Minggu, 21 Juni 2020

Terus Melihat Ke Depan, Rusa!


Selama pandemic, saya banyak menghabiskan waktu menonton video-video di youtube. Chanel National Geographic menjadi salah satu favorit saya. Chanel yang banyak berisi tentang kehidupan satwa di alam liar dan melihat bagaimana rantai makanan bekerja dengan sesungguhnya.

Aksi kejar-kejaran antara singa dan rusa menjadi pemuas indra penglihatan saya. Singa lebih sering saya lihat berhasil menerkam rusa dibanding rusa berhasil meloloskan diri dari si raja hutan. Lalu saya perhatikan kaki-kaki rusa lebih cepat bergerak dibanding kaki singa, di situ membuat saya bingung. Akhirnya saya googling dan berhasil menemukan fakta bahwa sebenarnya rusa lebih cepat berlari daripada singa. Kemudian apa penyebab rusa kalah saat meyelamatkan diri dari singa?

Faktor umur? Hmm.

Ternyata faktor yang membuat rusa mudah diterkam singa karena si rusa sering menoleh ke belakang saat berlari menghindari singa. Hal itu membuat rusa merasa singa semakin dekat dengannya dan akhirnya benar-benar dekat sehingga singa bisa menerkam rusa. Hmm, bukannya kalo udah dekat tuh bisa jadian ya? Ohh tidak seperti itu konsepnya, Mukhlis. Lagipula banyak juga yang udah deket, tetapi gak jadian, hehe. Hush! Ngelantur aja nih.

Kejadian di atas bisa dicerminkan dalam kehidupan. Banyak dari kita yang masih suka menoleh ke belakang saat sedang fokus menekuni sesuatu, mengingat kegagalan di masa lalu yang semestinya tidak perlu kamu ingat. Memang gak mudah untuk melupakannya, tetapi kalo kamu terus menoleh, jadinya kamu tidak pernah fokus untuk berlari, hanya fokus untuk menoleh.

Saat kamu berlari, teruslah berlari, jangan coba untuk menoleh ke belakang. Fokus dengan apa yang kamu lihat, bukan apa yang mau kamu lihat. Sebab banyak kegagalan tercipta karena hal-hal yang tidak perlu kita pikirkan jadi ikut dipikirkan, membuat beban kerja otak kita bertambah.

Rusa juga tidak menyadari bahwa larinya lebih cepat daripada singa, sebab dia tidak fokus untuk memaksimalkan kemampuannya. Manusia juga sama, terkadang tidak sadar mempunyai kelebihan karena dihantui rasa cemas yang berlebihan. Mulai sekarang, ubah rasa cemas itu menjadi rasa puas. Puas karena kamu bisa bertahan sampai di titik ini, puas karena sebenarnya kamu itu hebat lebih dari apa yang kamu tahu.

Maka, jangan pernah lelah berlari dan selalu melihat ke depan, rusa!

Kamis, 18 Juni 2020

Dieng; untuk yang pertama


Sebelum mengetik ini, gua baru saja menghabiskan 1 porsi ceker mercon pedas. Padahal tadi pagi sudah 4x bolak-balik kamar mandi karena mencret. Apakah ini yang dinamakan seni melukai diri?

Perjalanan ini terjadi saat masih SMK tahun 2015, gua sekolah di salah satu SMK di Kota Bekasi jurusan TP4 (Teknik Produksi Penyiaran Program Pertelevisian). Beberapa teman gua menyebutnya Teknik Pergi Pagi Pulang Pagi karena kerjaannya yang lembur terus. Buat yang belum tau jobdesk TP4 biasanya bikin film,iklan, dan lain-lain.

Siang-siang lagi di kelas, tiba-tiba gua disuruh ke RKB (studio tempat praktek). “Sini lu duduk,” ucap Uwa saat gue masuk RKB. Doi Kepala Program jurusan di sekolah, biasa dipanggil Uwa sama murid-muridnya. Ternyata bukan gue aja yang dipanggil, ada Dini sesama kelas 11 dan kaka kelas anak 12 TP4-1. Awalnya semua hening karena bingung kenapa dikumpulin, singkatnya Uwa ngumumin kalo satu film kaka kelas masuk nominasi di Festival Film Dieng 2014, semua mengucap syukur karena ini film pertama mereka yang masuk nominasi Festival Film tingkat nasional.

Kenapa ada gue dan Dini di situ? Kebetula kita membantu proses pembuatan filmnya. Tebak gue jadi apa? Yak betul sekali! Gue dan Dini membantu sebagai pemeran utama di film tersebut. Saat diumumin masuk nominasi, gua berujar dalam hati, “Akting gue oke juga ya,” sambil membandingkan diri ini dengan Iko Uwais. Walaupun sekarang kalo gua tonton ulang filmnya bikin gua ketawa-ketawa sendiri. Buat yang mau tau, gua memerankan film dengan judul “Gw gak liat itu lo kok”, bagus kan judulnya?

Sebenernya gua gak diajak ke Dieng, hahahahaha karena undangan buat crew filmnya. Tetapi gua kepikiran buat minta ikut, anjir apeng banget lah pokoknya. Dieng coy!  terakhir gua bepergian jauh waktu perpisahan SMP ke Yogyakarta, jadi kapan lagi ye kan? Beberapa hari kemudian gua dateng ke Uwa buat minta ikut ke Dieng, awalnya Uwa mikir lama tuh, “Yah kagak boleh dah,” pikir gua. Eh ternyata dibolehin, seneng banget pokoknya bisa pergi jauh, apalagi ini datang karena undangan masuk nominasi film (walau akomodasi tetep bayar sendiri) ya tapi seneng lah hahahaha.

Hari keberangkatan, kita semua berangkat dari komsen dan ternyata ada Pak Khusni (guru sejarah) juga ikut. Total sekitar kurang dari 20 orang yang ikut (termasuk Uwa dan Pak Khusni). Kita berangkat ba’da maghrib. Di perjalanan tidak ada yang mengejutkan, kecuali Bang Abdul  iseng memotret teman-temannya yang sedang tidur di kursi bus. Darimana gua tau? Karena gua salah satu korban keisengannya.
Kita sempat berhenti di sebuah tempat untuk makan malam, lalu melanjutkan perjalanan. Adzan subuh menyambut kita di pemberhentian pertama, katanya ini belum sampai di Dieng. Gua bersama yang lain duduk diam melihat sekitar, suasana berbeda kita rasakan di sini; adem dan tenang tidak seperti di Bekasi. Uwa memanggil kita untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Katanya, kita dari sini naik mobil lagi untuk sampai menuju Dieng yang memakan waktu sekitar 2jam-an.

Mata gua dimanjakan sama pemandangan di sana, betapa besarnya kuasa Allah yang mampu melukis dengan indah ini semua. Sayangnya kita gak bisa berhenti sejenak buat foto-foto gitu karena ada beberapa warga di dalam mobil. Padahal moment banget, di Bekasi gak ada yang beginian coy! Beton semua hahaha.

“Sudah sampai di Dieng,” ujar supir kepada kita semua. Saat turun dari mobil, Dieng menyambut kita dengan dinginnya dia. Gua gatau suhunya berapa, tetapi udah pakai jaket parka dan tracktop dinginnya masih terasa sampai kulit. Namun, dinginnya Dieng dikalahkan oleh takjubnya pemandangan di sekeliling Dieng, sekali lagi gua memuji lukisan Allah yang sangat indah dipandang oleh kedua mata gua. Berjalan sebentar, gua langsung minta difotokan di spanduk bertuliskan “DIENG CULTURE FESTIVAL V” bersama Rangga. Masing-masing sibuk berfoto ria, tetapi kita semua tidak lupa tujuan datang ke sini. Beberapa teman ada yang mencari informasi tempat untuk acara penganugerahan Festival Film Dieng.

Informasi tempat acara sudah kita dapat, lalu pergi ke sana. Di tengah perjalanan kita melihat beberapa susunan candi lalu berhenti buat berfoto-foto lagi. Namanya juga baru pertama kali kan, jadi sayang aja kalo dilewatin. Lanjut, kita registrasi lalu disuruh masuk ke dalam sebuah ruangan seperti teater. Ohiya, tempat acaranya itu kaya sebuah museum karena diisi barang-barang bersejarah. Karena acaranya masih lama, jadi sebagian dari kita ada yang pergi ke luar dan ada yang keliling museum itu.

Alamdulillah, acara telah selesai. Namun, kita belum bisa pulang bawa piala. Ya gapapa, nanti bisa bikin lebih bagus lagi, semoga. Bagi gua sih kepuasan tersendiri bisa ke Dieng gara-gara bikin film. Sisa waktu yang ada sebelum malam kita habiskan untuk berkeliling di daerah DCF. Sekadar makan, foto-foto, dan beli pernak-pernik khas Dieng.

Langi gelap ingin menyelimuti Dieng. Sementara itu kita semua sudah bersiap, bersiap ke mana? Karena rumah Pak Khusni dekat dari Dieng, kita semua diizinkan untuk beristirahat di rumahnya sembari melepas penat. Ini yang dinamakan rezeki selalu datang di waktu yang tepat. Perjalanan ke rumah Pak Khusni sekitar 2 jam menaiki angkutan umum yang kita carter khusus rombongan kita.
Sampai di rumah Pak Khusni malam sekitar Isya, kita langsung disambut oleh keluarga Pak Khusni, Pak khusni juga melepas kangennya dengan keluarga di sana. Setelah rehat sebentar, tenyata kita udah disiapkan makan malam oleh keluarga Pak Khusni, sungguh beruntungnya kita semua yang mungkin bawa uang secukupnya untuk perjalanan ini.

Gua terbangun tengah malam, melihat teman-teman tidurnya pada ngampar lalu gua menoleh ke luar rumah. Emang beda banget ya feel yang gua dapet saat di rumah, di sini tuh  adem, tenang dan pasti dingin. Eh kayanya yang tadi gua sebut juga bisa di rasain di rumah gue, tetapi pokoknya beda lah, kalian pasti paham lah ya.

Kita dibangunkan Uwa untuk melaksanakan salat subuh, airnya dingin banget waktu gue ambil wudhu. Bikin mikir nanti mandi atau enggak hahaha. Selepas salat, udah banyak yang di luar buat nikmatin suasana di pedesaan yang asri. Gua gak bisa mendeskripsikan suasana di sana, pokoknya pagi yang berbeda dari yang selalu gua rasain di Bekasi. Ah, pengen punya kampung jadinya, maklum anak Betawi saudaranya beda RT doang, hehe.

Persiapan untuk pulang sudah siap, kita mengucapkan pamit dan banyak terima kasih ke keluarga Pak Khusni karena diizinkan menginap di rumahnya. Kita pulang menaiki bus lagi, meninggalkan Dieng dan sekitarnya menuju Bekasi untuk menimba ilmu kembali. Walaupun gagal membawa pulang kemenangan, tetapi keinginan untuk menciptakan karya yang lebih selalu tertanam dalam pikiran. Kalo gagal, coba lagi, selamat tinggal Dieng!

Minggu, 07 Juni 2020

Malam Final (lagi) di Bekasi


Sabtu, 1 Juni 2019
Sebagai supporter Liverpool, ini Final UCL ke-3 Liverpool yang bisa saya saksikan secara sadar. Sebelumnya tahun 2018 Liverpool juga berhasil masuk Final, tapi sayang mereka kalah dengan Real Madrid yang berhasil merengkuh trophy liga champions ke-13. Saya tidak mau mengingat pertandingan itu, males. Tapi saya ingat waktu nobar kerjaan saya menahan emosi para supporter Liverpool yang terprovokasi ulah  “oknum” di barisan supporter Real Madrid dan menangis saat pertandingan berakhir, perih.

Pagi itu saya mengecek akun Instagram Bigreds Bekasi untuk mengetahui lokasi nobar nanti malam. Ternyata tempatnya tidak jauh dari lokasi nobar Final tahun lalu. Jika tahun lalu di Gor Bekasi, maka nanti malam di Rooftop parkir Stadion Patriot. Tiba-tiba mata saya terfokus pada satu unggahan foto mereka, foto tersebut menggambarkan terbentang spanduk di jalan Ahmad Yani di sisi luar JPO bertuliskan MAKE US DREAM dengan logo Livebird. Penuh bangga, akhirnya saya save lalu mengunggahnya di platform Instagram.

Malam telah menyelimuti bumi bagian Indonesia. Saya baru tersadar belum ada teman untuk berangkat nobar ke sana. Iseng juga kalo berangkat sendirian pikir saya. Akhirnya saya menghubungi beberapa teman The Reds Pondok Gede, Si Dichi gabisa ikut karena udah mudik (jadwalnya berdekatan Idul Fitri), Bang Berland nobar di Bandung, dan Fuad yang gak nobar. Saya mengingat siapa lagi teman-teman nobar saya. Kemudian saya inget Bang Rata, saya hubungin via Instagram bertanya mau nobar atau enggak, kabar baik! Ternyata dia mau nobar dan belum ada barengan ke sana.
Kami memutuskan berangkat jam 11 malam waktu itu, biar gak nunggu lama di venue nanti. Di perjalanan, ternyata Bang Tama (teman The Reds) menunggu kami di pengkolan, finally, kita bertiga berangkat menuju venue.

Sampai di sana, kita langsung naik ke rooftop. Sebelumnya saya menghubungi Bang Ined (teman The Reds) untuk menjemput kami di pintu masuk menuju venue, kebetulan juga dia mengisi acara di situ. Kita bertemu lalu tegur sapa dan diantarkan Bang Ined menuju venue.

PADAT! Kesan pertama saat memasuki rooftop, manusia menghampar di mana-mana, hampir semua berbalut jersey merah, warna khas Liverpool FC. Di dinding rooftop terbentang banyak bendera dan spanduk bertema LFC. Saya menghirup bau-bau optimis diantara kerumunan ini, bismillah. Langkah saya berhenti karena merasakan sesuatu. “waduh,” ucap saya, ketika merasakan gempa kecil di sini, alasnya bergetar saat semuanya sedang berjoget bersama Feel Koplo waktu itu. Dalam hati, saya berdoa agar tidak terjadi apa-apa nanti. Ngeri juga lagi nobar tiba-tiba bangunannya roboh.

Minggu, 2 Juni 2019
Terlihat di layar besar para pemain memasuki lapangan, supporter Liverpool yang ada di dalam stadion, di tempat nobar, dan dimanapun mereka berada berdoa agar Liverpool dapat menang malam ini, bawa pulang piala, lalu berpesta.

Kick off!

“YESSSSSSS!!!!!” semua bersorak. Belum satu menit pertandingan berjalan, Liverpool dihadiahi tendangan pinalti oleh wasit karena Sissoko melakukan handsball di kotak 16 pas. Mo Salah menjadi algojo bersiap-siap mengeksekusi pinalti, semua supporter harap-harap cemas menunggu Salah melakukannya. “YEAYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY” semua orang bergembira di rooftop, Mo Salah berhasil mencetak goal. “Mo Salah, Mo Salah, Mo Salah, Running down the wing, Salahhhhhhhh la la la la, the Egyptian King,” chants Mo Salah didengungkan seisi rooftop, kita semua berjoget dan melompat merayakan goal pertama Liverpool. Mo Salah menjadi orang Mesir pertama yang mencetak gol di final UCL.

“PRITTTTT” bunyi peluit babak pertama telah selesai.

          Karena ini masih di bulan puasa, saya langsung pergi ke food court untuk membeli makan buat santap sahur. Saat mencari makan, saya bertemu dengan 2 teman saya waktu SMK (Roby & Kholiq) dan guru SMK saya (Pak Eko). Setelah makan, saya balik ke tempat semula, di sana sudah ramai teman-teman nobar saya yang sudah lama gak ketemu. Bang Jaenk, Bang Pandji, Bang Giant, dan masih banyak lainnya. Kenapa Abang semua manggilnya? Kebetulan saya paling muda bersama si Dichi Cablut diantara teman The Reds Pondok Gede . Gara-gara Liverpool kita semua bisa bertemu dan berkumpul lagi. Menghabiskan jeda babak pertama sambil bernostalgia sewaktu nobar bersama-sama dulu. Mulai dari kegilaan saat awaydays ke tim rival dan kebiasaan after match yang selalu rutin dilakukan.

“PRITTTTTTTT” bunyi peluit tanda babak kedua dimulai.

      Semua orang fokus menatap layar lebar sambil berdoa Liverpool tidak kejebolan bahkan menambah keunggulan. Beberapa kali kami dibuat senam jantung karena serangan dari pemain Hotspur, beruntung Liverpool mempunyai pemain belakang tangguh yang siap menghadang serangan dari Hotspur. Sorai-sorai chants tetap bergemuruh sebagai bentuk keoptimisan kita semua. Sampai di menit 87, berawal dari corner kick James Milner, bola berhasil dihalau pemain belakang Hotspur, lalu bola liar di udara diperebutkan sampai Matip berhasil memberi umpan pendek ke Origi, Origi menahan bola lalu menendang ke arah gawang. “YEAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!” bola berhasil masuk ke gawang Hotspur untuk kedua kalinya. Saya yang menyaksikan gol itu langsung memeluk teman-teman sambil menangis. Semua bersorak lebih keras lagi di rooftop, alas rooftop bergetar, tetapi saya tidak peduli, bodoamat roboh, kita harus merayakannya. Pyro dinyalakan di beberapa titik sudut, semua bernyanyi, dan berjoget. Kita semua menyanyikan chants “Allez Allez Allez”,  saya masih merinding jika membayangkan lagi waktu itu.

           Babak kedua selesai, YES! LIVERPOOL JUARA UCL KE-6. Meninggalkan perolehan trophy UCL Barcelona, Muenchen, dan hmmmm emyubutut. Banyak sebagian dari supporter Liverpool yang menangis, suasana haru bercampur dengan rasa bangga. Bertahun-tahun Liverpool jadi penonton UCL. Sekarang kita bisa merasakan euforia juara lagi, setelah terakhir Liverpool juara di Carling “Mickey Mouse” Cup tahun 2012. Chants Allez Allez Allez, Campione, dan lainnya menggema di rooftop mengisi luasnya langit Bekasi Subuh itu. Semua bahagia, berpesta, dan merayakan momen yang ada. Saya berfoto bersama teman-teman The Reds Pondok Gede sambil berdoa tahun besok Liverpool bisa back to back juara UCL.

               Saya menelusuri jalan Ahmad Yani dengan perasaan yang gak bisa diutarakan, semua yang terjadi tadi akan selalu terekam dalam ingatan. Kebanggaan yang selalu terbenam di dada, kesetiaan yang terus mengakar sampai di jiwa. Selamat Liverpool, LETS TALK ABOUT SIX TIMES!

Victory for the moment, pride is forever.

NB: Tahun berikutnya Liverpool gagal mempertahankan piala UCL karena kalah dari Atletico Madrid di fase 16 besar. Namun, trophy Premier League telah menunggu diangkat Liverpool tahun ini, 19 Times!

Senin, 01 Juni 2020

Mengungkapkan


Kenapa ya mengungkapkan itu bukan hal yang mudah? Ohiya, sebelumnya ini tulisan pertama gue dari sekian lama cuma bikin kata-kata di pesan whatsapp. Mohon doanya biar gua bisa konsisten dalam hal menulis, aamiin.

Lanjut ke topik, Kenapa sulit untuk mengungkapkan? Terutama tentang perasaan, padahal tinggal ngomong lohhh, ngomong gitu hahaha.

Perlu gua akuin, gua sendiri juga masih sulit mengungkapkan sesuatu dalam kondisi tertentu. Kaya kita tuh udah takut duluan sebelum ngomong, terutama takut dengan respon si pendengarnya sih.

Tingkat Keberanian orang-kan beda-beda ya untuk ngungkapin, butuh bukti? Salah satunya mereka yang sudah lama sahabatan tapi diem-diem menyimpan perasaan sayang, yang satu gamau ngungkapin karena takut merusak persahabatan, padahal yang satu lagi selalu bergumam. “Lu kapan pekanya sihh???” hahaha, atau adek kelas yang suka sama kaka kelas, malu buat ngungkapin karena takutnya nanti dapet respon yang buruk. Bahkan banyak juga yang baru pertama ketemu langsung ungkapin perasaan sayang, wow, ajaib sekali bukan?

Selain mengungkapkan yang berkaitan dengan hal asmara, masih banyak juga yang susah mengungkapkan dalam lingkungan keluarga. Padahal kan keluarga tempat kita berkeluh kesah ya (eh iya gak sih?) tetapi, banyak yang masih sungkan buat cerita karena takut, bahkan sangat takut sampai semuanya dipendam.

Gak bisa kita kesampingkan juga, ada yang sulit mengungkapkan itu berdampak positif. Mengurangi keributan bisa jadi contoh, lah ya, kalo ada orang jujur terus yang denger gak terima sama kejujurannya, bisa jadi timbul perselisihan. Mungkin kalian pernah ngalamain kejadian dari kalimat sebelum ini.

Balik lagi sebenernya, tujuan kita mengungkapkan perasaan ini buat apa? Bikin lega atau berharap balasan yang kita mau? Kalo tujuannya yang pertama mungkin bodoamat kali ya, yang penting lega aja gitu, persetan dengan respon. Nah, yang kedua ini bisa bikin down kalo gak sesuai, apalagi kalo ngarepnya udah ketinggian, yhaaa…

Apapun yang sedang kamu pikirin sekarang, kondisimu yang tidak sedang bagaimana, semoga kita semua punya keberanian untuk mengungkapkannya sebelum telat, sebab tidak ada yang tau 3 detik kemudian akan terjadi apa dengan diri kita, dan semua yang ada. Kita bisa mampu mengendalikan apa yang mau kita ucap, sebab mulut bisa jadi madu yang manis ataupun racun yang sangat pahit. Tetap jaga kesehatan dan selau ciptakan kebahagiaan, dadah!