Sabtu, 1
Juni 2019
Sebagai supporter Liverpool, ini
Final UCL ke-3 Liverpool yang bisa saya saksikan secara sadar. Sebelumnya tahun
2018 Liverpool juga berhasil masuk Final, tapi sayang mereka kalah dengan Real
Madrid yang berhasil merengkuh trophy liga champions ke-13. Saya tidak mau
mengingat pertandingan itu, males. Tapi saya ingat waktu nobar kerjaan saya
menahan emosi para supporter Liverpool yang terprovokasi ulah “oknum” di barisan supporter Real Madrid dan
menangis saat pertandingan berakhir, perih.
Pagi itu saya mengecek akun Instagram
Bigreds Bekasi untuk mengetahui lokasi nobar nanti malam. Ternyata tempatnya
tidak jauh dari lokasi nobar Final tahun lalu. Jika tahun lalu di Gor Bekasi, maka
nanti malam di Rooftop parkir Stadion Patriot. Tiba-tiba mata saya terfokus
pada satu unggahan foto mereka, foto tersebut menggambarkan terbentang spanduk di
jalan Ahmad Yani di sisi luar JPO bertuliskan “MAKE US DREAM” dengan
logo Livebird. Penuh bangga, akhirnya saya save lalu mengunggahnya di platform
Instagram.
Malam telah menyelimuti bumi bagian
Indonesia. Saya baru tersadar belum ada teman untuk berangkat nobar ke sana. Iseng
juga kalo berangkat sendirian pikir saya. Akhirnya saya menghubungi beberapa teman
The Reds Pondok Gede, Si Dichi gabisa ikut karena udah mudik (jadwalnya
berdekatan Idul Fitri), Bang Berland nobar di Bandung, dan Fuad yang gak nobar.
Saya mengingat siapa lagi teman-teman nobar saya. Kemudian saya inget Bang
Rata, saya hubungin via Instagram bertanya mau nobar atau enggak, kabar baik! Ternyata
dia mau nobar dan belum ada barengan ke sana.
Kami memutuskan berangkat jam 11
malam waktu itu, biar gak nunggu lama di venue nanti. Di perjalanan, ternyata
Bang Tama (teman The Reds) menunggu kami di pengkolan, finally, kita
bertiga berangkat menuju venue.
Sampai di sana, kita langsung naik ke
rooftop. Sebelumnya saya menghubungi Bang Ined (teman The Reds) untuk
menjemput kami di pintu masuk menuju venue, kebetulan juga dia mengisi
acara di situ. Kita bertemu lalu tegur sapa dan diantarkan Bang Ined menuju venue.
PADAT! Kesan pertama saat memasuki rooftop,
manusia menghampar di mana-mana, hampir semua berbalut jersey merah, warna khas
Liverpool FC. Di dinding rooftop terbentang banyak bendera dan spanduk bertema
LFC. Saya menghirup bau-bau optimis diantara kerumunan ini, bismillah. Langkah
saya berhenti karena merasakan sesuatu. “waduh,” ucap saya, ketika merasakan
gempa kecil di sini, alasnya bergetar saat semuanya sedang berjoget bersama
Feel Koplo waktu itu. Dalam hati, saya berdoa agar tidak terjadi apa-apa nanti.
Ngeri juga lagi nobar tiba-tiba bangunannya roboh.
Minggu, 2 Juni 2019
Terlihat di layar besar para pemain
memasuki lapangan, supporter Liverpool yang ada di dalam stadion, di tempat
nobar, dan dimanapun mereka berada berdoa agar Liverpool dapat menang malam
ini, bawa pulang piala, lalu berpesta.
Kick off!
“YESSSSSSS!!!!!” semua bersorak.
Belum satu menit pertandingan berjalan, Liverpool dihadiahi tendangan pinalti oleh
wasit karena Sissoko melakukan handsball di kotak 16 pas. Mo Salah menjadi algojo
bersiap-siap mengeksekusi pinalti, semua supporter harap-harap cemas menunggu
Salah melakukannya. “YEAYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY” semua orang bergembira di
rooftop, Mo Salah berhasil mencetak goal. “Mo Salah, Mo Salah, Mo Salah, Running
down the wing, Salahhhhhhhh la la la la, the Egyptian King,” chants Mo
Salah didengungkan seisi rooftop, kita semua berjoget dan melompat merayakan
goal pertama Liverpool. Mo Salah menjadi orang Mesir pertama yang mencetak gol
di final UCL.
“PRITTTTT” bunyi peluit babak pertama telah selesai.
Karena ini masih di bulan puasa, saya langsung pergi ke food
court untuk membeli makan buat santap sahur. Saat mencari makan, saya
bertemu dengan 2 teman saya waktu SMK (Roby & Kholiq) dan guru SMK saya
(Pak Eko). Setelah makan, saya balik ke tempat semula, di sana sudah ramai teman-teman
nobar saya yang sudah lama gak ketemu. Bang Jaenk, Bang Pandji, Bang Giant, dan
masih banyak lainnya. Kenapa Abang semua manggilnya? Kebetulan saya paling muda
bersama si Dichi Cablut diantara teman The Reds Pondok Gede . Gara-gara
Liverpool kita semua bisa bertemu dan berkumpul lagi. Menghabiskan jeda babak
pertama sambil bernostalgia sewaktu nobar bersama-sama dulu. Mulai dari
kegilaan saat awaydays ke tim rival dan kebiasaan after match
yang selalu rutin dilakukan.
“PRITTTTTTTT” bunyi peluit tanda babak kedua dimulai.
Semua orang fokus menatap layar lebar sambil berdoa Liverpool
tidak kejebolan bahkan menambah keunggulan. Beberapa kali kami dibuat senam jantung
karena serangan dari pemain Hotspur, beruntung Liverpool mempunyai pemain
belakang tangguh yang siap menghadang serangan dari Hotspur. Sorai-sorai chants
tetap bergemuruh sebagai bentuk keoptimisan kita semua. Sampai di menit 87,
berawal dari corner kick James Milner, bola berhasil dihalau pemain
belakang Hotspur, lalu bola liar di udara diperebutkan sampai Matip berhasil
memberi umpan pendek ke Origi, Origi menahan bola lalu menendang ke arah
gawang. “YEAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!” bola berhasil masuk ke gawang
Hotspur untuk kedua kalinya. Saya yang menyaksikan gol itu langsung memeluk
teman-teman sambil menangis. Semua bersorak lebih keras lagi di rooftop, alas rooftop
bergetar, tetapi saya tidak peduli, bodoamat roboh, kita harus merayakannya.
Pyro dinyalakan di beberapa titik sudut, semua bernyanyi, dan berjoget. Kita
semua menyanyikan chants “Allez Allez Allez”, saya masih merinding jika membayangkan lagi
waktu itu.
Babak kedua selesai, YES! LIVERPOOL JUARA UCL KE-6. Meninggalkan
perolehan trophy UCL Barcelona, Muenchen, dan hmmmm emyubutut. Banyak sebagian
dari supporter Liverpool yang menangis, suasana haru bercampur dengan rasa
bangga. Bertahun-tahun Liverpool jadi penonton UCL. Sekarang kita bisa merasakan
euforia juara lagi, setelah terakhir Liverpool juara di Carling “Mickey
Mouse” Cup tahun 2012. Chants Allez Allez Allez, Campione, dan
lainnya menggema di rooftop mengisi luasnya langit Bekasi Subuh itu. Semua
bahagia, berpesta, dan merayakan momen yang ada. Saya berfoto bersama
teman-teman The Reds Pondok Gede sambil berdoa tahun besok Liverpool bisa back
to back juara UCL.
Saya menelusuri jalan Ahmad Yani
dengan perasaan yang gak bisa diutarakan, semua yang terjadi tadi akan selalu
terekam dalam ingatan. Kebanggaan yang selalu terbenam di dada, kesetiaan yang
terus mengakar sampai di jiwa. Selamat Liverpool, LETS TALK ABOUT SIX TIMES!
Victory for the moment, pride
is forever.
NB: Tahun berikutnya Liverpool
gagal mempertahankan piala UCL karena kalah dari Atletico Madrid di fase 16
besar. Namun, trophy Premier League telah menunggu diangkat Liverpool
tahun ini, 19 Times!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar