Sebelum mengetik ini, gua baru
saja menghabiskan 1 porsi ceker mercon pedas. Padahal tadi pagi sudah 4x bolak-balik
kamar mandi karena mencret. Apakah ini yang dinamakan seni melukai diri?
Perjalanan ini terjadi saat masih
SMK tahun 2015, gua sekolah di salah satu SMK di Kota Bekasi jurusan TP4 (Teknik
Produksi Penyiaran Program Pertelevisian). Beberapa teman gua menyebutnya Teknik
Pergi Pagi Pulang Pagi karena kerjaannya yang lembur terus. Buat yang belum tau
jobdesk TP4 biasanya bikin film,iklan, dan lain-lain.
Siang-siang lagi di kelas, tiba-tiba
gua disuruh ke RKB (studio tempat praktek). “Sini lu duduk,” ucap Uwa saat gue
masuk RKB. Doi Kepala Program jurusan di sekolah, biasa dipanggil Uwa sama
murid-muridnya. Ternyata bukan gue aja yang dipanggil, ada Dini sesama kelas 11
dan kaka kelas anak 12 TP4-1. Awalnya semua hening karena bingung kenapa
dikumpulin, singkatnya Uwa ngumumin kalo satu film kaka kelas masuk nominasi di
Festival Film Dieng 2014, semua mengucap syukur karena ini film pertama mereka yang
masuk nominasi Festival Film tingkat nasional.
Kenapa ada gue dan Dini di situ? Kebetula
kita membantu proses pembuatan filmnya. Tebak gue jadi apa? Yak betul sekali! Gue
dan Dini membantu sebagai pemeran utama di film tersebut. Saat diumumin masuk
nominasi, gua berujar dalam hati, “Akting gue oke juga ya,” sambil
membandingkan diri ini dengan Iko Uwais. Walaupun sekarang kalo gua tonton
ulang filmnya bikin gua ketawa-ketawa sendiri. Buat yang mau tau, gua
memerankan film dengan judul “Gw gak liat itu lo kok”, bagus kan judulnya?
Sebenernya gua gak diajak ke Dieng,
hahahahaha karena undangan buat crew filmnya. Tetapi gua kepikiran buat minta
ikut, anjir apeng banget lah pokoknya. Dieng coy! terakhir gua bepergian jauh waktu perpisahan SMP
ke Yogyakarta, jadi kapan lagi ye kan? Beberapa hari kemudian gua dateng ke Uwa
buat minta ikut ke Dieng, awalnya Uwa mikir lama tuh, “Yah kagak boleh dah,”
pikir gua. Eh ternyata dibolehin, seneng banget pokoknya bisa pergi jauh, apalagi
ini datang karena undangan masuk nominasi film (walau akomodasi tetep bayar
sendiri) ya tapi seneng lah hahahaha.
Hari keberangkatan, kita semua
berangkat dari komsen dan ternyata ada Pak Khusni (guru sejarah) juga ikut. Total
sekitar kurang dari 20 orang yang ikut (termasuk Uwa dan Pak Khusni). Kita
berangkat ba’da maghrib. Di perjalanan tidak ada yang mengejutkan, kecuali Bang
Abdul iseng memotret teman-temannya yang
sedang tidur di kursi bus. Darimana gua tau? Karena gua salah satu korban
keisengannya.
Kita sempat berhenti di sebuah
tempat untuk makan malam, lalu melanjutkan perjalanan. Adzan subuh menyambut
kita di pemberhentian pertama, katanya ini belum sampai di Dieng. Gua bersama
yang lain duduk diam melihat sekitar, suasana berbeda kita rasakan di sini;
adem dan tenang tidak seperti di Bekasi. Uwa memanggil kita untuk sarapan terlebih
dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Katanya, kita dari sini naik mobil lagi
untuk sampai menuju Dieng yang memakan waktu sekitar 2jam-an.
Mata gua dimanjakan sama
pemandangan di sana, betapa besarnya kuasa Allah yang mampu melukis dengan
indah ini semua. Sayangnya kita gak bisa berhenti sejenak buat foto-foto gitu
karena ada beberapa warga di dalam mobil. Padahal moment banget, di Bekasi gak
ada yang beginian coy! Beton semua hahaha.
“Sudah sampai di Dieng,” ujar
supir kepada kita semua. Saat turun dari mobil, Dieng menyambut kita dengan
dinginnya dia. Gua gatau suhunya berapa, tetapi udah pakai jaket parka dan tracktop
dinginnya masih terasa sampai kulit. Namun, dinginnya Dieng dikalahkan oleh takjubnya
pemandangan di sekeliling Dieng, sekali lagi gua memuji lukisan Allah yang sangat
indah dipandang oleh kedua mata gua. Berjalan sebentar, gua langsung minta
difotokan di spanduk bertuliskan “DIENG CULTURE FESTIVAL V” bersama Rangga. Masing-masing
sibuk berfoto ria, tetapi kita semua tidak lupa tujuan datang ke sini. Beberapa
teman ada yang mencari informasi tempat untuk acara penganugerahan Festival
Film Dieng.
Informasi tempat acara sudah kita
dapat, lalu pergi ke sana. Di tengah perjalanan kita melihat beberapa susunan
candi lalu berhenti buat berfoto-foto lagi. Namanya juga baru pertama kali kan,
jadi sayang aja kalo dilewatin. Lanjut, kita registrasi lalu disuruh masuk ke
dalam sebuah ruangan seperti teater. Ohiya, tempat acaranya itu kaya sebuah
museum karena diisi barang-barang bersejarah. Karena acaranya masih lama, jadi
sebagian dari kita ada yang pergi ke luar dan ada yang keliling museum itu.
Alamdulillah, acara telah
selesai. Namun, kita belum bisa pulang bawa piala. Ya gapapa, nanti bisa bikin
lebih bagus lagi, semoga. Bagi gua sih kepuasan tersendiri bisa ke Dieng
gara-gara bikin film. Sisa waktu yang ada sebelum malam kita habiskan untuk
berkeliling di daerah DCF. Sekadar makan, foto-foto, dan beli pernak-pernik
khas Dieng.
Langi gelap ingin menyelimuti Dieng.
Sementara itu kita semua sudah bersiap, bersiap ke mana? Karena rumah Pak
Khusni dekat dari Dieng, kita semua diizinkan untuk beristirahat di rumahnya
sembari melepas penat. Ini yang dinamakan rezeki selalu datang di waktu yang
tepat. Perjalanan ke rumah Pak Khusni sekitar 2 jam menaiki angkutan umum yang
kita carter khusus rombongan kita.
Sampai di rumah Pak Khusni malam
sekitar Isya, kita langsung disambut oleh keluarga Pak Khusni, Pak khusni juga
melepas kangennya dengan keluarga di sana. Setelah rehat sebentar, tenyata kita
udah disiapkan makan malam oleh keluarga Pak Khusni, sungguh beruntungnya kita
semua yang mungkin bawa uang secukupnya untuk perjalanan ini.
Gua terbangun tengah malam, melihat
teman-teman tidurnya pada ngampar lalu gua menoleh ke luar rumah. Emang beda
banget ya feel yang gua dapet saat di rumah, di sini tuh adem, tenang dan pasti dingin. Eh kayanya yang
tadi gua sebut juga bisa di rasain di rumah gue, tetapi pokoknya beda lah, kalian
pasti paham lah ya.
Kita dibangunkan Uwa untuk melaksanakan
salat subuh, airnya dingin banget waktu gue ambil wudhu. Bikin mikir nanti
mandi atau enggak hahaha. Selepas salat, udah banyak yang di luar buat nikmatin
suasana di pedesaan yang asri. Gua gak bisa mendeskripsikan suasana di sana,
pokoknya pagi yang berbeda dari yang selalu gua rasain di Bekasi. Ah, pengen punya
kampung jadinya, maklum anak Betawi saudaranya beda RT doang, hehe.
Persiapan
untuk pulang sudah siap, kita mengucapkan pamit dan banyak terima kasih ke
keluarga Pak Khusni karena diizinkan menginap di rumahnya. Kita pulang menaiki
bus lagi, meninggalkan Dieng dan sekitarnya menuju Bekasi untuk menimba ilmu kembali.
Walaupun gagal membawa pulang kemenangan, tetapi keinginan untuk menciptakan
karya yang lebih selalu tertanam dalam pikiran. Kalo gagal, coba lagi, selamat
tinggal Dieng!