas yang berlebihan. Mulai sekarang, ubah rasa cemas itu menjadi rasa puas. Puas karena kamu bisa bertahan sampai di titik ini, puas karena sebenarnya kamu itu hebat lebih dari apa yang kamu tahu.

Maka, jangan pernah lelah berlari dan selalu melihat ke depan, rusa!

Kamis, 18 Juni 2020

Dieng; untuk yang pertama


Sebelum mengetik ini, gua baru saja menghabiskan 1 porsi ceker mercon pedas. Padahal tadi pagi sudah 4x bolak-balik kamar mandi karena mencret. Apakah ini yang dinamakan seni melukai diri?

Perjalanan ini terjadi saat masih SMK tahun 2015, gua sekolah di salah satu SMK di Kota Bekasi jurusan TP4 (Teknik Produksi Penyiaran Program Pertelevisian). Beberapa teman gua menyebutnya Teknik Pergi Pagi Pulang Pagi karena kerjaannya yang lembur terus. Buat yang belum tau jobdesk TP4 biasanya bikin film,iklan, dan lain-lain.

Siang-siang lagi di kelas, tiba-tiba gua disuruh ke RKB (studio tempat praktek). “Sini lu duduk,” ucap Uwa saat gue masuk RKB. Doi Kepala Program jurusan di sekolah, biasa dipanggil Uwa sama murid-muridnya. Ternyata bukan gue aja yang dipanggil, ada Dini sesama kelas 11 dan kaka kelas anak 12 TP4-1. Awalnya semua hening karena bingung kenapa dikumpulin, singkatnya Uwa ngumumin kalo satu film kaka kelas masuk nominasi di Festival Film Dieng 2014, semua mengucap syukur karena ini film pertama mereka yang masuk nominasi Festival Film tingkat nasional.

Kenapa ada gue dan Dini di situ? Kebetula kita membantu proses pembuatan filmnya. Tebak gue jadi apa? Yak betul sekali! Gue dan Dini membantu sebagai pemeran utama di film tersebut. Saat diumumin masuk nominasi, gua berujar dalam hati, “Akting gue oke juga ya,” sambil membandingkan diri ini dengan Iko Uwais. Walaupun sekarang kalo gua tonton ulang filmnya bikin gua ketawa-ketawa sendiri. Buat yang mau tau, gua memerankan film dengan judul “Gw gak liat itu lo kok”, bagus kan judulnya?

Sebenernya gua gak diajak ke Dieng, hahahahaha karena undangan buat crew filmnya. Tetapi gua kepikiran buat minta ikut, anjir apeng banget lah pokoknya. Dieng coy!  terakhir gua bepergian jauh waktu perpisahan SMP ke Yogyakarta, jadi kapan lagi ye kan? Beberapa hari kemudian gua dateng ke Uwa buat minta ikut ke Dieng, awalnya Uwa mikir lama tuh, “Yah kagak boleh dah,” pikir gua. Eh ternyata dibolehin, seneng banget pokoknya bisa pergi jauh, apalagi ini datang karena undangan masuk nominasi film (walau akomodasi tetep bayar sendiri) ya tapi seneng lah hahahaha.

Hari keberangkatan, kita semua berangkat dari komsen dan ternyata ada Pak Khusni (guru sejarah) juga ikut. Total sekitar kurang dari 20 orang yang ikut (termasuk Uwa dan Pak Khusni). Kita berangkat ba’da maghrib. Di perjalanan tidak ada yang mengejutkan, kecuali Bang Abdul  iseng memotret teman-temannya yang sedang tidur di kursi bus. Darimana gua tau? Karena gua salah satu korban keisengannya.
Kita sempat berhenti di sebuah tempat untuk makan malam, lalu melanjutkan perjalanan. Adzan subuh menyambut kita di pemberhentian pertama, katanya ini belum sampai di Dieng. Gua bersama yang lain duduk diam melihat sekitar, suasana berbeda kita rasakan di sini; adem dan tenang tidak seperti di Bekasi. Uwa memanggil kita untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Katanya, kita dari sini naik mobil lagi untuk sampai menuju Dieng yang memakan waktu sekitar 2jam-an.

Mata gua dimanjakan sama pemandangan di sana, betapa besarnya kuasa Allah yang mampu melukis dengan indah ini semua. Sayangnya kita gak bisa berhenti sejenak buat foto-foto gitu karena ada beberapa warga di dalam mobil. Padahal moment banget, di Bekasi gak ada yang beginian coy! Beton semua hahaha.

“Sudah sampai di Dieng,” ujar supir kepada kita semua. Saat turun dari mobil, Dieng menyambut kita dengan dinginnya dia. Gua gatau suhunya berapa, tetapi udah pakai jaket parka dan tracktop dinginnya masih terasa sampai kulit. Namun, dinginnya Dieng dikalahkan oleh takjubnya pemandangan di sekeliling Dieng, sekali lagi gua memuji lukisan Allah yang sangat indah dipandang oleh kedua mata gua. Berjalan sebentar, gua langsung minta difotokan di spanduk bertuliskan “DIENG CULTURE FESTIVAL V” bersama Rangga. Masing-masing sibuk berfoto ria, tetapi kita semua tidak lupa tujuan datang ke sini. Beberapa teman ada yang mencari informasi tempat untuk acara penganugerahan Festival Film Dieng.

Informasi tempat acara sudah kita dapat, lalu pergi ke sana. Di tengah perjalanan kita melihat beberapa susunan candi lalu berhenti buat berfoto-foto lagi. Namanya juga baru pertama kali kan, jadi sayang aja kalo dilewatin. Lanjut, kita registrasi lalu disuruh masuk ke dalam sebuah ruangan seperti teater. Ohiya, tempat acaranya itu kaya sebuah museum karena diisi barang-barang bersejarah. Karena acaranya masih lama, jadi sebagian dari kita ada yang pergi ke luar dan ada yang keliling museum itu.

Alamdulillah, acara telah selesai. Namun, kita belum bisa pulang bawa piala. Ya gapapa, nanti bisa bikin lebih bagus lagi, semoga. Bagi gua sih kepuasan tersendiri bisa ke Dieng gara-gara bikin film. Sisa waktu yang ada sebelum malam kita habiskan untuk berkeliling di daerah DCF. Sekadar makan, foto-foto, dan beli pernak-pernik khas Dieng.

Langi gelap ingin menyelimuti Dieng. Sementara itu kita semua sudah bersiap, bersiap ke mana? Karena rumah Pak Khusni dekat dari Dieng, kita semua diizinkan untuk beristirahat di rumahnya sembari melepas penat. Ini yang dinamakan rezeki selalu datang di waktu yang tepat. Perjalanan ke rumah Pak Khusni sekitar 2 jam menaiki angkutan umum yang kita carter khusus rombongan kita.
Sampai di rumah Pak Khusni malam sekitar Isya, kita langsung disambut oleh keluarga Pak Khusni, Pak khusni juga melepas kangennya dengan keluarga di sana. Setelah rehat sebentar, tenyata kita udah disiapkan makan malam oleh keluarga Pak Khusni, sungguh beruntungnya kita semua yang mungkin bawa uang secukupnya untuk perjalanan ini.

Gua terbangun tengah malam, melihat teman-teman tidurnya pada ngampar lalu gua menoleh ke luar rumah. Emang beda banget ya feel yang gua dapet saat di rumah, di sini tuh  adem, tenang dan pasti dingin. Eh kayanya yang tadi gua sebut juga bisa di rasain di rumah gue, tetapi pokoknya beda lah, kalian pasti paham lah ya.

Kita dibangunkan Uwa untuk melaksanakan salat subuh, airnya dingin banget waktu gue ambil wudhu. Bikin mikir nanti mandi atau enggak hahaha. Selepas salat, udah banyak yang di luar buat nikmatin suasana di pedesaan yang asri. Gua gak bisa mendeskripsikan suasana di sana, pokoknya pagi yang berbeda dari yang selalu gua rasain di Bekasi. Ah, pengen punya kampung jadinya, maklum anak Betawi saudaranya beda RT doang, hehe.

Persiapan untuk pulang sudah siap, kita mengucapkan pamit dan banyak terima kasih ke keluarga Pak Khusni karena diizinkan menginap di rumahnya. Kita pulang menaiki bus lagi, meninggalkan Dieng dan sekitarnya menuju Bekasi untuk menimba ilmu kembali. Walaupun gagal membawa pulang kemenangan, tetapi keinginan untuk menciptakan karya yang lebih selalu tertanam dalam pikiran. Kalo gagal, coba lagi, selamat tinggal Dieng!

Minggu, 07 Juni 2020

Malam Final (lagi) di Bekasi


Sabtu, 1 Juni 2019
Sebagai supporter Liverpool, ini Final UCL ke-3 Liverpool yang bisa saya saksikan secara sadar. Sebelumnya tahun 2018 Liverpool juga berhasil masuk Final, tapi sayang mereka kalah dengan Real Madrid yang berhasil merengkuh trophy liga champions ke-13. Saya tidak mau mengingat pertandingan itu, males. Tapi saya ingat waktu nobar kerjaan saya menahan emosi para supporter Liverpool yang terprovokasi ulah  “oknum” di barisan supporter Real Madrid dan menangis saat pertandingan berakhir, perih.

Pagi itu saya mengecek akun Instagram Bigreds Bekasi untuk mengetahui lokasi nobar nanti malam. Ternyata tempatnya tidak jauh dari lokasi nobar Final tahun lalu. Jika tahun lalu di Gor Bekasi, maka nanti malam di Rooftop parkir Stadion Patriot. Tiba-tiba mata saya terfokus pada satu unggahan foto mereka, foto tersebut menggambarkan terbentang spanduk di jalan Ahmad Yani di sisi luar JPO bertuliskan “MAKE US DREAM” dengan logo Livebird. Penuh bangga, akhirnya saya save lalu mengunggahnya di platform Instagram.

Malam telah menyelimuti bumi bagian Indonesia. Saya baru tersadar belum ada teman untuk berangkat nobar ke sana. Iseng juga kalo berangkat sendirian pikir saya. Akhirnya saya menghubungi beberapa teman The Reds Pondok Gede, Si Dichi gabisa ikut karena udah mudik (jadwalnya berdekatan Idul Fitri), Bang Berland nobar di Bandung, dan Fuad yang gak nobar. Saya mengingat siapa lagi teman-teman nobar saya. Kemudian saya inget Bang Rata, saya hubungin via Instagram bertanya mau nobar atau enggak, kabar baik! Ternyata dia mau nobar dan belum ada barengan ke sana.
Kami memutuskan berangkat jam 11 malam waktu itu, biar gak nunggu lama di venue nanti. Di perjalanan, ternyata Bang Tama (teman The Reds) menunggu kami di pengkolan, finally, kita bertiga berangkat menuju venue.

Sampai di sana, kita langsung naik ke rooftop. Sebelumnya saya menghubungi Bang Ined (teman The Reds) untuk menjemput kami di pintu masuk menuju venue, kebetulan juga dia mengisi acara di situ. Kita bertemu lalu tegur sapa dan diantarkan Bang Ined menuju venue.

PADAT! Kesan pertama saat memasuki rooftop, manusia menghampar di mana-mana, hampir semua berbalut jersey merah, warna khas Liverpool FC. Di dinding rooftop terbentang banyak bendera dan spanduk bertema LFC. Saya menghirup bau-bau optimis diantara kerumunan ini, bismillah. Langkah saya berhenti karena merasakan sesuatu. “waduh,” ucap saya, ketika merasakan gempa kecil di sini, alasnya bergetar saat semuanya sedang berjoget bersama Feel Koplo waktu itu. Dalam hati, saya berdoa agar tidak terjadi apa-apa nanti. Ngeri juga lagi nobar tiba-tiba bangunannya roboh.

Minggu, 2 Juni 2019
Terlihat di layar besar para pemain memasuki lapangan, supporter Liverpool yang ada di dalam stadion, di tempat nobar, dan dimanapun mereka berada berdoa agar Liverpool dapat menang malam ini, bawa pulang piala, lalu berpesta.

Kick off!

“YESSSSSSS!!!!!” semua bersorak. Belum satu menit pertandingan berjalan, Liverpool dihadiahi tendangan pinalti oleh wasit karena Sissoko melakukan handsball di kotak 16 pas. Mo Salah menjadi algojo bersiap-siap mengeksekusi pinalti, semua supporter harap-harap cemas menunggu Salah melakukannya. “YEAYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY” semua orang bergembira di rooftop, Mo Salah berhasil mencetak goal. “Mo Salah, Mo Salah, Mo Salah, Running down the wing, Salahhhhhhhh la la la la, the Egyptian King,” chants Mo Salah didengungkan seisi rooftop, kita semua berjoget dan melompat merayakan goal pertama Liverpool. Mo Salah menjadi orang Mesir pertama yang mencetak gol di final UCL.

“PRITTTTT” bunyi peluit babak pertama telah selesai.

          Karena ini masih di bulan puasa, saya langsung pergi ke food court untuk membeli makan buat santap sahur. Saat mencari makan, saya bertemu dengan 2 teman saya waktu SMK (Roby & Kholiq) dan guru SMK saya (Pak Eko). Setelah makan, saya balik ke tempat semula, di sana sudah ramai teman-teman nobar saya yang sudah lama gak ketemu. Bang Jaenk, Bang Pandji, Bang Giant, dan masih banyak lainnya. Kenapa Abang semua manggilnya? Kebetulan saya paling muda bersama si Dichi Cablut diantara teman The Reds Pondok Gede . Gara-gara Liverpool kita semua bisa bertemu dan berkumpul lagi. Menghabiskan jeda babak pertama sambil bernostalgia sewaktu nobar bersama-sama dulu. Mulai dari kegilaan saat awaydays ke tim rival dan kebiasaan after match yang selalu rutin dilakukan.

“PRITTTTTTTT” bunyi peluit tanda babak kedua dimulai.

      Semua orang fokus menatap layar lebar sambil berdoa Liverpool tidak kejebolan bahkan menambah keunggulan. Beberapa kali kami dibuat senam jantung karena serangan dari pemain Hotspur, beruntung Liverpool mempunyai pemain belakang tangguh yang siap menghadang serangan dari Hotspur. Sorai-sorai chants tetap bergemuruh sebagai bentuk keoptimisan kita semua. Sampai di menit 87, berawal dari corner kick James Milner, bola berhasil dihalau pemain belakang Hotspur, lalu bola liar di udara diperebutkan sampai Matip berhasil memberi umpan pendek ke Origi, Origi menahan bola lalu menendang ke arah gawang. “YEAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!” bola berhasil masuk ke gawang Hotspur untuk kedua kalinya. Saya yang menyaksikan gol itu langsung memeluk teman-teman sambil menangis. Semua bersorak lebih keras lagi di rooftop, alas rooftop bergetar, tetapi saya tidak peduli, bodoamat roboh, kita harus merayakannya. Pyro dinyalakan di beberapa titik sudut, semua bernyanyi, dan berjoget. Kita semua menyanyikan chants “Allez Allez Allez”,  saya masih merinding jika membayangkan lagi waktu itu.

           Babak kedua selesai, YES! LIVERPOOL JUARA UCL KE-6. Meninggalkan perolehan trophy UCL Barcelona, Muenchen, dan hmmmm emyubutut. Banyak sebagian dari supporter Liverpool yang menangis, suasana haru bercampur dengan rasa bangga. Bertahun-tahun Liverpool jadi penonton UCL. Sekarang kita bisa merasakan euforia juara lagi, setelah terakhir Liverpool juara di Carling “Mickey Mouse” Cup tahun 2012. Chants Allez Allez Allez, Campione, dan lainnya menggema di rooftop mengisi luasnya langit Bekasi Subuh itu. Semua bahagia, berpesta, dan merayakan momen yang ada. Saya berfoto bersama teman-teman The Reds Pondok Gede sambil berdoa tahun besok Liverpool bisa back to back juara UCL.

               Saya menelusuri jalan Ahmad Yani dengan perasaan yang gak bisa diutarakan, semua yang terjadi tadi akan selalu terekam dalam ingatan. Kebanggaan yang selalu terbenam di dada, kesetiaan yang terus mengakar sampai di jiwa. Selamat Liverpool, LETS TALK ABOUT SIX TIMES!

Victory for the moment, pride is forever.

NB: Tahun berikutnya Liverpool gagal mempertahankan piala UCL karena kalah dari Atletico Madrid di fase 16 besar. Namun, trophy Premier League telah menunggu diangkat Liverpool tahun ini, 19 Times!

Senin, 01 Juni 2020

Mengungkapkan


Kenapa ya mengungkapkan itu bukan hal yang mudah? Ohiya, sebelumnya ini tulisan pertama gue dari sekian lama cuma bikin kata-kata di pesan whatsapp. Mohon doanya biar gua bisa konsisten dalam hal menulis, aamiin.

Lanjut ke topik, Kenapa sulit untuk mengungkapkan? Terutama tentang perasaan, padahal tinggal ngomong lohhh, ngomong gitu hahaha.

Perlu gua akuin, gua sendiri juga masih sulit mengungkapkan sesuatu dalam kondisi tertentu. Kaya kita tuh udah takut duluan sebelum ngomong, terutama takut dengan respon si pendengarnya sih.

Tingkat Keberanian orang-kan beda-beda ya untuk ngungkapin, butuh bukti? Salah satunya mereka yang sudah lama sahabatan tapi diem-diem menyimpan perasaan sayang, yang satu gamau ngungkapin karena takut merusak persahabatan, padahal yang satu lagi selalu bergumam. “Lu kapan pekanya sihh???” hahaha, atau adek kelas yang suka sama kaka kelas, malu buat ngungkapin karena takutnya nanti dapet respon yang buruk. Bahkan banyak juga yang baru pertama ketemu langsung ungkapin perasaan sayang, wow, ajaib sekali bukan?

Selain mengungkapkan yang berkaitan dengan hal asmara, masih banyak juga yang susah mengungkapkan dalam lingkungan keluarga. Padahal kan keluarga tempat kita berkeluh kesah ya (eh iya gak sih?) tetapi, banyak yang masih sungkan buat cerita karena takut, bahkan sangat takut sampai semuanya dipendam.

Gak bisa kita kesampingkan juga, ada yang sulit mengungkapkan itu berdampak positif. Mengurangi keributan bisa jadi contoh, lah ya, kalo ada orang jujur terus yang denger gak terima sama kejujurannya, bisa jadi timbul perselisihan. Mungkin kalian pernah ngalamain kejadian dari kalimat sebelum ini.

Balik lagi sebenernya, tujuan kita mengungkapkan perasaan ini buat apa? Bikin lega atau berharap balasan yang kita mau? Kalo tujuannya yang pertama mungkin bodoamat kali ya, yang penting lega aja gitu, persetan dengan respon. Nah, yang kedua ini bisa bikin down kalo gak sesuai, apalagi kalo ngarepnya udah ketinggian, yhaaa…

Apapun yang sedang kamu pikirin sekarang, kondisimu yang tidak sedang bagaimana, semoga kita semua punya keberanian untuk mengungkapkannya sebelum telat, sebab tidak ada yang tau 3 detik kemudian akan terjadi apa dengan diri kita, dan semua yang ada. Kita bisa mampu mengendalikan apa yang mau kita ucap, sebab mulut bisa jadi madu yang manis ataupun racun yang sangat pahit. Tetap jaga kesehatan dan selau ciptakan kebahagiaan, dadah!