Minggu, 07 Juni 2020

Malam Final (lagi) di Bekasi


Sabtu, 1 Juni 2019
Sebagai supporter Liverpool, ini Final UCL ke-3 Liverpool yang bisa saya saksikan secara sadar. Sebelumnya tahun 2018 Liverpool juga berhasil masuk Final, tapi sayang mereka kalah dengan Real Madrid yang berhasil merengkuh trophy liga champions ke-13. Saya tidak mau mengingat pertandingan itu, males. Tapi saya ingat waktu nobar kerjaan saya menahan emosi para supporter Liverpool yang terprovokasi ulah  “oknum” di barisan supporter Real Madrid dan menangis saat pertandingan berakhir, perih.

Pagi itu saya mengecek akun Instagram Bigreds Bekasi untuk mengetahui lokasi nobar nanti malam. Ternyata tempatnya tidak jauh dari lokasi nobar Final tahun lalu. Jika tahun lalu di Gor Bekasi, maka nanti malam di Rooftop parkir Stadion Patriot. Tiba-tiba mata saya terfokus pada satu unggahan foto mereka, foto tersebut menggambarkan terbentang spanduk di jalan Ahmad Yani di sisi luar JPO bertuliskan MAKE US DREAM dengan logo Livebird. Penuh bangga, akhirnya saya save lalu mengunggahnya di platform Instagram.

Malam telah menyelimuti bumi bagian Indonesia. Saya baru tersadar belum ada teman untuk berangkat nobar ke sana. Iseng juga kalo berangkat sendirian pikir saya. Akhirnya saya menghubungi beberapa teman The Reds Pondok Gede, Si Dichi gabisa ikut karena udah mudik (jadwalnya berdekatan Idul Fitri), Bang Berland nobar di Bandung, dan Fuad yang gak nobar. Saya mengingat siapa lagi teman-teman nobar saya. Kemudian saya inget Bang Rata, saya hubungin via Instagram bertanya mau nobar atau enggak, kabar baik! Ternyata dia mau nobar dan belum ada barengan ke sana.
Kami memutuskan berangkat jam 11 malam waktu itu, biar gak nunggu lama di venue nanti. Di perjalanan, ternyata Bang Tama (teman The Reds) menunggu kami di pengkolan, finally, kita bertiga berangkat menuju venue.

Sampai di sana, kita langsung naik ke rooftop. Sebelumnya saya menghubungi Bang Ined (teman The Reds) untuk menjemput kami di pintu masuk menuju venue, kebetulan juga dia mengisi acara di situ. Kita bertemu lalu tegur sapa dan diantarkan Bang Ined menuju venue.

PADAT! Kesan pertama saat memasuki rooftop, manusia menghampar di mana-mana, hampir semua berbalut jersey merah, warna khas Liverpool FC. Di dinding rooftop terbentang banyak bendera dan spanduk bertema LFC. Saya menghirup bau-bau optimis diantara kerumunan ini, bismillah. Langkah saya berhenti karena merasakan sesuatu. “waduh,” ucap saya, ketika merasakan gempa kecil di sini, alasnya bergetar saat semuanya sedang berjoget bersama Feel Koplo waktu itu. Dalam hati, saya berdoa agar tidak terjadi apa-apa nanti. Ngeri juga lagi nobar tiba-tiba bangunannya roboh.

Minggu, 2 Juni 2019
Terlihat di layar besar para pemain memasuki lapangan, supporter Liverpool yang ada di dalam stadion, di tempat nobar, dan dimanapun mereka berada berdoa agar Liverpool dapat menang malam ini, bawa pulang piala, lalu berpesta.

Kick off!

“YESSSSSSS!!!!!” semua bersorak. Belum satu menit pertandingan berjalan, Liverpool dihadiahi tendangan pinalti oleh wasit karena Sissoko melakukan handsball di kotak 16 pas. Mo Salah menjadi algojo bersiap-siap mengeksekusi pinalti, semua supporter harap-harap cemas menunggu Salah melakukannya. “YEAYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY” semua orang bergembira di rooftop, Mo Salah berhasil mencetak goal. “Mo Salah, Mo Salah, Mo Salah, Running down the wing, Salahhhhhhhh la la la la, the Egyptian King,” chants Mo Salah didengungkan seisi rooftop, kita semua berjoget dan melompat merayakan goal pertama Liverpool. Mo Salah menjadi orang Mesir pertama yang mencetak gol di final UCL.

“PRITTTTT” bunyi peluit babak pertama telah selesai.

          Karena ini masih di bulan puasa, saya langsung pergi ke food court untuk membeli makan buat santap sahur. Saat mencari makan, saya bertemu dengan 2 teman saya waktu SMK (Roby & Kholiq) dan guru SMK saya (Pak Eko). Setelah makan, saya balik ke tempat semula, di sana sudah ramai teman-teman nobar saya yang sudah lama gak ketemu. Bang Jaenk, Bang Pandji, Bang Giant, dan masih banyak lainnya. Kenapa Abang semua manggilnya? Kebetulan saya paling muda bersama si Dichi Cablut diantara teman The Reds Pondok Gede . Gara-gara Liverpool kita semua bisa bertemu dan berkumpul lagi. Menghabiskan jeda babak pertama sambil bernostalgia sewaktu nobar bersama-sama dulu. Mulai dari kegilaan saat awaydays ke tim rival dan kebiasaan after match yang selalu rutin dilakukan.

“PRITTTTTTTT” bunyi peluit tanda babak kedua dimulai.

      Semua orang fokus menatap layar lebar sambil berdoa Liverpool tidak kejebolan bahkan menambah keunggulan. Beberapa kali kami dibuat senam jantung karena serangan dari pemain Hotspur, beruntung Liverpool mempunyai pemain belakang tangguh yang siap menghadang serangan dari Hotspur. Sorai-sorai chants tetap bergemuruh sebagai bentuk keoptimisan kita semua. Sampai di menit 87, berawal dari corner kick James Milner, bola berhasil dihalau pemain belakang Hotspur, lalu bola liar di udara diperebutkan sampai Matip berhasil memberi umpan pendek ke Origi, Origi menahan bola lalu menendang ke arah gawang. “YEAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!” bola berhasil masuk ke gawang Hotspur untuk kedua kalinya. Saya yang menyaksikan gol itu langsung memeluk teman-teman sambil menangis. Semua bersorak lebih keras lagi di rooftop, alas rooftop bergetar, tetapi saya tidak peduli, bodoamat roboh, kita harus merayakannya. Pyro dinyalakan di beberapa titik sudut, semua bernyanyi, dan berjoget. Kita semua menyanyikan chants “Allez Allez Allez”,  saya masih merinding jika membayangkan lagi waktu itu.

           Babak kedua selesai, YES! LIVERPOOL JUARA UCL KE-6. Meninggalkan perolehan trophy UCL Barcelona, Muenchen, dan hmmmm emyubutut. Banyak sebagian dari supporter Liverpool yang menangis, suasana haru bercampur dengan rasa bangga. Bertahun-tahun Liverpool jadi penonton UCL. Sekarang kita bisa merasakan euforia juara lagi, setelah terakhir Liverpool juara di Carling “Mickey Mouse” Cup tahun 2012. Chants Allez Allez Allez, Campione, dan lainnya menggema di rooftop mengisi luasnya langit Bekasi Subuh itu. Semua bahagia, berpesta, dan merayakan momen yang ada. Saya berfoto bersama teman-teman The Reds Pondok Gede sambil berdoa tahun besok Liverpool bisa back to back juara UCL.

               Saya menelusuri jalan Ahmad Yani dengan perasaan yang gak bisa diutarakan, semua yang terjadi tadi akan selalu terekam dalam ingatan. Kebanggaan yang selalu terbenam di dada, kesetiaan yang terus mengakar sampai di jiwa. Selamat Liverpool, LETS TALK ABOUT SIX TIMES!

Victory for the moment, pride is forever.

NB: Tahun berikutnya Liverpool gagal mempertahankan piala UCL karena kalah dari Atletico Madrid di fase 16 besar. Namun, trophy Premier League telah menunggu diangkat Liverpool tahun ini, 19 Times!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar