Selasa, 14 Juli 2020

Kebersamaan, Kerepotan, dan Kebanggaan yang tertunda.

Senin, 13 Juli 2020. Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru bagi seluruh siswa di seluruh Indonesia. Seharusnya, jalan raya dipenuhi oleh siswa/i yang berangkat ke sekolah mulai dari angkutan umum, diantar orang tua, juga mengendarai motor menumpuk tiga. Namun, akibat COVID-19 yang belum selesai di Indonesia, semuanya berubah. Di jalan, saya tidak melihat lalu lalang dari mereka, beberapa saja yang terlihat, sangat tidak banyak. Bahkan pedagang balon gas yang biasanya berdiam di dekat sekolah, tidak ada yang terlihat sama sekali.

Bagi siswa/i, saya paham gimana rasanya ingin bertemu teman-teman sekolah setelah libur panjang yang kali ini terasa melelahkan (karena harus diam di rumah). Merindukan suasana riuh canda tawa, melakukan hal-hal konyol di dalam kelas, dan yang paling ditunggu; beramai-ramai ghibah dari kalangan artis, selebgram, dan tentu teman sendiri.

Begitu juga untuk yang baru masuk ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya, bertemu teman baru lalu beradaptasi dengan lingkungannya jadi hal yang ditunggu. Repot menyiapkan hal-hal ospek, sibuk menebak kata kunci makanan dan minuman yang mau dibawa. Di zaman saya, perempuannya diharuskan mengkuncir rambutnya dengan kuncir warna warni, laki-lakinya wajib berkepala botak. Di mana harus mengejar KAMBING (Kaka Pembimbing) untuk dimintai tanda tangannya, kalo diinget, rajin juga ya saya, malah kadang kambingnya sok jual mahal, meh.

Apalagi bagi orang tua, melihat anaknya menggunakan seragam SD di hari pertama mereka bersekolah sambil berujar, “Udah gede juga ya kamu, Nak.” lalu mengantarkannya sampai ke depan pintu gerbang dan momen mengharukan terjadi saat harus rela melepas anaknya menuntut ilmu seorang diri. Saya rasa kata-kata tidak akan cukup untuk mendeskripsikan perasaan orang tua saat itu.

Hari pertama saya bersekolah, lupa dengan siapa saya berangkat waktu itu. Tapi saya ingat saat sedang di dalam kelas, saya melihat beberapa orang tua mengamati anaknya dari balik jendela. Di jam istirahat, orang tua siap menyambut anaknya dengan bekal yang mereka buat. Lonceng pulang berbunyi, anak-anak disambut dengan pertanyaan, “Kamu tadi belajar apa?” dari orang tua mereka.

Sekarang, semua hal diatas terpaksa harus ditunda dulu entah sampai kapan. Kesunyian jadi pengisi kekosongan di sudut lorong-lorong sekolah serta di dalam kelas mereka. Semuanya berpindah ke dalam layar gadget. Terlihat penuh di dalam layar, namun, dari luar layar mereka tetap sendiri di dalam ruangannya masing-masing.

Harapan kita semua sama, pandemi ini cepat berakhir. Agar hal-hal di atas bisa kembali dirasakan oleh semua siswa/i, semua orang tua, dan para pedagang di sekolah. Karena ada sisi yang kosong saat kita harus berinteraksi melalui gadget, yaitu; hangatnya kebersamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar