Kamis, 18 Juni 2020

Dieng; untuk yang pertama


Sebelum mengetik ini, gua baru saja menghabiskan 1 porsi ceker mercon pedas. Padahal tadi pagi sudah 4x bolak-balik kamar mandi karena mencret. Apakah ini yang dinamakan seni melukai diri?

Perjalanan ini terjadi saat masih SMK tahun 2015, gua sekolah di salah satu SMK di Kota Bekasi jurusan TP4 (Teknik Produksi Penyiaran Program Pertelevisian). Beberapa teman gua menyebutnya Teknik Pergi Pagi Pulang Pagi karena kerjaannya yang lembur terus. Buat yang belum tau jobdesk TP4 biasanya bikin film,iklan, dan lain-lain.

Siang-siang lagi di kelas, tiba-tiba gua disuruh ke RKB (studio tempat praktek). “Sini lu duduk,” ucap Uwa saat gue masuk RKB. Doi Kepala Program jurusan di sekolah, biasa dipanggil Uwa sama murid-muridnya. Ternyata bukan gue aja yang dipanggil, ada Dini sesama kelas 11 dan kaka kelas anak 12 TP4-1. Awalnya semua hening karena bingung kenapa dikumpulin, singkatnya Uwa ngumumin kalo satu film kaka kelas masuk nominasi di Festival Film Dieng 2014, semua mengucap syukur karena ini film pertama mereka yang masuk nominasi Festival Film tingkat nasional.

Kenapa ada gue dan Dini di situ? Kebetula kita membantu proses pembuatan filmnya. Tebak gue jadi apa? Yak betul sekali! Gue dan Dini membantu sebagai pemeran utama di film tersebut. Saat diumumin masuk nominasi, gua berujar dalam hati, “Akting gue oke juga ya,” sambil membandingkan diri ini dengan Iko Uwais. Walaupun sekarang kalo gua tonton ulang filmnya bikin gua ketawa-ketawa sendiri. Buat yang mau tau, gua memerankan film dengan judul “Gw gak liat itu lo kok”, bagus kan judulnya?

Sebenernya gua gak diajak ke Dieng, hahahahaha karena undangan buat crew filmnya. Tetapi gua kepikiran buat minta ikut, anjir apeng banget lah pokoknya. Dieng coy!  terakhir gua bepergian jauh waktu perpisahan SMP ke Yogyakarta, jadi kapan lagi ye kan? Beberapa hari kemudian gua dateng ke Uwa buat minta ikut ke Dieng, awalnya Uwa mikir lama tuh, “Yah kagak boleh dah,” pikir gua. Eh ternyata dibolehin, seneng banget pokoknya bisa pergi jauh, apalagi ini datang karena undangan masuk nominasi film (walau akomodasi tetep bayar sendiri) ya tapi seneng lah hahahaha.

Hari keberangkatan, kita semua berangkat dari komsen dan ternyata ada Pak Khusni (guru sejarah) juga ikut. Total sekitar kurang dari 20 orang yang ikut (termasuk Uwa dan Pak Khusni). Kita berangkat ba’da maghrib. Di perjalanan tidak ada yang mengejutkan, kecuali Bang Abdul  iseng memotret teman-temannya yang sedang tidur di kursi bus. Darimana gua tau? Karena gua salah satu korban keisengannya.
Kita sempat berhenti di sebuah tempat untuk makan malam, lalu melanjutkan perjalanan. Adzan subuh menyambut kita di pemberhentian pertama, katanya ini belum sampai di Dieng. Gua bersama yang lain duduk diam melihat sekitar, suasana berbeda kita rasakan di sini; adem dan tenang tidak seperti di Bekasi. Uwa memanggil kita untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Katanya, kita dari sini naik mobil lagi untuk sampai menuju Dieng yang memakan waktu sekitar 2jam-an.

Mata gua dimanjakan sama pemandangan di sana, betapa besarnya kuasa Allah yang mampu melukis dengan indah ini semua. Sayangnya kita gak bisa berhenti sejenak buat foto-foto gitu karena ada beberapa warga di dalam mobil. Padahal moment banget, di Bekasi gak ada yang beginian coy! Beton semua hahaha.

“Sudah sampai di Dieng,” ujar supir kepada kita semua. Saat turun dari mobil, Dieng menyambut kita dengan dinginnya dia. Gua gatau suhunya berapa, tetapi udah pakai jaket parka dan tracktop dinginnya masih terasa sampai kulit. Namun, dinginnya Dieng dikalahkan oleh takjubnya pemandangan di sekeliling Dieng, sekali lagi gua memuji lukisan Allah yang sangat indah dipandang oleh kedua mata gua. Berjalan sebentar, gua langsung minta difotokan di spanduk bertuliskan “DIENG CULTURE FESTIVAL V” bersama Rangga. Masing-masing sibuk berfoto ria, tetapi kita semua tidak lupa tujuan datang ke sini. Beberapa teman ada yang mencari informasi tempat untuk acara penganugerahan Festival Film Dieng.

Informasi tempat acara sudah kita dapat, lalu pergi ke sana. Di tengah perjalanan kita melihat beberapa susunan candi lalu berhenti buat berfoto-foto lagi. Namanya juga baru pertama kali kan, jadi sayang aja kalo dilewatin. Lanjut, kita registrasi lalu disuruh masuk ke dalam sebuah ruangan seperti teater. Ohiya, tempat acaranya itu kaya sebuah museum karena diisi barang-barang bersejarah. Karena acaranya masih lama, jadi sebagian dari kita ada yang pergi ke luar dan ada yang keliling museum itu.

Alamdulillah, acara telah selesai. Namun, kita belum bisa pulang bawa piala. Ya gapapa, nanti bisa bikin lebih bagus lagi, semoga. Bagi gua sih kepuasan tersendiri bisa ke Dieng gara-gara bikin film. Sisa waktu yang ada sebelum malam kita habiskan untuk berkeliling di daerah DCF. Sekadar makan, foto-foto, dan beli pernak-pernik khas Dieng.

Langi gelap ingin menyelimuti Dieng. Sementara itu kita semua sudah bersiap, bersiap ke mana? Karena rumah Pak Khusni dekat dari Dieng, kita semua diizinkan untuk beristirahat di rumahnya sembari melepas penat. Ini yang dinamakan rezeki selalu datang di waktu yang tepat. Perjalanan ke rumah Pak Khusni sekitar 2 jam menaiki angkutan umum yang kita carter khusus rombongan kita.
Sampai di rumah Pak Khusni malam sekitar Isya, kita langsung disambut oleh keluarga Pak Khusni, Pak khusni juga melepas kangennya dengan keluarga di sana. Setelah rehat sebentar, tenyata kita udah disiapkan makan malam oleh keluarga Pak Khusni, sungguh beruntungnya kita semua yang mungkin bawa uang secukupnya untuk perjalanan ini.

Gua terbangun tengah malam, melihat teman-teman tidurnya pada ngampar lalu gua menoleh ke luar rumah. Emang beda banget ya feel yang gua dapet saat di rumah, di sini tuh  adem, tenang dan pasti dingin. Eh kayanya yang tadi gua sebut juga bisa di rasain di rumah gue, tetapi pokoknya beda lah, kalian pasti paham lah ya.

Kita dibangunkan Uwa untuk melaksanakan salat subuh, airnya dingin banget waktu gue ambil wudhu. Bikin mikir nanti mandi atau enggak hahaha. Selepas salat, udah banyak yang di luar buat nikmatin suasana di pedesaan yang asri. Gua gak bisa mendeskripsikan suasana di sana, pokoknya pagi yang berbeda dari yang selalu gua rasain di Bekasi. Ah, pengen punya kampung jadinya, maklum anak Betawi saudaranya beda RT doang, hehe.

Persiapan untuk pulang sudah siap, kita mengucapkan pamit dan banyak terima kasih ke keluarga Pak Khusni karena diizinkan menginap di rumahnya. Kita pulang menaiki bus lagi, meninggalkan Dieng dan sekitarnya menuju Bekasi untuk menimba ilmu kembali. Walaupun gagal membawa pulang kemenangan, tetapi keinginan untuk menciptakan karya yang lebih selalu tertanam dalam pikiran. Kalo gagal, coba lagi, selamat tinggal Dieng!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar