Chaddrik mematikan televisi dan membuang remotnya ke sofa. Dia bosan melihat semua saluran televisi menyiarkan berita tentang COVID-19. Sudah 2 minggu sejak COVID-19 berhasil memasuki Jerman, dia harus stay at home karena anjuran pemerintah di sana.
Chaddrik
Purnomo; mahasiswa keturunan Indonesia-Bosnia yang berkuliah di Universitas
Stuttgart; Fakultas Teknik Mesin. Di sini dia tinggal di sebuah apartemen.
Walaupun Stuttgart bukan menjadi kota dengan cases positive tertinggi di
Jerman, tetapi di sana juga menerima pembatasan dan penutupan perjalanan ke
luar negeri.
Kegiatan
sehari-hari yang biasa dia lakukan dengan menghabiskan waktu di kampus, kini
terpaksa dilakukan di ruang apartemennya yang bertipe studio dengan 1 kamar di
dalamnya. Perasaan bosan pelan-pelan menggerogoti pikiran Chaddrik.
“Hallo
Drik, kamu di mana?” tanya seorang wanita dari dalam layar hape Chaddrik.
Chaddrik
datang ke hadapan hape membawa segelas teh hangat. “Hallo Ma!! Aku abis bikin
teh hangat tadi.”
“Kok
rambutmu belum dicukur juga?” Tanya wanita yang juga Mama Chaddrik.
Chaddrik
menenggak teh hangatnya sebelum menjawab. “Aku belum berani untuk ke pangkas
rambut di sekitar sini. Biarin aja gondrong dulu, kabar Mama masih sehat kan?”
Mama
Chaddrik tersenyum dahulu sebelum menjawab pertanyaan anaknya. Video call
menjadi jembatan komunikasi diantara Mama dan Chaddrik yang terhalang jarak dan
benua. Saat pandemi seperti ini, Mama Chaddrik lebih sering menghubungi anaknya
dibandingkan sebelum pandemic. Sehari bisa 2 sampai 3 kali Mama menghubungi
Chaddrik untuk memastikan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah
video call bersama Mamanya. Chaddrik video call lagi bersama
teman-teman kampusnya. Chaddrik banyak bergaul dengan mahasiswa rantau yang sama
sepertinya. Dan sekarang nasib mereka juga sama semua, tidak bisa pulang dan terjebak
di kota Stuttgart.
“Sampai
jumpa…” ucap semua teman-teman Chaddrik juga dirinya lalu video call berakhir.
Chaddrik
menenggak teh hangatnya pagi ini hingga habis. Lalu berjalan ke luar balkon, menatap
apartemen kosong di sebrangnya dan langit Stuttgart yang biru. “Sampai kapan??”
ucapnya kepada langit Stuttgart seraya berdoa agar pandemi ini musnah dari muka
bumi.
Puas
menatap langit Stuttgart, Chaddrik masuk dan ingin membuat sarapan untuk dirinya.
Saat mengambil telur di kulkas, dia melihat stok makanan di kulkas sudah
menipis. Namun, dia menghiraukannya dahulu dan lanjut membuat sarapan. Satu telur
mata sapi yang dilapisi roti tawar jadi amunisinya untuk mengawali hari ini.
Lagu
“Wonderwall” dari Oasis mengisi ruang apartemen Chaddrik sambil dia mengisi
makanan ke dalam perutnya. Sebenernya Chaddrik sudah bingung ingin melakukan
kegiatan apa lagi selagi menunggu penerbangan ke Indonesia diperbolehkan.
Karena peraturan di Jerman saat pandemi ini melarang warganya untuk bepergian bila
tidak ada kepentingan. Jika melanggar bisa didenda dengan nominal yang cukup
lumayan.
Waistbag
dikalungkang ke bahu, dengan sepatu hitam, bercelana pendek, dan memakai kaos
hitam yang dilapisi jaket berwarna army. Chaddrik siap pergi ke supermarket
untuk berbelanja stok makanan. Baru keluar sebentar dari pintu apartemennya,
dia kembali lagi untuk mengambil masker yang tertinggal.
“Untung
aja inget.”
Chaddrik
berjalan menuju supermarket yang berjarak 10 menit dari apartemennya. Tidak ada
keramaian yang terlihat, hanya beberapa orang berjalan sendiri menggunakan
masker. Beberapa tempat makan di sekitar apartemennya juga tidak menyediakan
makan di tempat, semuannya memberlakukan take away.
Di
supermarket, Chaddrik tidak diperbolehkan masuk terlebih dahulu oleh satpam;
karena jumlah pengunjung yang sudah penuh. Terpaksa dia harus menunggu di depan
supermarket bersama beberapa pengunjung lainnya untuk bisa masuk. 5 menit
berlalu, akhirnya Chaddrik dan beberapa pengunjung lainnya diperbolehkan masuk.
Chaddrik
menenteng keranjang dan berjalan menuju rak telur. Setelah dari situ, dia
berjalan lagi mencari rak yang berisikan roti tawar dan beberapa buah-buahan.
Karena tidak fokus, dia menabrak seorang ibu yang sedang berdiri di depan rak
mie instan.
“Maap
Bu,” ucap Chaddrik.
“Oh
tentu, tidak apa-apa,” jawab Ibunya yang memakai kacamata hitam dan masker
putih.
“Terima
kasih. Semoga harinya menyenangkan, Bu.”
Ibunya
tersenyum. “Kau juga.”
Chaddrik
segera mengambil buah-buahan dan berjalan ke kasir untuk membayar. Sepulangnya
dari supermarket. Dia menata barang belanjaannya ke tempatnya masing-masing. Setelah
itu pergi ke kamar menyatukan tubuhnya dengan kasur lalu matanya pelan-pelan
terpejam.
Dua
minggu kemudian.
Janggut
Chaddrik semakin lebat dan sudah tersambung ke area jenggot, rambutnya pun juga.
“Mirip Pirlo nih,” ujarnya saat berkaca.
Tiga
hari yang lalu dia sudah memberanikan diri pergi ke pangkas rambut namun, nyalinya
menciut karena membaca berita di media yang berisikan tentang penularan COVID-19
dari petugas pangkas rambut.
Setelah
video call rutin bersama Mama di pagi hari. Chaddrik yang sedang meneguk
teh hangatnya dibuat fokus dengan kegiatan penghuni apartemen di sebrang
balkonnya. Terlihat seorang wanita sedang bolak-balik membawa kardus yang
diyakini Chaddrik berisikan barang pindahan.
“Eh
serius??” Chaddrik kaget saat melihat wanita itu mengeluarkan wayang kulit dari
dalam kardus pindahannya.
Masih
memegang gelas berisi teh, Chaddrik menuju arah balkon dan terus mengamati
aktivitas wanita itu. Selain wayang kulit, dia juga mengeluarkan; blangkon dan
beberapa lukisan.
Senyum
tipis muncul dari mulut Chaddrik, seperti keajaiban bisa bertemu sesama warga
Indonesia di sini, pikirnya.
“HEYYYYYYYY,”
teriak Chaddrik dari balkonnya mencoba berinteraksi dengan wanita di sebrang.
Wanita
itu tidak bergeming, tangannya tetap mengeluarkan barang-barang dari dalam
kardusnya.
“HALLLOO
MBAAAAA, KITA INDONESIAAAA!!!!” Chaddrik mencobanya lagi. Namun, juga gagal.
“Ngapain ya gua bawa-bawa Indonesia?” Lalu
Chaddrik tertawa.
Chaddrik
berteriak lagi sambil melambai-lambaikan tangannya.
Berjoget
poco-poco.
Goyang
Maumere.
Menggorok
lehernya.
Yang
terakhir tidak dilakukan Chaddrik.
Merasa
usahanya sia-sia, Chaddrik memutuskan kembali ke dalam apartemennya dan
melenyapkan tubuhnya ke kasur. Sebelumnya, wanita itu ke balkonnya dan melihat
Chaddrik berjalan memasuki apartemennya. Ternyata langit Stuttgart belum
merestui mereka untuk saling mengetahui.
Malamnya,
saat Chaddrik sedang berselancar di dunia maya. Wanita itu sedang melukis di
balkonnya. Chaddrik yang tidak sengaja menoleh ke luar dan melihatnya langsung
tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan.
Bulan
sedang bersinar malam itu, suasana sunyi dan angin yang terus berhembus membuat
kota Stuttgart lebih dingin dari biasanya. Chaddrik memegang pembatas balkon
lalu berteriak lagi ke arah wanita di sebrang yang sedang melukis.
Wanita
itu terlihat masih fokus dengan lukisan, tangannya terus menari di atas kanvas.
Bulan yang terang malam ini menjadikannya objek indah untuk dilukis.
Chaddrik
belum menyerah, tangannya melambai-lambai untuk membuyarkan fokus wanita di
sebrang. Dari balik canvas, wanita itu menoleh ke arah Chaddrik. Usahanya
berhasil!
Chaddrik
langsung berteriak. “Kamu orang Indonesia juga???” tanyanya. Bukan respon dari
wanita yang didapat, malah dari tetangga kamar apartemennya yang berteriak
untuk tidak berisik.
Tangan
si wanita menyingkirkan canvasnya dari pandangan, lalu memandang Chaddrik dari
balkonnya. Chaddrik mencoba terus berkomunikasi dengannya. Wanita itu menunjuk
ke dirinya sendiri memastikan Chaddrik mengajaknya berbicara.
Chaddrik
yang paham lalu berujar. “Iya, kamu,” sambil menujuk ke arah wanita.
Wanita
itu lalu merespon dengan menunjuk telinga lalu mulutnya diakhiri tangannya
bergerak ke kiri dan ke kanan seperti gestur “dadah”.
Chaddrik
melihatnya heran. “Kok malah dadah?”
Melihat
eskpresi Chaddrik heran, wanita itu memasuki balkon.
“Yah,
beneran dadah.”
Tiba-tiba
wanita itu keluar lagi dengan membawa kertas dan spidol. Tangannya menuliskan
sesuatu di secarik kertas lalu membentangkannya agar Chaddrik bisa membaca.
“Eh,”
Chaddrik kaget membaca kertas yang bertuliskan “Saya tuli.”
Chaddrik
langsung merespon dengan masuk ke apartnya dan keluar membawa secarik kertas
juga spidol. Chaddrik membentangkan kertas yang bertuliskan “Tidak apa-apa.
Nama saya Chaddrik.”
Lalu
wanita itu menuliskan namanya di kertas sambil tersenyum.
“Saya
Agatha”
Tulisnya
di secarik kertas.
Karena
malam makin larut, Chaddrik pamit tidur ke Agatha dengan bahasa isyarat yang
dibuat Chaddrik sendiri, Agatha yang mengerti maksudnya membalas tersenyum dan
melambaikan tangannya dan Chaddrik membalas.
Matanya
saling menatap terang bagai bulan yang sedang gagah-gagahnya menyinari kota
Stuttgart. Dinginnya kota Stuttgart malam itu juga terkalahkan hangatnya
perkenalan diantara Chaddrik dan Agatha.
Pukul
7 pagi, Chaddrik sudah duduk mengotak-atik laptop. Tangannya bergerak mengikuti
arahan video di laptop. Ternyata dia sedang belajar berbahasa isyarat. Sesuatu
hal baru yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya. Alasannya tidak lain
agar bisa lancar berkomunikasi dengan Agatha, tanpa perlu capek-capek menulis
di kertas lalu membentangkannya.
