Selasa, 27 Oktober 2020

Di Bawah Langit Stuttgart

Chaddrik mematikan televisi dan membuang remotnya ke sofa. Dia bosan melihat semua saluran televisi menyiarkan berita tentang COVID-19. Sudah 2 minggu sejak COVID-19 berhasil memasuki Jerman, dia harus stay at home karena anjuran pemerintah di sana.

Chaddrik Purnomo; mahasiswa keturunan Indonesia-Bosnia yang berkuliah di Universitas Stuttgart; Fakultas Teknik Mesin. Di sini dia tinggal di sebuah apartemen. Walaupun Stuttgart bukan menjadi kota dengan cases positive tertinggi di Jerman, tetapi di sana juga menerima pembatasan dan penutupan perjalanan ke luar negeri.

Kegiatan sehari-hari yang biasa dia lakukan dengan menghabiskan waktu di kampus, kini terpaksa dilakukan di ruang apartemennya yang bertipe studio dengan 1 kamar di dalamnya. Perasaan bosan pelan-pelan menggerogoti pikiran Chaddrik.

“Hallo Drik, kamu di mana?” tanya seorang wanita dari dalam layar hape Chaddrik.

Chaddrik datang ke hadapan hape membawa segelas teh hangat. “Hallo Ma!! Aku abis bikin teh hangat tadi.”

“Kok rambutmu belum dicukur juga?” Tanya wanita yang juga Mama Chaddrik.

Chaddrik menenggak teh hangatnya sebelum menjawab. “Aku belum berani untuk ke pangkas rambut di sekitar sini. Biarin aja gondrong dulu, kabar Mama masih sehat kan?”

Mama Chaddrik tersenyum dahulu sebelum menjawab pertanyaan anaknya. Video call menjadi jembatan komunikasi diantara Mama dan Chaddrik yang terhalang jarak dan benua. Saat pandemi seperti ini, Mama Chaddrik lebih sering menghubungi anaknya dibandingkan sebelum pandemic. Sehari bisa 2 sampai 3 kali Mama menghubungi Chaddrik untuk memastikan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.

Setelah video call bersama Mamanya. Chaddrik video call lagi bersama teman-teman kampusnya. Chaddrik banyak bergaul dengan mahasiswa rantau yang sama sepertinya. Dan sekarang nasib mereka juga sama semua, tidak bisa pulang dan terjebak di kota Stuttgart.

“Sampai jumpa…” ucap semua teman-teman Chaddrik juga dirinya lalu video call berakhir.

Chaddrik menenggak teh hangatnya pagi ini hingga habis. Lalu berjalan ke luar balkon, menatap apartemen kosong di sebrangnya dan langit Stuttgart yang biru. “Sampai kapan??” ucapnya kepada langit Stuttgart seraya berdoa agar pandemi ini musnah dari muka bumi.

Puas menatap langit Stuttgart, Chaddrik masuk dan ingin membuat sarapan untuk dirinya. Saat mengambil telur di kulkas, dia melihat stok makanan di kulkas sudah menipis. Namun, dia menghiraukannya dahulu dan lanjut membuat sarapan. Satu telur mata sapi yang dilapisi roti tawar jadi amunisinya untuk mengawali hari ini.

Lagu “Wonderwall” dari Oasis mengisi ruang apartemen Chaddrik sambil dia mengisi makanan ke dalam perutnya. Sebenernya Chaddrik sudah bingung ingin melakukan kegiatan apa lagi selagi menunggu penerbangan ke Indonesia diperbolehkan. Karena peraturan di Jerman saat pandemi ini melarang warganya untuk bepergian bila tidak ada kepentingan. Jika melanggar bisa didenda dengan nominal yang cukup lumayan.

Waistbag dikalungkang ke bahu, dengan sepatu hitam, bercelana pendek, dan memakai kaos hitam yang dilapisi jaket berwarna army. Chaddrik siap pergi ke supermarket untuk berbelanja stok makanan. Baru keluar sebentar dari pintu apartemennya, dia kembali lagi untuk mengambil masker yang tertinggal.

“Untung aja inget.”

Chaddrik berjalan menuju supermarket yang berjarak 10 menit dari apartemennya. Tidak ada keramaian yang terlihat, hanya beberapa orang berjalan sendiri menggunakan masker. Beberapa tempat makan di sekitar apartemennya juga tidak menyediakan makan di tempat, semuannya memberlakukan take away.

Di supermarket, Chaddrik tidak diperbolehkan masuk terlebih dahulu oleh satpam; karena jumlah pengunjung yang sudah penuh. Terpaksa dia harus menunggu di depan supermarket bersama beberapa pengunjung lainnya untuk bisa masuk. 5 menit berlalu, akhirnya Chaddrik dan beberapa pengunjung lainnya diperbolehkan masuk.

Chaddrik menenteng keranjang dan berjalan menuju rak telur. Setelah dari situ, dia berjalan lagi mencari rak yang berisikan roti tawar dan beberapa buah-buahan. Karena tidak fokus, dia menabrak seorang ibu yang sedang berdiri di depan rak mie instan.

“Maap Bu,” ucap Chaddrik.

“Oh tentu, tidak apa-apa,” jawab Ibunya yang memakai kacamata hitam dan masker putih.

“Terima kasih. Semoga harinya menyenangkan, Bu.”

Ibunya tersenyum. “Kau juga.”

Chaddrik segera mengambil buah-buahan dan berjalan ke kasir untuk membayar. Sepulangnya dari supermarket. Dia menata barang belanjaannya ke tempatnya masing-masing. Setelah itu pergi ke kamar menyatukan tubuhnya dengan kasur lalu matanya pelan-pelan terpejam.

Dua minggu kemudian.

Janggut Chaddrik semakin lebat dan sudah tersambung ke area jenggot, rambutnya pun juga. “Mirip Pirlo nih,” ujarnya saat berkaca.

Tiga hari yang lalu dia sudah memberanikan diri pergi ke pangkas rambut namun, nyalinya menciut karena membaca berita di media yang berisikan tentang penularan COVID-19 dari petugas pangkas rambut.

Setelah video call rutin bersama Mama di pagi hari. Chaddrik yang sedang meneguk teh hangatnya dibuat fokus dengan kegiatan penghuni apartemen di sebrang balkonnya. Terlihat seorang wanita sedang bolak-balik membawa kardus yang diyakini Chaddrik berisikan barang pindahan.

“Eh serius??” Chaddrik kaget saat melihat wanita itu mengeluarkan wayang kulit dari dalam kardus pindahannya.

Masih memegang gelas berisi teh, Chaddrik menuju arah balkon dan terus mengamati aktivitas wanita itu. Selain wayang kulit, dia juga mengeluarkan; blangkon dan beberapa lukisan.

Senyum tipis muncul dari mulut Chaddrik, seperti keajaiban bisa bertemu sesama warga Indonesia di sini, pikirnya.

“HEYYYYYYYY,” teriak Chaddrik dari balkonnya mencoba berinteraksi dengan wanita di sebrang.

Wanita itu tidak bergeming, tangannya tetap mengeluarkan barang-barang dari dalam kardusnya.

“HALLLOO MBAAAAA, KITA INDONESIAAAA!!!!” Chaddrik mencobanya lagi. Namun, juga gagal. “Ngapain ya gua bawa-bawa Indonesia?”  Lalu Chaddrik tertawa.

Chaddrik berteriak lagi sambil melambai-lambaikan tangannya.

Berjoget poco-poco.

Goyang Maumere.

Menggorok lehernya.

Yang terakhir tidak dilakukan Chaddrik.

Merasa usahanya sia-sia, Chaddrik memutuskan kembali ke dalam apartemennya dan melenyapkan tubuhnya ke kasur. Sebelumnya, wanita itu ke balkonnya dan melihat Chaddrik berjalan memasuki apartemennya. Ternyata langit Stuttgart belum merestui mereka untuk saling mengetahui.

Malamnya, saat Chaddrik sedang berselancar di dunia maya. Wanita itu sedang melukis di balkonnya. Chaddrik yang tidak sengaja menoleh ke luar dan melihatnya langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan.

Bulan sedang bersinar malam itu, suasana sunyi dan angin yang terus berhembus membuat kota Stuttgart lebih dingin dari biasanya. Chaddrik memegang pembatas balkon lalu berteriak lagi ke arah wanita di sebrang yang sedang melukis.

Wanita itu terlihat masih fokus dengan lukisan, tangannya terus menari di atas kanvas. Bulan yang terang malam ini menjadikannya objek indah untuk dilukis.

Chaddrik belum menyerah, tangannya melambai-lambai untuk membuyarkan fokus wanita di sebrang. Dari balik canvas, wanita itu menoleh ke arah Chaddrik. Usahanya berhasil!

Chaddrik langsung berteriak. “Kamu orang Indonesia juga???” tanyanya. Bukan respon dari wanita yang didapat, malah dari tetangga kamar apartemennya yang berteriak untuk tidak berisik.

Tangan si wanita menyingkirkan canvasnya dari pandangan, lalu memandang Chaddrik dari balkonnya. Chaddrik mencoba terus berkomunikasi dengannya. Wanita itu menunjuk ke dirinya sendiri memastikan Chaddrik mengajaknya berbicara.

Chaddrik yang paham lalu berujar. “Iya, kamu,” sambil menujuk ke arah wanita.

Wanita itu lalu merespon dengan menunjuk telinga lalu mulutnya diakhiri tangannya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti gestur “dadah”.

Chaddrik melihatnya heran. “Kok malah dadah?”

Melihat eskpresi Chaddrik heran, wanita itu memasuki balkon.

“Yah, beneran dadah.”

Tiba-tiba wanita itu keluar lagi dengan membawa kertas dan spidol. Tangannya menuliskan sesuatu di secarik kertas lalu membentangkannya agar Chaddrik bisa membaca.

“Eh,” Chaddrik kaget membaca kertas yang bertuliskan “Saya tuli.”

Chaddrik langsung merespon dengan masuk ke apartnya dan keluar membawa secarik kertas juga spidol. Chaddrik membentangkan kertas yang bertuliskan “Tidak apa-apa. Nama saya Chaddrik.”

Lalu wanita itu menuliskan namanya di kertas sambil tersenyum.

“Saya Agatha”

Tulisnya di secarik kertas.

Karena malam makin larut, Chaddrik pamit tidur ke Agatha dengan bahasa isyarat yang dibuat Chaddrik sendiri, Agatha yang mengerti maksudnya membalas tersenyum dan melambaikan tangannya dan Chaddrik membalas.

Matanya saling menatap terang bagai bulan yang sedang gagah-gagahnya menyinari kota Stuttgart. Dinginnya kota Stuttgart malam itu juga terkalahkan hangatnya perkenalan diantara Chaddrik dan Agatha.

Pukul 7 pagi, Chaddrik sudah duduk mengotak-atik laptop. Tangannya bergerak mengikuti arahan video di laptop. Ternyata dia sedang belajar berbahasa isyarat. Sesuatu hal baru yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya. Alasannya tidak lain agar bisa lancar berkomunikasi dengan Agatha, tanpa perlu capek-capek menulis di kertas lalu membentangkannya.

Hape Chaddrik berdering, “kunjungan besuk” dari sang Mama.

“Hallo Ma,” ucap Chaddrik yang aura bahagianya keluar.

Mamanya yang sadar ada sesuatu yang beda dari Chaddrik lalu bertanya. “Ada apa nih? Kayanya Mama liat kamu beda.”

Chaddrik tertawa. “Aku semalam baru kenalan sama perempuan Mah, dia tinggal di apartemen sebelah. Orang Indonesia juga.”

“Ohya? Coba gimana ceritain.” Mamanya excited.

Chaddrik menjelaskan kejadian semalam dari awalnya dia berusaha mengalihkan perhatian si Agatha lalu saling berbalas pesan melalui secarik kertas yang dibentangkan. Respon si Mama tersenyum dan sesekali tertawa mendengar penjelasan anaknya itu.

Si Mama tidak ingin merusak kebahagiaan Chaddrik. Kebahagiaan yang sangat dibutuhkan di masa pandemi seperti ini.

“Yaudah, gondrong banget sih kamu. Nanti kalo udah sedikit reda pandeminya langsung cukur ya. Jelek tau. Udah dulu ya Sayang. Jaga kesehatan. Dah!”

“Iya Mah, Sayang Mamah juga.”

Obrolan mereka selesai.

Agatha sedang melukis di balkonnya, lalu dia menoleh karena merasa ada kehadiran seseorang. Ternyata Chaddrik di sebrang sedang melambai-lambai ke arahnya. Lanjut si Chaddrik mengangkat mangkuk berisikan mie yang sebelumnya ia masak dengan maksud menawarkan Agatha makan. Agatha membalas dengan senyum dan anggukan kecil.

Chaddrik yang sedang makan melihat Agatha menyingkirkan canvasnya lalu mengajak dia berbicara bahasa isyarat. Chaddrik hanya diam karena tidak mengerti apa yang disampaikan Agatha. Hasil belajar bahasa isyarat tadi pagi belum cukup memahami bahasa isyarat yang digunakan Agatha.

Tiba-tiba Chaddrik terpikirkan untuk memastikan Agatha juga keturunan Indonesia sama sepertinya. Namun, Chaddrik masih bingung caranya.

“Gamungkin deh,” ucapnya sambil melihat mangkuk mie. Dia berfikir untuk menambahkan nasi di mie lalu dengan bangga menunjukkan ke Agatha. Karena makan mie pakai nasi itu Indonesia banget!

Akhirnya Chaddrik menggerakkan mulutnya pelan-pelan mengucapkan kata “sebentar”. Agatha mengangguk tanda mengerti. Chaddrik masuk ke apart lalu mengotak-atik laptopnya. Tidak lama Chaddrik keluar lagi dengan menunjukkan layar laptop ber-background bendera merah putih.

Agatha paham lalu masuk ke apartnya dan keluar membawa bendera merah putih. Saat membentangkan bendera, Chaddrik merespon dengan bingung. Agatha lalu tersadar bahwa dia membentangkan dengan posisi yang salah; putih di atas, merah di bawah. Sambil tertawa, Agatha membenarkan posisi benderanya dan Chaddrik juga tertawa. Akhirnya mereka berdua tertawa bersama dari balkonnya masing-masing.

Waktu berlalu cepat seperti angin yang berhembus di hadapan mereka. Hari demi hari Chaddrik terus mempelajari bahasa isyarat melalui internet. Begitu juga Agatha yang tidak segan mengajari Chaddrik berbahasa isyarat dari kejauhan.

Lama kelamaan Chaddrik memahami bahasa isyarat. Bahagia menyelimuti relung hatinya. Bahagia karena bisa mengobrol dengan Agatha tanpa halangan. Walau sunyi menemani obrolan mereka namun, mereka ramai didalam dunianya.

Sesekali Agatha menunjukkan beberapa koleksinya yang dibawa dari Indonesia. Selain melukis, Agatha juga suka tokoh pewayangan. Dia menjelaskan kesukaannya tersebut di hadapan Chaddrik dari balkonnya. Chaddrik bertepuk tangan saat Agatha selesai bercerita tentang kesukaannya.

“Aku boleh ke apartemen kamu?” tanya Chaddrik saat mereka berdua asik mengobrol.

Agatha menggelengkan kepalanya lalu dua tangannya dijejerkan, satu tangan bergerak menjauh seperti menjaga jarak. Chaddrik mengerti maksudnya dan mengangguk sambil tersenyum mengiyakan jawaban Agatha.

1 bulan 2 minggu berlalu.

Kondisi pandemi yang sudah membaik di Jerman berimbas diperbolehkannya transportasi udara kembali berjalan. Mama Chaddrik mengabari anaknya bahwa tiket pesawat tujuan ke Indonesia sudah dipesan, walaupun keadaan pandemi di Indonesia belum membaik Chaddrik harus tetap pulang agar bisa berkumpul bersama keluarganya.

“Aku besok mau pulang ke Indonesia,” ucap Chaddrik ke Agatha melalui bahasa isyarat pada malam hari.

“Kok tiba-tiba?”

“Iya, Mamaku sudah pesan tiketnya jauh-jauh hari. Dan baru dikabari kemarin.”

“Terus kapan ke sini lagi?”

“Belum tau, keluarga sudah menunggu di Indonesia.”

Agatha terlihat sedih dan mengusap air mata.

Chaddrik melihatnya. “Jangan sedih, nanti kita bisa bertemu lagi. Ohiya, nomor hape-mu berapa? Nanti aku bisa telpon kamu dari Indonesia.”

Lalu Agatha menyebutkan nomor hape dengan menggunakan jari. Setelah itu mereka saling berpamitan dan memasuki apartemennya masing-masing ditemani dinginnya malam itu.

Agatha, sebelum kamu membaca keseluruhan suratnya. Aku mau kamu tersenyum dulu di depan pesanku ini. Karena senyummu mampu menentramkan suasana di sekitarmu termasuk; aku yang bisa merasakan damainya dari sini.

Aku berterima kasih ke kamu karena mau menjadi teman baikku. Sebelum melihatmu beres-beres kardus di pagi itu, waktu berjalan begitu lama bagiku. Namun, sejak mengenalmu; aku tidak merasakannya lagi. Ajaibnya sang waktu bergulir cepat sampai aku mau memberhentikannya di saat kita sedang berbicara bersama.

Awalnya saat kita berkenalan, aku ingin meminta nomor hape kamu, tetapi kuurungkan karena melihat kamu yang berbeda dari yang lain. Aku mau berbicara denganmu secara langsung tanpa ada teknologi yang memudahkan itu semua.

Kamu pernah bilang bahwa dirimu tidak sempurna. Kamu salah, Tha. Kamu itu sempurna karena ketidaksempurnaan kamu. Aku banyak belajar dari kamu, obrolan-obrolan kita, dan segalanya yang kamu bilang sebagai ketidaksempurnaan kamu

Maaf jika aku mendadak mengabari kepergianku, tetapi ini yang harus aku dan kamu terima. Kita tidak akan pernah jauh. Dan kamu jadi orang pertama yang kuceritakan saat sampai di Indonesia; tanah air kita.

Terima kasih, Agatha.

Di pagi yang cerah nan sunyi. Tidak ada air mata yang keluar dari mata Agatha setelah membaca pesan Chaddrik.

Agatha tersenyum dan memandang apartemen di sebrang balkonnya; tidak berpenghuni namun, ramai dalam ingatan.

Kamis, 17 September 2020

Menghidupkan

Hallo semuanya, bagaimana kabarnya? semoga kita masih waras menjalani hidup saat pandemi ini ya. aamiin

Saya mau membagikan cerita pendek yang waktu lalu Alhamdulillah jadi juara pertama di lomba cipta cerpen Festival Sastra dan Seni 2020 oleh HMPBSI Universitas Swirijaya.

Cerita ini bertemakan "Untukmu Indonesiaku", selamat membaca! 

-------------------------------------------------

Hasbi berjalan menuju rumahnya sambil menenteng satu kantung kresek, ditemani senja yang akan lenyap digantikan gelapnya malam. Satu kantung kresek berisikan beberapa buah untuk istrinya di rumah, rutinitas yang dilakukannya sepulang bekerja.

 “Assalamualaikum,” Hasbi mengetuk pintu rumahnya.

Ratmi, istri Hasbi membukakan pintu, “Wallaikumsalam.”

“Kamu tambah cantik aja, Mi,” gombal Hasbi saat matanya; melihat istrinya yang tidak berubah, selalu cantik sampai kapanpun.

Lalu Ratmi menutup pintu.

Hasbi bingung. “Kenapa ditutup???”

Dari dalam, Ratmi berteriak. “Hukuman untuk orang yang suka gombal sepulang kerja.”

