Hallo semuanya, bagaimana kabarnya? semoga kita masih waras menjalani hidup saat pandemi ini ya. aamiin
Saya mau membagikan cerita pendek yang waktu lalu Alhamdulillah jadi juara pertama di lomba cipta cerpen Festival Sastra dan Seni 2020 oleh HMPBSI Universitas Swirijaya.
Cerita ini bertemakan "Untukmu Indonesiaku", selamat membaca!
-------------------------------------------------
Hasbi berjalan menuju
rumahnya sambil menenteng satu kantung kresek, ditemani senja yang akan lenyap
digantikan gelapnya malam. Satu kantung kresek berisikan beberapa buah untuk istrinya
di rumah, rutinitas yang dilakukannya sepulang bekerja.
“Assalamualaikum,” Hasbi mengetuk pintu
rumahnya.
Ratmi, istri Hasbi
membukakan pintu, “Wallaikumsalam.”
“Kamu tambah cantik aja,
Mi,” gombal Hasbi saat matanya; melihat istrinya yang tidak berubah, selalu
cantik sampai kapanpun.
Lalu Ratmi menutup pintu.
Hasbi bingung. “Kenapa
ditutup???”
Dari dalam, Ratmi
berteriak. “Hukuman untuk orang yang suka gombal sepulang kerja.”
Hasbi merespon dengan
tertawa, lalu membuka pintunya dan memeluk Ratmi penuh hangat, “Aku bawa
buah-buahan untuk kamu,” ucapnya menunjukkan kantung kresek.
Ratmi menerima kantungnya
dan membawanya ke dapur. Hasbi duduk di ruang tamu sembari melepaskan kemeja
yang sudah lengket dengan keringatnya. Sesaat, Ratmi ke ruang tamu membawakan
buah yang sudah disajikan dan siap disantap.
Saat tangan Hasbi ingin
mengambil sepotong buah apel, tiba-tiba tangan Ratmi menangkisnya. “Mandi dulu!”
Suruh Ratmi.
Hasbi merespon diam. Namun,
tangannya perlahan mengambil kemeja yang tadi ia lepas, melemparkannya ke Ratmi
sembari berlari ke kamar mandi. Ratmi cuma bisa mengelus dada melihat kelakuan
suaminya sambil berteriak, “KAGAK JELASSSS!”
Suara televisi memenuhi
ruang tamu Hasbi. Hasbi dan Ratmi fokus menonton sambil sesekali memakan apel
yang tadi disajikan Ratmi
“Kamu besok jadi pergi?”
tanya Ratmi sambil kepalanya disenderkan ke bahu suaminya.
“Jadi Sayang, aku kan
harus nyiapin semuanya sebelum hari H nanti,” ujar Hasbi sambil tangannya
membelai rambut hitam Ratmi, menghadirkan kehangatan suasana di ruang tamu
mereka.
Sabtu menjelang siang, Hasbi
sedang menyusuri pinggir rel kereta sambil menggendong tas berwarna hitamnya.
Tidak lama, ia berbelok menuju sebuah pemukiman. Saat memasuki pemukiman, ternyata
di sana Hasbi sudah ditunggu dua bocah laki-laki. Mereka Firman dan Andi.
Hasbi tersenyum lalu
keduanya datang dan bergantian mencium tangan Hasbi, “Yang lain di mana?” Tanya
Hasbi.
“Nah itu, saya mau cerita
ke Bapak,” ucap Firman.
Hasbi mendadak serius. “Ada
apa?”
Firman menceritakan ke
Hasbi; banyak anak yang tidak mau ikut lagi membantu proyek yang dikerjakan
bersama Hasbi dengan alasan yang belum diketahui. Hasbi yang mendengar itu
kaget lalu bertanya, “Sisa kamu berdua doang?”.
“Gimana ya, Pak? Sebagian
ikut-ikutan yang gamau ikutan lagi,” jawab Firman.
“Betul tuh.” Andi
menambahkan.
Lalu Hasbi mengajak
mereka berdua menjemput teman-temannya untuk mengajak lagi ikut ke proyek yang
sedang mereka kerjakan. Di perjalanan, mereka bertemu Ketua RT.
“Gimana Has? Lancar buat
nanti?” tanya Pak RT.
“Alhamdulillah, Pak.”
“Ditunggu ya nanti hasilnya,
bantu pemukiman ini.”
“InsyaAllah Pak, doakan
saja.”
Pak RT membalas senyum
lalu pergi. Mereka meneruskan perjalannya. Tiba di rumah Sapri, tidak terlihat
ada aktivitas di sana, Suasananya sepi, rumahnya juga terkunci dari luar.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Intan. Dalam proyek ini, Hasbi
mengajak 5 anak laki-laki dan 3 anak perempuan untuk melancarkan proyeknya.
Sampai di rumah Intan,
Intan yang melihat kedatangan Hasbi dan dua temannya itu langsung berlari ke
belakang rumahnya. Hasbi kaget melihatnya.
“Assalamualaikum,” ujar
Hasbi.
Dari dalam, keluar Ibunya
Intan, “Wallaikumsalam, eh Pak Hasbi,” ujarnya mempersilahkan mereka masuk.
“Intan ada Bu?”
“Ada Pak.” Ibunya
berteriak memanggil Intan, namun, tidak ada respon, “Duh, nih anak kemana sih,”
lalu Ibunya pergi ke belakang. Tidak lama, Intan datang dari belakang dan
disambut kedua temannya lalu mencium tangan Hasbi.
“Kamu kenapa gak mau ikut
lagi?” tanya Hasbi.
Intan diam, “Soalnya Nani
sama Uli nggak ikutan lagi Pak, aku malu cewek sendirian,” ucapnya pelan.
“Ayo ikut lagi dong!” Ajak
Andi dan Firman.
Mendengar itu, Hasbi
menceritakan tentang pahlawan wanita Indonesia yang bisa menjadi pemimpin
perang. Perasaan Intan tergugah saat mendengar cerita dari Hasbi, begitu juga
Firman dan Andi yang menyimaknya serius.
“Intan bantuin Bapak lagi
ya,” ajak Hasbi.
Intan masih saja diam,
ingin menjawab namun, perasaanya masih malu dan tidak enak. Hasbi meyakinkan
kembali. Akhirnya Intan mau ikut. Hasbi senang, begitu juga Firman dan Andi
yang sumringah mendengar jawaban Intan.
Langit berwarna oranye,
sore telah hadir. Hasbi berhasil mengumpulkan 5 anak-anak yang sebelumnya berjumlah
8. Mereka; Firman, Andi, Intan, Nani, dan Ridho. Mereka berlatih di tanah
lapang dekat pemukiman, latihan berjalan lancar walau Hasbi terlihat pusing
memikirkan solusi untuk mengisi celah kosong di dalam timnya.
Malamnya, di ruang tamu,
Ratmi melihat suaminya berbeda, seperti badannya di rumah, tetapi jiwanya entah
di mana. Ratmi menegurnya, “Gimana latihannya? Lancar?”
Hasbi yang kaget lalu
menjawab dengan lemas, “Gitu deh.”
“Ungkapin aja.”
Hasil mengambil posisi
siap, lalu bercerita bahwa sebagian anak-anak gamau ikut bantu proyek yang
sedang Hasbi persiapkan, beberapa beralasan dilarang orang tuanya dan
semacamnya. Padahal acaranya 2 hari lagi. Ratmi mendengar dengan serius, Hasbi
melanjutkan bahwa takut tidak sempurna saat proyeknya dijalankan nanti. Merasa
tidak enak dengan Pak RT. Karena saat meminta izin Pak RT, beliau sangat
antusias mendengarnya. Sebab sudah 10 tahun tidak ada kegiatan apa-apa di
daerahnya tersebut.
Ratmi diam lalu tangannya
mengepal tangan Hasbi, “Percaya bahwa segalanya udah dipersiapkan yang indah
sama Allah. Jangan takut, anak-anak pasti sangat bahagia jika sudah melihat
hasil yang kamu buat,” Hasbi merespon dengan menyenderkan kepalanya ke sofa
biru sambil melihat langit-langit, “Kamu sendiri, bahagia banget waktu melihat
wajah cerianya anak-anak saat kamu jelasin proyeknya. Sayang, cerianya
anak-anak itu bagai cerahnya langit yang luas. Semua yang melihat akan ikut
ceria nantinya,” lanjut Ratmi.
Ternyata Hasbi sudah
tertidur pulas di sofa, Ratmi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat
kelakuan suaminya itu.
Pagi-pagi, Hasbi sudah
berangkat menuju tempat latihannya kemarin. Di sana, semuanya sudah berkumpul;
anak-anak dan kumpulan ibu-ibu. Di luar dugaan, lapangannya mau dipakai ibu-ibu
senam pagi bersama-sama.
“Gimana Pak?” tanya Andi
ke Hasbi.
“Yaudah, tungguin sampai
selesai.”
Mereka ber-enam duduk di
pinggir lapangan, menyaksikan ibu-ibu bergerak penuh enerjik diiringi lagu-lagu
khas yang di-remix.
Hasbi berfikir, daripada
cuma duduk dan menonton ibu-ibu senam, lebih baik mereka juga ikutan senam,
“Ikut senam aja yuk semuanya,” ajak Hasbi menuju lapangan tanpa menghiraukan
respon anak-anak.
Saat di lapangan, Hasbi
hanya sendiri. Anak-anak masih duduk di pinggiran. Tidak lama mereka menyusulnya
satu persatu-satu; Intan, Andi,dan semuanya ikut berlari lalu mengikuti gerakan
instruktur senam di depan. Ada yang sungguh-sungguh mengikuti gerakan senam,
ada juga yang gerakannya asal-asalan.
Tiba-tiba hp Hasbi
berbunyi, ada panggilan masuk dari Ratmi. Hasbi menjauhi kerumunan.
“Assalamualaikum, iya
kenapa Yang?” Hasbi membuka obrolan dengan nafas terengah karena gerakan senam.
“Kamu lagi latihan sama
anak-anak?”
“Nggak, lagi senam,
kenapa?”
Ratmi menjelaskan sesuatu
kepada Hasbi. Selesai Ratmi menjelaskan, Hasbi menutup telponnya dan memasuki lagi
ke kerumunan senam.
Anak-anak duduk di
pinggir lapangan, keringat membasahi tubuh mereka setelah mengikuti senam.
“Kalian ikut saya,” ajak
Hasbi tiba-tiba yang membuat semuanya kaget.
“Kemana Pak?” tanya
Intan.
“Ke rumah saya, istri
saya sudah menyiapkan makanan buat kalian,” ujar Hasbi tersenyum.
Semua anak bersorak
bahagia, Intan dan Uli mendekati Hasbi,
“Latihannya gimana Pak?”
“Di sana, cukup kok
halaman saya. Sekalian ngomongin yang perlu disiapin besok.”
Lalu mereka semua
berangkat ke rumah Hasbi.
“Assalamualaikum!!!” ucap
semuanya.
Ratmi keluar dan
mempersilahkan masuk. Di dalam, dia sudah menyiapkan hidangan untuk disantap
anak-anak. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, anak-anak langsung mengambil
makanannya
“Eh, tertib dong!” ujar
Uli yang melihat anak laki-lakinya tidak beraturan, “Makasih ya Tante, udah
repot-repot masak buat kita,” ujar Uli ke Ratmi.
“MAKASIH YA TANTE!!” Semuanya
mengikuti.
“Iya sama-sama, diabisin
ya makanannya.”
Semuanya lahap memakan
masakan Ratmi, si Andi bahkan sampai nambah. Teman-temannya geleng-geleng melihat
si Andi.
Andi yang melihat
teman-temannya lalu berkata. “Kenapa? Laper tau abis senam.”
Hasbi dan Ratmi tertawa
melihatnya.
Sekarang mereka sedang
berlatih di depan rumah Hasbi. Ridho sudah siap berada di posisi, menunggu
Hasbi memberikan aba-aba. Di sisi lain Andi dan Firman sudah siap di posisinya
masing-masing sesuai perannya. Hasbi melambaikan tangan bertanda Firman
menjalani perannya, berjalan mendekati Andi dan Firman membawa bambu yang
ditegakkan. Lalu Uli dan Intan menyusul masuk berjejer pada barisan. Latihan
berjalan lancar. Senyuman penuh hasil terlihat di Hasbi dan juga berdoa agar besok
acaranya berjalan lancar.
Besoknya, Pagi, 17
Agustus. Semuanya sudah bersiap di rumah Andi memakai seragam sesuai peran yang
mereka mainkan, Intan datang terlambat dan mengabari bahwa Uli tidak bisa ikut
karena sakit. Semuanya yang mendengar kecewa, termasuk Hasbi.
“Jangan sedih, kita harus
tetap memberikan yang maksimal. Kalo kita berhasil, Uli juga bangga nantinya,”
sedikit motivasi dari Hasbi untuk menenangkan dan menyemangati anak-anak. Ratmi
yang ternyata juga ada di situ, juga memberikan motivasi.
Waktunya tiba. Hasbi
berkeliling pemukiman sambil menyalakan sirine, berharap mendapat perhatian
warga dan bisa mengarahkannya ke lapangan. Rencananya berhasil, banyak warga berbondong-bondong
pergi ke lapangan. Meski mereka tidak tau ada kejadian apa di sana.
Dirasa cukup
keramaiannya, Hasbi memberikan aba-aba ke Firman dan Andi untuk datang ke
lapangan. Lalu mereka berdua datang Andi berpakaian seperti Ir.Soekarno sedangkan
Firman seperti Moh Hatta saat membacakan teks proklamasi waktu hari kemerdekaan,
semua warga yang melihat mereka berdua; tertawa dan tepuk tangan.
Saat Hasbi melihat reaksi
warga melihat Andi dan Firman. Tiba-tiba Intan datang ke dirinya, “Pak, saya
malu kalo cewek sendiri,” ujar Intan pelan.
“Kenapa malu?”
Intan menunduk saja, tidak
mau menjawab. Lalu sebuah tangan mendangakkan kepala Intan, “Nanti Tante
temenin, mau,kan?” Ratmi membawa kabar baik untuk Intan.
Intan mengangguk senyum.
“Makasih ya, Sayang,”
ucap Hasbi kepada Ratmi.
“Ehem,” Andi terlihat
grogi dan warga tertawa melihatnya. Warga di sana antusias melihat acara
seperti ini di pemukimannya, sebab seperti kata Pak RT, sudah 10 tahun tidak
ada acara apa-apa saat tanggal 17 Agustus.
Kemudian Ridho berjalan
ke lapangan membawa bendera yang sudah dikaitkan di sepotong bambu diikuti
Intan dan Ratmi yang berdiri di belakang Ridho dan berhenti dihadapan Andi dan
Firman. Sudah di posisi masing-masing,
Hasbi bergegas membawa mic untuk digunakan Andi.
“Kami, bangsa Indonesia,”
Andi membacakan teks proklamasi, seketika warga khidmat mendengarkannya.
Hasbi terenyuh sekaligus
haru melihat suasana ini. Impiannya sejak masih kuliah di jurusan Sastra
Indonesia kini terwujud. Andi membacakan teks proklamasi dengan penuh
penghayatan, di sampngnya, Firman juga berdiri penuh penghayatan.
“Atas nama bangsa
Indonesia, Soekarno-Hatta.” Andi menutup teks prokalamasi.
Selesai membaca teks
proklamasi, Firman mengepalkan tangan dan mengangkatnya, “MERDEKA!” ucapnya
penuh semangat membakar suasanya di sana.
“MERDEKAAAA!!” semua
warga ikut berteriak..
Hasbi lalu memutar lagu
Indonesia Raya, Intan dan Ratmi mulai menyanyikannya lalu semua warga mengikutinya
sambil hormat kepada bendera merah putih yang dipegang tegak oleh Ridho.
“Terima kasih.” Pak RT
yang tiba-tiba sudah di samping Hasbi.
“Sama-sama Pak, ini bukan
semata untuk warga Bapak, tetapi juga untuk Indonesia tercinta,” ujar Hasbi.
Lalu Hasbi dan Pak RT
hormat ke bendera dan ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.
Di pagi yang cerah,
suasana di pemukiman itu terasa hidup lagi dari perang sepi yang menyelimuti.