Senin, 13 Juli 2020. Hari pertama
masuk sekolah tahun ajaran baru bagi seluruh siswa di seluruh Indonesia. Seharusnya, jalan raya
dipenuhi oleh siswa/i yang berangkat ke sekolah mulai dari angkutan umum,
diantar orang tua, juga mengendarai motor menumpuk tiga. Namun, akibat COVID-19
yang belum selesai di Indonesia, semuanya berubah. Di jalan, saya tidak melihat
lalu lalang dari mereka, beberapa saja yang terlihat, sangat tidak banyak.
Bahkan pedagang balon gas yang biasanya berdiam di dekat sekolah, tidak ada
yang terlihat sama sekali.
Bagi siswa/i, saya paham gimana
rasanya ingin bertemu teman-teman sekolah setelah libur panjang yang kali ini terasa
melelahkan (karena harus diam di rumah). Merindukan suasana riuh canda tawa, melakukan
hal-hal konyol di dalam kelas, dan yang paling ditunggu; beramai-ramai ghibah dari
kalangan artis, selebgram, dan tentu teman sendiri.
Begitu juga untuk yang baru masuk
ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya, bertemu teman baru lalu beradaptasi
dengan lingkungannya jadi hal yang ditunggu. Repot menyiapkan hal-hal ospek, sibuk
menebak kata kunci makanan dan minuman yang mau dibawa. Di zaman saya, perempuannya
diharuskan mengkuncir rambutnya dengan kuncir warna warni, laki-lakinya wajib
berkepala botak. Di mana harus mengejar KAMBING (Kaka Pembimbing) untuk dimintai
tanda tangannya, kalo diinget, rajin juga ya saya, malah kadang kambingnya sok jual
mahal, meh.
Apalagi bagi orang tua, melihat
anaknya menggunakan seragam SD di hari pertama mereka bersekolah sambil
berujar, “Udah gede juga ya kamu, Nak.” lalu mengantarkannya sampai ke depan
pintu gerbang dan momen mengharukan terjadi saat harus rela melepas anaknya
menuntut ilmu seorang diri. Saya rasa kata-kata tidak akan cukup untuk
mendeskripsikan perasaan orang tua saat itu.
Hari pertama saya bersekolah, lupa
dengan siapa saya berangkat waktu itu. Tapi saya ingat saat sedang di dalam
kelas, saya melihat beberapa orang tua mengamati anaknya dari balik jendela. Di
jam istirahat, orang tua siap menyambut anaknya dengan bekal yang mereka buat. Lonceng
pulang berbunyi, anak-anak disambut dengan pertanyaan, “Kamu tadi belajar apa?”
dari orang tua mereka.
Sekarang, semua hal diatas terpaksa
harus ditunda dulu entah sampai kapan. Kesunyian jadi pengisi kekosongan di
sudut lorong-lorong sekolah serta di dalam kelas mereka. Semuanya berpindah ke
dalam layar gadget. Terlihat penuh di dalam layar, namun, dari luar
layar mereka tetap sendiri di dalam ruangannya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar