Selasa, 27 Oktober 2020

Di Bawah Langit Stuttgart

Chaddrik mematikan televisi dan membuang remotnya ke sofa. Dia bosan melihat semua saluran televisi menyiarkan berita tentang COVID-19. Sudah 2 minggu sejak COVID-19 berhasil memasuki Jerman, dia harus stay at home karena anjuran pemerintah di sana.

Chaddrik Purnomo; mahasiswa keturunan Indonesia-Bosnia yang berkuliah di Universitas Stuttgart; Fakultas Teknik Mesin. Di sini dia tinggal di sebuah apartemen. Walaupun Stuttgart bukan menjadi kota dengan cases positive tertinggi di Jerman, tetapi di sana juga menerima pembatasan dan penutupan perjalanan ke luar negeri.

Kegiatan sehari-hari yang biasa dia lakukan dengan menghabiskan waktu di kampus, kini terpaksa dilakukan di ruang apartemennya yang bertipe studio dengan 1 kamar di dalamnya. Perasaan bosan pelan-pelan menggerogoti pikiran Chaddrik.

“Hallo Drik, kamu di mana?” tanya seorang wanita dari dalam layar hape Chaddrik.

Chaddrik datang ke hadapan hape membawa segelas teh hangat. “Hallo Ma!! Aku abis bikin teh hangat tadi.”

“Kok rambutmu belum dicukur juga?” Tanya wanita yang juga Mama Chaddrik.

Chaddrik menenggak teh hangatnya sebelum menjawab. “Aku belum berani untuk ke pangkas rambut di sekitar sini. Biarin aja gondrong dulu, kabar Mama masih sehat kan?”

Mama Chaddrik tersenyum dahulu sebelum menjawab pertanyaan anaknya. Video call menjadi jembatan komunikasi diantara Mama dan Chaddrik yang terhalang jarak dan benua. Saat pandemi seperti ini, Mama Chaddrik lebih sering menghubungi anaknya dibandingkan sebelum pandemic. Sehari bisa 2 sampai 3 kali Mama menghubungi Chaddrik untuk memastikan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.

Setelah video call bersama Mamanya. Chaddrik video call lagi bersama teman-teman kampusnya. Chaddrik banyak bergaul dengan mahasiswa rantau yang sama sepertinya. Dan sekarang nasib mereka juga sama semua, tidak bisa pulang dan terjebak di kota Stuttgart.

“Sampai jumpa…” ucap semua teman-teman Chaddrik juga dirinya lalu video call berakhir.

Chaddrik menenggak teh hangatnya pagi ini hingga habis. Lalu berjalan ke luar balkon, menatap apartemen kosong di sebrangnya dan langit Stuttgart yang biru. “Sampai kapan??” ucapnya kepada langit Stuttgart seraya berdoa agar pandemi ini musnah dari muka bumi.

Puas menatap langit Stuttgart, Chaddrik masuk dan ingin membuat sarapan untuk dirinya. Saat mengambil telur di kulkas, dia melihat stok makanan di kulkas sudah menipis. Namun, dia menghiraukannya dahulu dan lanjut membuat sarapan. Satu telur mata sapi yang dilapisi roti tawar jadi amunisinya untuk mengawali hari ini.

Lagu “Wonderwall” dari Oasis mengisi ruang apartemen Chaddrik sambil dia mengisi makanan ke dalam perutnya. Sebenernya Chaddrik sudah bingung ingin melakukan kegiatan apa lagi selagi menunggu penerbangan ke Indonesia diperbolehkan. Karena peraturan di Jerman saat pandemi ini melarang warganya untuk bepergian bila tidak ada kepentingan. Jika melanggar bisa didenda dengan nominal yang cukup lumayan.

Waistbag dikalungkang ke bahu, dengan sepatu hitam, bercelana pendek, dan memakai kaos hitam yang dilapisi jaket berwarna army. Chaddrik siap pergi ke supermarket untuk berbelanja stok makanan. Baru keluar sebentar dari pintu apartemennya, dia kembali lagi untuk mengambil masker yang tertinggal.

“Untung aja inget.”

Chaddrik berjalan menuju supermarket yang berjarak 10 menit dari apartemennya. Tidak ada keramaian yang terlihat, hanya beberapa orang berjalan sendiri menggunakan masker. Beberapa tempat makan di sekitar apartemennya juga tidak menyediakan makan di tempat, semuannya memberlakukan take away.

Di supermarket, Chaddrik tidak diperbolehkan masuk terlebih dahulu oleh satpam; karena jumlah pengunjung yang sudah penuh. Terpaksa dia harus menunggu di depan supermarket bersama beberapa pengunjung lainnya untuk bisa masuk. 5 menit berlalu, akhirnya Chaddrik dan beberapa pengunjung lainnya diperbolehkan masuk.

Chaddrik menenteng keranjang dan berjalan menuju rak telur. Setelah dari situ, dia berjalan lagi mencari rak yang berisikan roti tawar dan beberapa buah-buahan. Karena tidak fokus, dia menabrak seorang ibu yang sedang berdiri di depan rak mie instan.

“Maap Bu,” ucap Chaddrik.

“Oh tentu, tidak apa-apa,” jawab Ibunya yang memakai kacamata hitam dan masker putih.

“Terima kasih. Semoga harinya menyenangkan, Bu.”

Ibunya tersenyum. “Kau juga.”

Chaddrik segera mengambil buah-buahan dan berjalan ke kasir untuk membayar. Sepulangnya dari supermarket. Dia menata barang belanjaannya ke tempatnya masing-masing. Setelah itu pergi ke kamar menyatukan tubuhnya dengan kasur lalu matanya pelan-pelan terpejam.

Dua minggu kemudian.

Janggut Chaddrik semakin lebat dan sudah tersambung ke area jenggot, rambutnya pun juga. “Mirip Pirlo nih,” ujarnya saat berkaca.

Tiga hari yang lalu dia sudah memberanikan diri pergi ke pangkas rambut namun, nyalinya menciut karena membaca berita di media yang berisikan tentang penularan COVID-19 dari petugas pangkas rambut.

Setelah video call rutin bersama Mama di pagi hari. Chaddrik yang sedang meneguk teh hangatnya dibuat fokus dengan kegiatan penghuni apartemen di sebrang balkonnya. Terlihat seorang wanita sedang bolak-balik membawa kardus yang diyakini Chaddrik berisikan barang pindahan.

“Eh serius??” Chaddrik kaget saat melihat wanita itu mengeluarkan wayang kulit dari dalam kardus pindahannya.

Masih memegang gelas berisi teh, Chaddrik menuju arah balkon dan terus mengamati aktivitas wanita itu. Selain wayang kulit, dia juga mengeluarkan; blangkon dan beberapa lukisan.

Senyum tipis muncul dari mulut Chaddrik, seperti keajaiban bisa bertemu sesama warga Indonesia di sini, pikirnya.

“HEYYYYYYYY,” teriak Chaddrik dari balkonnya mencoba berinteraksi dengan wanita di sebrang.

Wanita itu tidak bergeming, tangannya tetap mengeluarkan barang-barang dari dalam kardusnya.

“HALLLOO MBAAAAA, KITA INDONESIAAAA!!!!” Chaddrik mencobanya lagi. Namun, juga gagal. “Ngapain ya gua bawa-bawa Indonesia?”  Lalu Chaddrik tertawa.

Chaddrik berteriak lagi sambil melambai-lambaikan tangannya.

Berjoget poco-poco.

Goyang Maumere.

Menggorok lehernya.

Yang terakhir tidak dilakukan Chaddrik.

Merasa usahanya sia-sia, Chaddrik memutuskan kembali ke dalam apartemennya dan melenyapkan tubuhnya ke kasur. Sebelumnya, wanita itu ke balkonnya dan melihat Chaddrik berjalan memasuki apartemennya. Ternyata langit Stuttgart belum merestui mereka untuk saling mengetahui.

Malamnya, saat Chaddrik sedang berselancar di dunia maya. Wanita itu sedang melukis di balkonnya. Chaddrik yang tidak sengaja menoleh ke luar dan melihatnya langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan.

Bulan sedang bersinar malam itu, suasana sunyi dan angin yang terus berhembus membuat kota Stuttgart lebih dingin dari biasanya. Chaddrik memegang pembatas balkon lalu berteriak lagi ke arah wanita di sebrang yang sedang melukis.

Wanita itu terlihat masih fokus dengan lukisan, tangannya terus menari di atas kanvas. Bulan yang terang malam ini menjadikannya objek indah untuk dilukis.

Chaddrik belum menyerah, tangannya melambai-lambai untuk membuyarkan fokus wanita di sebrang. Dari balik canvas, wanita itu menoleh ke arah Chaddrik. Usahanya berhasil!

Chaddrik langsung berteriak. “Kamu orang Indonesia juga???” tanyanya. Bukan respon dari wanita yang didapat, malah dari tetangga kamar apartemennya yang berteriak untuk tidak berisik.

Tangan si wanita menyingkirkan canvasnya dari pandangan, lalu memandang Chaddrik dari balkonnya. Chaddrik mencoba terus berkomunikasi dengannya. Wanita itu menunjuk ke dirinya sendiri memastikan Chaddrik mengajaknya berbicara.

Chaddrik yang paham lalu berujar. “Iya, kamu,” sambil menujuk ke arah wanita.

Wanita itu lalu merespon dengan menunjuk telinga lalu mulutnya diakhiri tangannya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti gestur “dadah”.

Chaddrik melihatnya heran. “Kok malah dadah?”

Melihat eskpresi Chaddrik heran, wanita itu memasuki balkon.

“Yah, beneran dadah.”

Tiba-tiba wanita itu keluar lagi dengan membawa kertas dan spidol. Tangannya menuliskan sesuatu di secarik kertas lalu membentangkannya agar Chaddrik bisa membaca.

“Eh,” Chaddrik kaget membaca kertas yang bertuliskan “Saya tuli.”

Chaddrik langsung merespon dengan masuk ke apartnya dan keluar membawa secarik kertas juga spidol. Chaddrik membentangkan kertas yang bertuliskan “Tidak apa-apa. Nama saya Chaddrik.”

Lalu wanita itu menuliskan namanya di kertas sambil tersenyum.

“Saya Agatha”

Tulisnya di secarik kertas.

Karena malam makin larut, Chaddrik pamit tidur ke Agatha dengan bahasa isyarat yang dibuat Chaddrik sendiri, Agatha yang mengerti maksudnya membalas tersenyum dan melambaikan tangannya dan Chaddrik membalas.

Matanya saling menatap terang bagai bulan yang sedang gagah-gagahnya menyinari kota Stuttgart. Dinginnya kota Stuttgart malam itu juga terkalahkan hangatnya perkenalan diantara Chaddrik dan Agatha.

Pukul 7 pagi, Chaddrik sudah duduk mengotak-atik laptop. Tangannya bergerak mengikuti arahan video di laptop. Ternyata dia sedang belajar berbahasa isyarat. Sesuatu hal baru yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya. Alasannya tidak lain agar bisa lancar berkomunikasi dengan Agatha, tanpa perlu capek-capek menulis di kertas lalu membentangkannya.

Hape Chaddrik berdering, “kunjungan besuk” dari sang Mama.

“Hallo Ma,” ucap Chaddrik yang aura bahagianya keluar.

Mamanya yang sadar ada sesuatu yang beda dari Chaddrik lalu bertanya. “Ada apa nih? Kayanya Mama liat kamu beda.”

Chaddrik tertawa. “Aku semalam baru kenalan sama perempuan Mah, dia tinggal di apartemen sebelah. Orang Indonesia juga.”

“Ohya? Coba gimana ceritain.” Mamanya excited.

Chaddrik menjelaskan kejadian semalam dari awalnya dia berusaha mengalihkan perhatian si Agatha lalu saling berbalas pesan melalui secarik kertas yang dibentangkan. Respon si Mama tersenyum dan sesekali tertawa mendengar penjelasan anaknya itu.

Si Mama tidak ingin merusak kebahagiaan Chaddrik. Kebahagiaan yang sangat dibutuhkan di masa pandemi seperti ini.

“Yaudah, gondrong banget sih kamu. Nanti kalo udah sedikit reda pandeminya langsung cukur ya. Jelek tau. Udah dulu ya Sayang. Jaga kesehatan. Dah!”

“Iya Mah, Sayang Mamah juga.”

Obrolan mereka selesai.

Agatha sedang melukis di balkonnya, lalu dia menoleh karena merasa ada kehadiran seseorang. Ternyata Chaddrik di sebrang sedang melambai-lambai ke arahnya. Lanjut si Chaddrik mengangkat mangkuk berisikan mie yang sebelumnya ia masak dengan maksud menawarkan Agatha makan. Agatha membalas dengan senyum dan anggukan kecil.

Chaddrik yang sedang makan melihat Agatha menyingkirkan canvasnya lalu mengajak dia berbicara bahasa isyarat. Chaddrik hanya diam karena tidak mengerti apa yang disampaikan Agatha. Hasil belajar bahasa isyarat tadi pagi belum cukup memahami bahasa isyarat yang digunakan Agatha.

Tiba-tiba Chaddrik terpikirkan untuk memastikan Agatha juga keturunan Indonesia sama sepertinya. Namun, Chaddrik masih bingung caranya.

“Gamungkin deh,” ucapnya sambil melihat mangkuk mie. Dia berfikir untuk menambahkan nasi di mie lalu dengan bangga menunjukkan ke Agatha. Karena makan mie pakai nasi itu Indonesia banget!

Akhirnya Chaddrik menggerakkan mulutnya pelan-pelan mengucapkan kata “sebentar”. Agatha mengangguk tanda mengerti. Chaddrik masuk ke apart lalu mengotak-atik laptopnya. Tidak lama Chaddrik keluar lagi dengan menunjukkan layar laptop ber-background bendera merah putih.

Agatha paham lalu masuk ke apartnya dan keluar membawa bendera merah putih. Saat membentangkan bendera, Chaddrik merespon dengan bingung. Agatha lalu tersadar bahwa dia membentangkan dengan posisi yang salah; putih di atas, merah di bawah. Sambil tertawa, Agatha membenarkan posisi benderanya dan Chaddrik juga tertawa. Akhirnya mereka berdua tertawa bersama dari balkonnya masing-masing.

Waktu berlalu cepat seperti angin yang berhembus di hadapan mereka. Hari demi hari Chaddrik terus mempelajari bahasa isyarat melalui internet. Begitu juga Agatha yang tidak segan mengajari Chaddrik berbahasa isyarat dari kejauhan.

Lama kelamaan Chaddrik memahami bahasa isyarat. Bahagia menyelimuti relung hatinya. Bahagia karena bisa mengobrol dengan Agatha tanpa halangan. Walau sunyi menemani obrolan mereka namun, mereka ramai didalam dunianya.

Sesekali Agatha menunjukkan beberapa koleksinya yang dibawa dari Indonesia. Selain melukis, Agatha juga suka tokoh pewayangan. Dia menjelaskan kesukaannya tersebut di hadapan Chaddrik dari balkonnya. Chaddrik bertepuk tangan saat Agatha selesai bercerita tentang kesukaannya.

“Aku boleh ke apartemen kamu?” tanya Chaddrik saat mereka berdua asik mengobrol.

Agatha menggelengkan kepalanya lalu dua tangannya dijejerkan, satu tangan bergerak menjauh seperti menjaga jarak. Chaddrik mengerti maksudnya dan mengangguk sambil tersenyum mengiyakan jawaban Agatha.

1 bulan 2 minggu berlalu.

Kondisi pandemi yang sudah membaik di Jerman berimbas diperbolehkannya transportasi udara kembali berjalan. Mama Chaddrik mengabari anaknya bahwa tiket pesawat tujuan ke Indonesia sudah dipesan, walaupun keadaan pandemi di Indonesia belum membaik Chaddrik harus tetap pulang agar bisa berkumpul bersama keluarganya.

“Aku besok mau pulang ke Indonesia,” ucap Chaddrik ke Agatha melalui bahasa isyarat pada malam hari.

“Kok tiba-tiba?”

“Iya, Mamaku sudah pesan tiketnya jauh-jauh hari. Dan baru dikabari kemarin.”

“Terus kapan ke sini lagi?”

“Belum tau, keluarga sudah menunggu di Indonesia.”

Agatha terlihat sedih dan mengusap air mata.

Chaddrik melihatnya. “Jangan sedih, nanti kita bisa bertemu lagi. Ohiya, nomor hape-mu berapa? Nanti aku bisa telpon kamu dari Indonesia.”

Lalu Agatha menyebutkan nomor hape dengan menggunakan jari. Setelah itu mereka saling berpamitan dan memasuki apartemennya masing-masing ditemani dinginnya malam itu.

Agatha, sebelum kamu membaca keseluruhan suratnya. Aku mau kamu tersenyum dulu di depan pesanku ini. Karena senyummu mampu menentramkan suasana di sekitarmu termasuk; aku yang bisa merasakan damainya dari sini.

Aku berterima kasih ke kamu karena mau menjadi teman baikku. Sebelum melihatmu beres-beres kardus di pagi itu, waktu berjalan begitu lama bagiku. Namun, sejak mengenalmu; aku tidak merasakannya lagi. Ajaibnya sang waktu bergulir cepat sampai aku mau memberhentikannya di saat kita sedang berbicara bersama.

Awalnya saat kita berkenalan, aku ingin meminta nomor hape kamu, tetapi kuurungkan karena melihat kamu yang berbeda dari yang lain. Aku mau berbicara denganmu secara langsung tanpa ada teknologi yang memudahkan itu semua.

Kamu pernah bilang bahwa dirimu tidak sempurna. Kamu salah, Tha. Kamu itu sempurna karena ketidaksempurnaan kamu. Aku banyak belajar dari kamu, obrolan-obrolan kita, dan segalanya yang kamu bilang sebagai ketidaksempurnaan kamu

Maaf jika aku mendadak mengabari kepergianku, tetapi ini yang harus aku dan kamu terima. Kita tidak akan pernah jauh. Dan kamu jadi orang pertama yang kuceritakan saat sampai di Indonesia; tanah air kita.

Terima kasih, Agatha.

Di pagi yang cerah nan sunyi. Tidak ada air mata yang keluar dari mata Agatha setelah membaca pesan Chaddrik.

Agatha tersenyum dan memandang apartemen di sebrang balkonnya; tidak berpenghuni namun, ramai dalam ingatan.