Hape
Chaddrik berdering, “kunjungan besuk” dari sang Mama.
“Hallo
Ma,” ucap Chaddrik yang aura bahagianya keluar.
Mamanya
yang sadar ada sesuatu yang beda dari Chaddrik lalu bertanya. “Ada apa nih?
Kayanya Mama liat kamu beda.”
Chaddrik
tertawa. “Aku semalam baru kenalan sama perempuan Mah, dia tinggal di apartemen
sebelah. Orang Indonesia juga.”
“Ohya?
Coba gimana ceritain.” Mamanya excited.
Chaddrik
menjelaskan kejadian semalam dari awalnya dia berusaha mengalihkan perhatian si
Agatha lalu saling berbalas pesan melalui secarik kertas yang dibentangkan.
Respon si Mama tersenyum dan sesekali tertawa mendengar penjelasan anaknya itu.
Si
Mama tidak ingin merusak kebahagiaan Chaddrik. Kebahagiaan yang sangat
dibutuhkan di masa pandemi seperti ini.
“Yaudah,
gondrong banget sih kamu. Nanti kalo udah sedikit reda pandeminya langsung
cukur ya. Jelek tau. Udah dulu ya Sayang. Jaga kesehatan. Dah!”
“Iya
Mah, Sayang Mamah juga.”
Obrolan
mereka selesai.
Agatha
sedang melukis di balkonnya, lalu dia menoleh karena merasa ada kehadiran seseorang.
Ternyata Chaddrik di sebrang sedang melambai-lambai ke arahnya. Lanjut si Chaddrik
mengangkat mangkuk berisikan mie yang sebelumnya ia masak dengan maksud
menawarkan Agatha makan. Agatha membalas dengan senyum dan anggukan kecil.
Chaddrik
yang sedang makan melihat Agatha menyingkirkan canvasnya lalu mengajak dia
berbicara bahasa isyarat. Chaddrik hanya diam karena tidak mengerti apa yang
disampaikan Agatha. Hasil belajar bahasa isyarat tadi pagi belum cukup memahami
bahasa isyarat yang digunakan Agatha.
Tiba-tiba
Chaddrik terpikirkan untuk memastikan Agatha juga keturunan Indonesia sama
sepertinya. Namun, Chaddrik masih bingung caranya.
“Gamungkin
deh,” ucapnya sambil melihat mangkuk mie. Dia berfikir untuk menambahkan nasi
di mie lalu dengan bangga menunjukkan ke Agatha. Karena makan mie pakai nasi
itu Indonesia banget!
Akhirnya
Chaddrik menggerakkan mulutnya pelan-pelan mengucapkan kata “sebentar”. Agatha
mengangguk tanda mengerti. Chaddrik masuk ke apart lalu mengotak-atik laptopnya.
Tidak lama Chaddrik keluar lagi dengan menunjukkan layar laptop ber-background
bendera merah putih.
Agatha
paham lalu masuk ke apartnya dan keluar membawa bendera merah putih. Saat
membentangkan bendera, Chaddrik merespon dengan bingung. Agatha lalu tersadar
bahwa dia membentangkan dengan posisi yang salah; putih di atas, merah di
bawah. Sambil tertawa, Agatha membenarkan posisi benderanya dan Chaddrik juga
tertawa. Akhirnya mereka berdua tertawa bersama dari balkonnya masing-masing.
Waktu
berlalu cepat seperti angin yang berhembus di hadapan mereka. Hari demi hari Chaddrik
terus mempelajari bahasa isyarat melalui internet. Begitu juga Agatha yang
tidak segan mengajari Chaddrik berbahasa isyarat dari kejauhan.
Lama
kelamaan Chaddrik memahami bahasa isyarat. Bahagia menyelimuti relung hatinya.
Bahagia karena bisa mengobrol dengan Agatha tanpa halangan. Walau sunyi
menemani obrolan mereka namun, mereka ramai didalam dunianya.
Sesekali
Agatha menunjukkan beberapa koleksinya yang dibawa dari Indonesia. Selain
melukis, Agatha juga suka tokoh pewayangan. Dia menjelaskan kesukaannya
tersebut di hadapan Chaddrik dari balkonnya. Chaddrik bertepuk tangan saat
Agatha selesai bercerita tentang kesukaannya.
“Aku
boleh ke apartemen kamu?” tanya Chaddrik saat mereka berdua asik mengobrol.
Agatha
menggelengkan kepalanya lalu dua tangannya dijejerkan, satu tangan bergerak
menjauh seperti menjaga jarak. Chaddrik mengerti maksudnya dan mengangguk
sambil tersenyum mengiyakan jawaban Agatha.
1
bulan 2 minggu berlalu.
Kondisi
pandemi yang sudah membaik di Jerman berimbas diperbolehkannya transportasi
udara kembali berjalan. Mama Chaddrik mengabari anaknya bahwa tiket pesawat
tujuan ke Indonesia sudah dipesan, walaupun keadaan pandemi di Indonesia belum
membaik Chaddrik harus tetap pulang agar bisa berkumpul bersama keluarganya.
“Aku
besok mau pulang ke Indonesia,” ucap Chaddrik ke Agatha melalui bahasa isyarat
pada malam hari.
“Kok
tiba-tiba?”
“Iya,
Mamaku sudah pesan tiketnya jauh-jauh hari. Dan baru dikabari kemarin.”
“Terus
kapan ke sini lagi?”
“Belum
tau, keluarga sudah menunggu di Indonesia.”
Agatha
terlihat sedih dan mengusap air mata.
Chaddrik
melihatnya. “Jangan sedih, nanti kita bisa bertemu lagi. Ohiya, nomor hape-mu
berapa? Nanti aku bisa telpon kamu dari Indonesia.”
Lalu
Agatha menyebutkan nomor hape dengan menggunakan jari. Setelah itu mereka
saling berpamitan dan memasuki apartemennya masing-masing ditemani dinginnya
malam itu.
Agatha,
sebelum kamu membaca keseluruhan suratnya. Aku mau kamu tersenyum dulu di depan
pesanku ini. Karena senyummu mampu menentramkan suasana di sekitarmu termasuk;
aku yang bisa merasakan damainya dari sini.
Aku
berterima kasih ke kamu karena mau menjadi teman baikku. Sebelum melihatmu
beres-beres kardus di pagi itu, waktu berjalan begitu lama bagiku. Namun, sejak
mengenalmu; aku tidak merasakannya lagi. Ajaibnya sang waktu bergulir cepat
sampai aku mau memberhentikannya di saat kita sedang berbicara bersama.
Awalnya
saat kita berkenalan, aku ingin meminta nomor hape kamu, tetapi kuurungkan
karena melihat kamu yang berbeda dari yang lain. Aku mau berbicara denganmu
secara langsung tanpa ada teknologi yang memudahkan itu semua.
Kamu
pernah bilang bahwa dirimu tidak sempurna. Kamu salah, Tha. Kamu itu sempurna
karena ketidaksempurnaan kamu. Aku banyak belajar dari kamu, obrolan-obrolan
kita, dan segalanya yang kamu bilang sebagai ketidaksempurnaan kamu
Maaf
jika aku mendadak mengabari kepergianku, tetapi ini yang harus aku dan kamu
terima. Kita tidak akan pernah jauh. Dan kamu jadi orang pertama yang
kuceritakan saat sampai di Indonesia; tanah air kita.
Terima
kasih, Agatha.
Di
pagi yang cerah nan sunyi. Tidak ada air mata yang keluar dari mata Agatha setelah
membaca pesan Chaddrik.
Agatha
tersenyum dan memandang apartemen di sebrang balkonnya; tidak berpenghuni namun,
ramai dalam ingatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar