Sudah
lewat setengah jam saya menunggu hujan berhenti di salah satu teras ruko dekat
mall di daerah Pondok Gede. Hujan yang tiba-tiba membuat saya telat menjemput
Zahra di Halte Pinang Ranti.
Berawal dari obrolan ringan di grup whatsapp teman-teman SMK, Fuad;
teman saya yang sering naik gunung mengajak kita kemcer (kemping ceria). Bak
air tumpah, ajakannya disambut bahagia karena banyak yang belum pernah kemping.
Lanjut perihal teknis Fuad yang mengurus karena dia lebih paham. Dia memberikan
banyak pilihan tempat, sampai meruncing jadi dua pilihan; di Balong Endah atau
Sukamantri.
Sukamantri menjadi pilihan untuk kemping setelah melalui debat
dari kita yang belum pernah kesana dengan membandingkan dua tempat tersebut perihal;
tempat foto, track, dan keberadaan hewan buas (ini serius loh) melalui
refrensi via Istagram. Agak rumit emang kemauan manusia.
Buat yang belum tau, bumi perkemahan Sukamantri itu berada di
kaki Gunung Salak. Kalo dilihat dari foto-foto yang tersebar di Instagram, tempatnya
bersahabat buat pemula yang mau kemah atau kemah dengan balutan keluarga gitu.
Hujan
sudah berhenti, saya lanjut menjemput Zahra. Dari Pinang Ranti, kemudi saya
arahkan ke rumah Bebek. Di sana ada Fuad, Nabila, Nurul, dan Bebek (Fikri).
Mereka baru pulang membeli stok makanan buat besok, lalu Fuad membagi-bagikan
bawaan besok di dalam tas sekaligus mencoba tenda yang digunakan untuk tidur
kita di sana. Setelah semua dirasa cukup, kita pulang ke rumah masing-masing menyiapkan
tenaga buat besok.
Rencananya
semua berkumpul di rumah Fuad pukul 9 pagi. Bukan orang Indonesia kali ya kalo
nggak telat, karena semua baru bisa kumpul pukul setengah 11 lewat. Akhirnya kita
bagi-bagiin lagi bawaan yang dipersiapkan buat di sana. Selain 5 orang yang
saya sebutkan sebelumnya di atas, ada Elisa, Devari, dan Aji yang juga ikut ke Sukamantri,
jadi total kita ada 9 orang. Semua tas sudah terisi barang bawaan, sekitar
pukul 11 lewat kita berangkat menuju Sukamantri.
Jalur
yang kita lewatin (seinget gue) Leuwinanggung – Tapos – Cibinong – Bogor, selebihnya
lupa. Drama saling tunggu karena ketinggalan nggak bisa dipisahkan kalo lagi
naik motor ramean begini. Alhamdulillah, saya ada di bagian yang ditungguin
alias motor saya gabisa ngebut T.T (ini emot sedih). Setengah perjalanan kita
laluin, teman-teman memutuskan buat rehat sejenak di tukang soto mie karena
pantat udah kerasa tidak enak (maklum gak biasa) dan perut yang keroncongan.
Setelah
perut terisi dan pantat enakan, kita ngelanjutin perjalanan. Tidak jauh; kita memasuki
area pemukiman warga, suasana sejuk menyapa kita di sana, lanjut menanjaki jalan
bebatuan. Karena takut terjadi apa-apa, kita jalan satu-persatu secara bergantian.
Semua terlihat tanpa kendala, sampai tiba-tiba Adjie nyeletuk, “Tong, motor lu ngebul.”
“Wadadadadadaw,”
respon saya dalam hati. Serentak semuanya berhenti, saya langsung mengecek
motor. Ternyata nggak cuma asapnya ngebul, bau sangit juga keluar dari motor
saya. Keadaan motor membuat saya diem, mikirin perjalanan pulang nanti, nyampe
aja belum, ini udah mikirin pulang. Fuad bilang buat berhenti sebentar nunggu
motor saya bener (sedikit). Tentu, saya harap-harap cemas sama keadaan ini,
masa gagal sih udah setengah lebih perjalanan.
Fuad
bilang kalo dikit lagi udah nyampe dan meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik
saja. Anjay. Memulai dengan Bismillah, kita melanjutkan perjalanan. Zahra yang
awalnya satu motor sama saya, pindah ke Fuad yang sendirian. Alhamdulillah, tidak
lama dari situ kita disambut jalanan yang udah di cor gitu. Semuanya berhenti
lalu foto bersama di dekat gapura bertuliskan “Kujang Raider”.
Akhirnya
sampai juga di tempat perkemahan Sukamantri, sebelum markirin motor, kita bayar
uang masuk terlebih dahulu. Biayanya Rp 25,000/orang dan belum termasuk parkir.
Setelah memakirkan motor, kita harus berjalan sedikit buat sampai di wilayah
tempat masang tenda. Di Sukamantri ini ada dua wilayah tempat buat kita
berkemah, satu di dekat tempat parkir, satu lagi agak jauh tapi masih bisa
ditempuh dengan jalan kaki.
Perasaan
lega menghampiri semuanya saat sampai di wilayah berkemah. Kemudian yang
perempuan menggelar tikar untuk meletakkan barang bawaan, sedangkan
laki-lakinya memasang tenda. Ditemani lagu-lagu yang udah dipersiapkan sehari
sebelumnya dan pemandangan hijau nan asri sejauh mata memandang. Kini, suasana liburan
sudah ada di dalam genggaman. Gelak tawa jadi teman saat memasang tenda, saya dan
Adji sedikit kesulitan saat memasang tenda. Tiga tenda sudah terpasang dengan kokoh,
satu tenda buat tempat tidur perempuan, sisanya buat barang bawaan dan tempat tidur
laki-laki.
“Bek, panggangan mana?” tanya Nabila saat mempersiapkan alat
memasak.
Semua melihat Bebek, dia diam sebentar, “Lah ada disitu, cari
napa Bil,” ujarnya.
“Mana si? Orang gak ada.”
Bebek menuju tasnya dan mencari panggangan, alhamdulillah,
yang dicari gak ada.
“Kayanya ketinggalan dah, Bil,” ujar Bebek pasrah.
“Ih kok bisa? Ajksjhdjkaskd,” ocehan Nabilla yang gabisa
dikendalikan.
Bukannya
pada membela, yang lain malah menertawakan si Bebek, ya mau gimana lagi kan? Tadi
motor saya bermasalah, sekarang Bebek lupa bawa panggangan. Ada-ada saja emang
tragedinya. Untuk menebus kesalahan, Bebek mencari panggangan di sekitaran situ.
Lama berselang, Bebek datang membawa panggangan. Alhamdulillah, dia meminjam panggangan
di warung tempat kita menumpang masak nasi saat pertama datang.
Gelap
mengganti peran si terang di langit Sukamantri, lalu adzan maghrib
berkumandang. Sebagian berangkat ke mushollah untuk salat, kita menggunakan
senter ke sana karena gak ada sumber penerangan di Mushollah. Yang ada di
Mushollah memutuskan untuk sekalian salat Isya biar rasane plong, gituh.
Keluar
mushollah, ada Nabilla yang mau buang air ditemenin sama Devari. Saya, Zahra, Elisa,
dan Bebek pamit ke atas. Kamar mandi di sini ada dua lokasinya, satu di ujung
tempat dari wilayah kita kemah, satunya lagi di dekat musholah. Akses ke kamar
mandinya kita harus nurunin jalan gitu yang pijakannya cukup buat satu kaki, harus
hati-hati saat naik maupun turun, apalagi kalo malam, harus pake senter, soalnya
bisa terpeleset.
Selain bakar ayam, kita juga bawa kompor kecil buat ngegoreng
makanan, kaya naget, otak-otak, sosis, dll. Menikmati makan di alam bebas bersama
teman-teman, menghadirkan rasa senang dan haru. Senang karena masih bisa seperti
ini dalam keadaan yang sehat, haru karena nggak tau kapan lagi bisa kaya gini.
Menghabiskan sisa waktu malam di tenda dengan canda gurau, mengenang
masa-masa sekolah, dan berandai-andai tentang masa depan walaupun semuanya masih
abu-abu.
“Nanti kalo kalian menikah, bakal bisa kaya gini lagi ga?” tanya
dari salah satu kita, gua lupa siapa orangnya waktu itu, yang jelas bukan gua,
apalagi Bebek.
Tiba-tiba satu teman perempuan menangis, bukan karena
kesurupan, tetapi menangis haru. Perempuan lainnya terbawa suasana, sedangkan
saya dan laki-laki yang lain, menertawainya, jahat ya emang hahaha.
Lensa
kamera dibuka, tombol rekam ditekan oleh Devari. Mata kamera merekam kegiatan
kita di temani bintang dan bulan yang cerah pada malam itu, dimulai dengan masing-masing
kita diberikan pertanyaan-pertanyaan yang “dalam”. Lalu satu persatu menjawab
pertanyaan yang membuka kenangan lama, menyimpulkan benang merah yang kusut. Ada
juga yang berkilah tidak mau menjawab, tetapi dari situ bisa menimbulkan gelak
tawa dan haru yang membunuh suasana sunyi hutan dalam momen kebersamaan kita.
Nabilla
membangunkan satu persatu yang tidur saat adzan subuh berkumandang. Saya dibangunkan
paling terkahir karena tidur di tenda barang, terpisah sama laki-laki yang lain
karena tendanya gak muat. Balik dari musholla kita menyiapkan sarapan, karena
setelah itu kita akan pergi ke curug buat berenang. Momen yang ditunggu oleh semua
peserta kemping ceria ini.
“Jalan kaki aja, susah jalannya kalo bawa motor, gak jauh kok
dari sini,” ujar Fuad meyakini kita semua yang awalnya mau pergi mengendarai
motor, semua menerima. Jalur yang kita lewati itu jalan aspal yang kita naikin di
perjalanan berangkat, sampai ketemu gapura “Kujang Raider” kita belok ke kiri
di perbatasan jalur aspal dan tanah, perjalanannya memakan waktu sekitar 30
menit (ini udah ditotal sama ngaso beberapa kali di tengah jalan).
Eh ternyata
pas sampai kita ngeliat jalannya bisa dilaluin sama motor. Fuad cengengesan
karena berhasil mengelabui kita. Namun, lelahnya perjalanan berubah menjadi teriakan
bahagia. Semua menyambut pemandangan hijau dan air yang mengalir di sini. Terutama
Nabilla, dia baru pertama kalinya ke curug dan sangat bahagia bisa menapakkan
kakinya di dalam air mengalir. Adjie; katanya tidak sia-sia ngambil cuti kerja untuk
datang ke sini. Dua pernyataan di atas bisa mewakili bagaimana keindahan alam
di sana. Keadaan juga masih sepi karena kita datangnya pagi banget, info juga,
curugnya gratis.
Satu
dua batu kita pijak untuk sampai di tempat yang bisa dibuat berenang, jalan
sekitar 5 menit lagi, kita sampai di tempatnya. Semuanya langsung loncat ke sungai,
suasana sepi, air dingin, pemandangan hijau, jadi hal asing yang kita jumpai
selama di hidup di perkotaan. Curugnya juga serasa milik kita sendiri karena
masih sepi banget, ya sekitar 20 menit kemudian baru satu-persatu pengunjung
datang. Satu jam lewat kita menikmati pemandian di aliran sungai ini. Maunya
sih terus berendam, tapi waktu ikutan berjalan. Semua berbenah dan meninggalkan
curugnya. Melihat sekitaran kolam, ternyata udah banyak pengunjung yang dateng,
bahkan ada yang ramean naik truk. Untung aja kita udah selesai foya-foya di airnya.
“EHHH!!”,
ucap kaget Elisa saat sampai di tenda karena sampah berserakan di mana-mana. Ternyata
ini ulah sekumpulan para monyet di kawasan hutan Gunung Salak. Katanya kalo
pagi emang banyak yang silaturahmi, sekedar nyari makan dari bawaan pengunjung ataupun
bekas sampah makanan kita. Kita makan lagi buat bekal perut di perjalanan pulang,
setelah makan, semua membereskan perlengkapannya dan menutup tenda. Kemudian saat
semuanya telah siap pulang, ternyata ada yang menghambat, yaitu si Bebek yang masih
mandi.
Buah
semangka jadi teman menyantap sambil menunggu Bebek. Buah yang menurut banyak
pendaki jadi terasa nikmat saat menyantap di ketinggian puncak. Beberapa potong
semangka saya kasih ke kerumunan monyet. Namun, petaka dimulai dari situ,
sekumpulan monyet semakin banyak yang datang ke tenda kita. Semuanya panik,
masing-masing menyelamatkan barang bawaan lalu menjauh dari kerumunan monyet.
Beberapa bawaan ada yang belum saya tutupi dengan alas biar gak dibrendel monyet.
Bener aja, ada monyet yang berhasil mengambil satu renceng susu jahe.
“BEBEKKKKKKKKKKK, LAMA BANGET LU,” kita meneriaki Bebek agar
lebih cepat mandinya.
Lebih dari 30 menit, akhirnya Bebek keluar dari
kamar mandi, “Sempak gua ilang Boy,” ujar Bebek saat baru sampai. Semuanya
bingung, kaget, dan tentu tertawa. Bebek disuruh buru-buru mempersiapkan dirinya
untuk pulang. Barang bawaan sudah gak ada yang ketinggalan, semua bergegas pulang
meninggalkan keluarga besar monyet. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya Nyet! Berangkat
dengan doa, pulang juga harus dengan doa, kemudian kita pamit sama petugas di
sana.
Bergantian kita memulai perjalanan pulang, dalam hati yang
bahagia dan lega, perkempingan dua hari satu malam telah terlaksana dengan perasaan
yang sangat puas. Dengan beberapa tragedy yang tejadi tidak membuat kita merasa
ini sebagai perjalanan yang buruk, melainkan jadi sisi menarik yang bisa kita
ceritakan kelak. Seperti kumpulan daging rendang yang nikmat, tetap saja kita
suka menggigit lengkuas yang pahit.
Pertama kali berkemah gak mungkin bisa saya lupakan, sama
seperti cinta pertama lah ya, hehe.
FYI:
- Fuad juga pernah kehilangan sempak saat mandi di WC yang
sama, hmmm?
- Kalian bisa bawa beras dari rumah, lalu meminta tolong buat dimasakin di warung yang ada di sana, biaya masaknya lupa.
- Ada beberapa curug yang tersedia di sana, yang membedakan jarak dan jalur tempuhnya aja.
Kapan nih han?
BalasHapusGue ama temen wacana ke curug ngga jadi². Sekalian kemping gini enak yak.