Kamis, 17 September 2020

Menghidupkan

Hallo semuanya, bagaimana kabarnya? semoga kita masih waras menjalani hidup saat pandemi ini ya. aamiin

Saya mau membagikan cerita pendek yang waktu lalu Alhamdulillah jadi juara pertama di lomba cipta cerpen Festival Sastra dan Seni 2020 oleh HMPBSI Universitas Swirijaya.

Cerita ini bertemakan "Untukmu Indonesiaku", selamat membaca! 

-------------------------------------------------

Hasbi berjalan menuju rumahnya sambil menenteng satu kantung kresek, ditemani senja yang akan lenyap digantikan gelapnya malam. Satu kantung kresek berisikan beberapa buah untuk istrinya di rumah, rutinitas yang dilakukannya sepulang bekerja.

 “Assalamualaikum,” Hasbi mengetuk pintu rumahnya.

Ratmi, istri Hasbi membukakan pintu, “Wallaikumsalam.”

“Kamu tambah cantik aja, Mi,” gombal Hasbi saat matanya; melihat istrinya yang tidak berubah, selalu cantik sampai kapanpun.

Lalu Ratmi menutup pintu.

Hasbi bingung. “Kenapa ditutup???”

Dari dalam, Ratmi berteriak. “Hukuman untuk orang yang suka gombal sepulang kerja.”

Hasbi merespon dengan tertawa, lalu membuka pintunya dan memeluk Ratmi penuh hangat, “Aku bawa buah-buahan untuk kamu,” ucapnya menunjukkan kantung kresek.

Ratmi menerima kantungnya dan membawanya ke dapur. Hasbi duduk di ruang tamu sembari melepaskan kemeja yang sudah lengket dengan keringatnya. Sesaat, Ratmi ke ruang tamu membawakan buah yang sudah disajikan dan siap disantap.

Saat tangan Hasbi ingin mengambil sepotong buah apel, tiba-tiba tangan Ratmi menangkisnya. “Mandi dulu!” Suruh Ratmi.

Hasbi merespon diam. Namun, tangannya perlahan mengambil kemeja yang tadi ia lepas, melemparkannya ke Ratmi sembari berlari ke kamar mandi. Ratmi cuma bisa mengelus dada melihat kelakuan suaminya sambil berteriak, “KAGAK JELASSSS!”

Suara televisi memenuhi ruang tamu Hasbi. Hasbi dan Ratmi fokus menonton sambil sesekali memakan apel yang tadi disajikan Ratmi

“Kamu besok jadi pergi?” tanya Ratmi sambil kepalanya disenderkan ke bahu suaminya.

“Jadi Sayang, aku kan harus nyiapin semuanya sebelum hari H nanti,” ujar Hasbi sambil tangannya membelai rambut hitam Ratmi, menghadirkan kehangatan suasana di ruang tamu mereka.

Sabtu menjelang siang, Hasbi sedang menyusuri pinggir rel kereta sambil menggendong tas berwarna hitamnya. Tidak lama, ia berbelok menuju sebuah pemukiman. Saat memasuki pemukiman, ternyata di sana Hasbi sudah ditunggu dua bocah laki-laki. Mereka Firman dan Andi.

Hasbi tersenyum lalu keduanya datang dan bergantian mencium tangan Hasbi, “Yang lain di mana?” Tanya Hasbi.

“Nah itu, saya mau cerita ke Bapak,” ucap Firman.

Hasbi mendadak serius. “Ada apa?”

Firman menceritakan ke Hasbi; banyak anak yang tidak mau ikut lagi membantu proyek yang dikerjakan bersama Hasbi dengan alasan yang belum diketahui. Hasbi yang mendengar itu kaget lalu bertanya, “Sisa kamu berdua doang?”.

“Gimana ya, Pak? Sebagian ikut-ikutan yang gamau ikutan lagi,” jawab Firman.

“Betul tuh.” Andi menambahkan.

Lalu Hasbi mengajak mereka berdua menjemput teman-temannya untuk mengajak lagi ikut ke proyek yang sedang mereka kerjakan. Di perjalanan, mereka bertemu Ketua RT.

“Gimana Has? Lancar buat nanti?” tanya Pak RT.

“Alhamdulillah, Pak.”

“Ditunggu ya nanti hasilnya, bantu pemukiman ini.”

“InsyaAllah Pak, doakan saja.”

Pak RT membalas senyum lalu pergi. Mereka meneruskan perjalannya. Tiba di rumah Sapri, tidak terlihat ada aktivitas di sana, Suasananya sepi, rumahnya juga terkunci dari luar. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Intan. Dalam proyek ini, Hasbi mengajak 5 anak laki-laki dan 3 anak perempuan untuk melancarkan proyeknya.

Sampai di rumah Intan, Intan yang melihat kedatangan Hasbi dan dua temannya itu langsung berlari ke belakang rumahnya. Hasbi kaget melihatnya.

“Assalamualaikum,” ujar Hasbi.

Dari dalam, keluar Ibunya Intan, “Wallaikumsalam, eh Pak Hasbi,” ujarnya mempersilahkan mereka masuk.

“Intan ada Bu?”

“Ada Pak.” Ibunya berteriak memanggil Intan, namun, tidak ada respon, “Duh, nih anak kemana sih,” lalu Ibunya pergi ke belakang. Tidak lama, Intan datang dari belakang dan disambut kedua temannya lalu mencium tangan Hasbi.

“Kamu kenapa gak mau ikut lagi?” tanya Hasbi.

Intan diam, “Soalnya Nani sama Uli nggak ikutan lagi Pak, aku malu cewek sendirian,” ucapnya pelan.

“Ayo ikut lagi dong!” Ajak Andi dan Firman.

Mendengar itu, Hasbi menceritakan tentang pahlawan wanita Indonesia yang bisa menjadi pemimpin perang. Perasaan Intan tergugah saat mendengar cerita dari Hasbi, begitu juga Firman dan Andi yang menyimaknya serius.

“Intan bantuin Bapak lagi ya,” ajak Hasbi.

Intan masih saja diam, ingin menjawab namun, perasaanya masih malu dan tidak enak. Hasbi meyakinkan kembali. Akhirnya Intan mau ikut. Hasbi senang, begitu juga Firman dan Andi yang sumringah mendengar jawaban Intan.

Langit berwarna oranye, sore telah hadir. Hasbi berhasil mengumpulkan 5 anak-anak yang sebelumnya berjumlah 8. Mereka; Firman, Andi, Intan, Nani, dan Ridho. Mereka berlatih di tanah lapang dekat pemukiman, latihan berjalan lancar walau Hasbi terlihat pusing memikirkan solusi untuk mengisi celah kosong di dalam timnya.

Malamnya, di ruang tamu, Ratmi melihat suaminya berbeda, seperti badannya di rumah, tetapi jiwanya entah di mana. Ratmi menegurnya, “Gimana latihannya? Lancar?”

Hasbi yang kaget lalu menjawab dengan lemas, “Gitu deh.”

“Ungkapin aja.”

Hasil mengambil posisi siap, lalu bercerita bahwa sebagian anak-anak gamau ikut bantu proyek yang sedang Hasbi persiapkan, beberapa beralasan dilarang orang tuanya dan semacamnya. Padahal acaranya 2 hari lagi. Ratmi mendengar dengan serius, Hasbi melanjutkan bahwa takut tidak sempurna saat proyeknya dijalankan nanti. Merasa tidak enak dengan Pak RT. Karena saat meminta izin Pak RT, beliau sangat antusias mendengarnya. Sebab sudah 10 tahun tidak ada kegiatan apa-apa di daerahnya tersebut.

Ratmi diam lalu tangannya mengepal tangan Hasbi, “Percaya bahwa segalanya udah dipersiapkan yang indah sama Allah. Jangan takut, anak-anak pasti sangat bahagia jika sudah melihat hasil yang kamu buat,” Hasbi merespon dengan menyenderkan kepalanya ke sofa biru sambil melihat langit-langit, “Kamu sendiri, bahagia banget waktu melihat wajah cerianya anak-anak saat kamu jelasin proyeknya. Sayang, cerianya anak-anak itu bagai cerahnya langit yang luas. Semua yang melihat akan ikut ceria nantinya,” lanjut Ratmi.

Ternyata Hasbi sudah tertidur pulas di sofa, Ratmi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya itu.

Pagi-pagi, Hasbi sudah berangkat menuju tempat latihannya kemarin. Di sana, semuanya sudah berkumpul; anak-anak dan kumpulan ibu-ibu. Di luar dugaan, lapangannya mau dipakai ibu-ibu senam pagi bersama-sama.

“Gimana Pak?” tanya Andi ke Hasbi.

“Yaudah, tungguin sampai selesai.”

Mereka ber-enam duduk di pinggir lapangan, menyaksikan ibu-ibu bergerak penuh enerjik diiringi lagu-lagu khas yang di-remix.

Hasbi berfikir, daripada cuma duduk dan menonton ibu-ibu senam, lebih baik mereka juga ikutan senam, “Ikut senam aja yuk semuanya,” ajak Hasbi menuju lapangan tanpa menghiraukan respon anak-anak.

Saat di lapangan, Hasbi hanya sendiri. Anak-anak masih duduk di pinggiran. Tidak lama mereka menyusulnya satu persatu-satu; Intan, Andi,dan semuanya ikut berlari lalu mengikuti gerakan instruktur senam di depan. Ada yang sungguh-sungguh mengikuti gerakan senam, ada juga yang gerakannya asal-asalan.

Tiba-tiba hp Hasbi berbunyi, ada panggilan masuk dari Ratmi. Hasbi menjauhi kerumunan.

“Assalamualaikum, iya kenapa Yang?” Hasbi membuka obrolan dengan nafas terengah karena gerakan senam.

“Kamu lagi latihan sama anak-anak?”

“Nggak, lagi senam, kenapa?”

Ratmi menjelaskan sesuatu kepada Hasbi. Selesai Ratmi menjelaskan, Hasbi menutup telponnya dan memasuki lagi ke kerumunan senam.

Anak-anak duduk di pinggir lapangan, keringat membasahi tubuh mereka setelah mengikuti senam.

“Kalian ikut saya,” ajak Hasbi tiba-tiba yang membuat semuanya kaget.

“Kemana Pak?” tanya Intan.

“Ke rumah saya, istri saya sudah menyiapkan makanan buat kalian,” ujar Hasbi tersenyum.

Semua anak bersorak bahagia, Intan dan Uli mendekati  Hasbi, “Latihannya gimana Pak?”

“Di sana, cukup kok halaman saya. Sekalian ngomongin yang perlu disiapin besok.”

Lalu mereka semua berangkat ke rumah Hasbi.

“Assalamualaikum!!!” ucap semuanya.

Ratmi keluar dan mempersilahkan masuk. Di dalam, dia sudah menyiapkan hidangan untuk disantap anak-anak. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, anak-anak langsung mengambil makanannya

“Eh, tertib dong!” ujar Uli yang melihat anak laki-lakinya tidak beraturan, “Makasih ya Tante, udah repot-repot masak buat kita,” ujar Uli ke Ratmi.

“MAKASIH YA TANTE!!” Semuanya mengikuti.

“Iya sama-sama, diabisin ya makanannya.”

Semuanya lahap memakan masakan Ratmi, si Andi bahkan sampai nambah. Teman-temannya geleng-geleng melihat si Andi.

Andi yang melihat teman-temannya lalu berkata. “Kenapa? Laper tau abis senam.”

Hasbi dan Ratmi tertawa melihatnya.

Sekarang mereka sedang berlatih di depan rumah Hasbi. Ridho sudah siap berada di posisi, menunggu Hasbi memberikan aba-aba. Di sisi lain Andi dan Firman sudah siap di posisinya masing-masing sesuai perannya. Hasbi melambaikan tangan bertanda Firman menjalani perannya, berjalan mendekati Andi dan Firman membawa bambu yang ditegakkan. Lalu Uli dan Intan menyusul masuk berjejer pada barisan. Latihan berjalan lancar. Senyuman penuh hasil terlihat di Hasbi dan juga berdoa agar besok acaranya berjalan lancar.

Besoknya, Pagi, 17 Agustus. Semuanya sudah bersiap di rumah Andi memakai seragam sesuai peran yang mereka mainkan, Intan datang terlambat dan mengabari bahwa Uli tidak bisa ikut karena sakit. Semuanya yang mendengar kecewa, termasuk Hasbi.

“Jangan sedih, kita harus tetap memberikan yang maksimal. Kalo kita berhasil, Uli juga bangga nantinya,” sedikit motivasi dari Hasbi untuk menenangkan dan menyemangati anak-anak. Ratmi yang ternyata juga ada di situ, juga memberikan motivasi.

Waktunya tiba. Hasbi berkeliling pemukiman sambil menyalakan sirine, berharap mendapat perhatian warga dan bisa mengarahkannya ke lapangan. Rencananya berhasil, banyak warga berbondong-bondong pergi ke lapangan. Meski mereka tidak tau ada kejadian apa di sana.

Dirasa cukup keramaiannya, Hasbi memberikan aba-aba ke Firman dan Andi untuk datang ke lapangan. Lalu mereka berdua datang Andi berpakaian seperti Ir.Soekarno sedangkan Firman seperti Moh Hatta saat membacakan teks proklamasi waktu hari kemerdekaan, semua warga yang melihat mereka berdua; tertawa dan tepuk tangan.

Saat Hasbi melihat reaksi warga melihat Andi dan Firman. Tiba-tiba Intan datang ke dirinya, “Pak, saya malu kalo cewek sendiri,” ujar Intan pelan.

“Kenapa malu?”

Intan menunduk saja, tidak mau menjawab. Lalu sebuah tangan mendangakkan kepala Intan, “Nanti Tante temenin, mau,kan?” Ratmi membawa kabar baik untuk Intan.

Intan mengangguk senyum.

“Makasih ya, Sayang,” ucap Hasbi kepada Ratmi.

“Ehem,” Andi terlihat grogi dan warga tertawa melihatnya. Warga di sana antusias melihat acara seperti ini di pemukimannya, sebab seperti kata Pak RT, sudah 10 tahun tidak ada acara apa-apa saat tanggal 17 Agustus.

Kemudian Ridho berjalan ke lapangan membawa bendera yang sudah dikaitkan di sepotong bambu diikuti Intan dan Ratmi yang berdiri di belakang Ridho dan berhenti dihadapan Andi dan Firman.  Sudah di posisi masing-masing, Hasbi bergegas membawa mic untuk digunakan Andi.

“Kami, bangsa Indonesia,” Andi membacakan teks proklamasi, seketika warga khidmat mendengarkannya.

Hasbi terenyuh sekaligus haru melihat suasana ini. Impiannya sejak masih kuliah di jurusan Sastra Indonesia kini terwujud. Andi membacakan teks proklamasi dengan penuh penghayatan, di sampngnya, Firman juga berdiri penuh penghayatan.

“Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.” Andi menutup teks prokalamasi.

Selesai membaca teks proklamasi, Firman mengepalkan tangan dan mengangkatnya, “MERDEKA!” ucapnya penuh semangat membakar suasanya di sana.

“MERDEKAAAA!!” semua warga ikut berteriak..

Hasbi lalu memutar lagu Indonesia Raya, Intan dan Ratmi mulai menyanyikannya lalu semua warga mengikutinya sambil hormat kepada bendera merah putih yang dipegang tegak oleh Ridho.

“Terima kasih.” Pak RT yang tiba-tiba sudah di samping Hasbi.

“Sama-sama Pak, ini bukan semata untuk warga Bapak, tetapi juga untuk Indonesia tercinta,” ujar Hasbi.

Lalu Hasbi dan Pak RT hormat ke bendera dan ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.

Di pagi yang cerah, suasana di pemukiman itu terasa hidup lagi dari perang sepi yang menyelimuti.