Hasbi merespon dengan tertawa, lalu membuka pintunya dan memeluk Ratmi penuh hangat, “Aku bawa buah-buahan untuk kamu,” ucapnya menunjukkan kantung kresek.

Ratmi menerima kantungnya dan membawanya ke dapur. Hasbi duduk di ruang tamu sembari melepaskan kemeja yang sudah lengket dengan keringatnya. Sesaat, Ratmi ke ruang tamu membawakan buah yang sudah disajikan dan siap disantap.

Saat tangan Hasbi ingin mengambil sepotong buah apel, tiba-tiba tangan Ratmi menangkisnya. “Mandi dulu!” Suruh Ratmi.

Hasbi merespon diam. Namun, tangannya perlahan mengambil kemeja yang tadi ia lepas, melemparkannya ke Ratmi sembari berlari ke kamar mandi. Ratmi cuma bisa mengelus dada melihat kelakuan suaminya sambil berteriak, “KAGAK JELASSSS!”

Suara televisi memenuhi ruang tamu Hasbi. Hasbi dan Ratmi fokus menonton sambil sesekali memakan apel yang tadi disajikan Ratmi

“Kamu besok jadi pergi?” tanya Ratmi sambil kepalanya disenderkan ke bahu suaminya.

“Jadi Sayang, aku kan harus nyiapin semuanya sebelum hari H nanti,” ujar Hasbi sambil tangannya membelai rambut hitam Ratmi, menghadirkan kehangatan suasana di ruang tamu mereka.

Sabtu menjelang siang, Hasbi sedang menyusuri pinggir rel kereta sambil menggendong tas berwarna hitamnya. Tidak lama, ia berbelok menuju sebuah pemukiman. Saat memasuki pemukiman, ternyata di sana Hasbi sudah ditunggu dua bocah laki-laki. Mereka Firman dan Andi.

Hasbi tersenyum lalu keduanya datang dan bergantian mencium tangan Hasbi, “Yang lain di mana?” Tanya Hasbi.

“Nah itu, saya mau cerita ke Bapak,” ucap Firman.

Hasbi mendadak serius. “Ada apa?”

Firman menceritakan ke Hasbi; banyak anak yang tidak mau ikut lagi membantu proyek yang dikerjakan bersama Hasbi dengan alasan yang belum diketahui. Hasbi yang mendengar itu kaget lalu bertanya, “Sisa kamu berdua doang?”.

“Gimana ya, Pak? Sebagian ikut-ikutan yang gamau ikutan lagi,” jawab Firman.

“Betul tuh.” Andi menambahkan.

Lalu Hasbi mengajak mereka berdua menjemput teman-temannya untuk mengajak lagi ikut ke proyek yang sedang mereka kerjakan. Di perjalanan, mereka bertemu Ketua RT.

“Gimana Has? Lancar buat nanti?” tanya Pak RT.

“Alhamdulillah, Pak.”

“Ditunggu ya nanti hasilnya, bantu pemukiman ini.”

“InsyaAllah Pak, doakan saja.”

Pak RT membalas senyum lalu pergi. Mereka meneruskan perjalannya. Tiba di rumah Sapri, tidak terlihat ada aktivitas di sana, Suasananya sepi, rumahnya juga terkunci dari luar. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Intan. Dalam proyek ini, Hasbi mengajak 5 anak laki-laki dan 3 anak perempuan untuk melancarkan proyeknya.

Sampai di rumah Intan, Intan yang melihat kedatangan Hasbi dan dua temannya itu langsung berlari ke belakang rumahnya. Hasbi kaget melihatnya.

“Assalamualaikum,” ujar Hasbi.

Dari dalam, keluar Ibunya Intan, “Wallaikumsalam, eh Pak Hasbi,” ujarnya mempersilahkan mereka masuk.

“Intan ada Bu?”

“Ada Pak.” Ibunya berteriak memanggil Intan, namun, tidak ada respon, “Duh, nih anak kemana sih,” lalu Ibunya pergi ke belakang. Tidak lama, Intan datang dari belakang dan disambut kedua temannya lalu mencium tangan Hasbi.

“Kamu kenapa gak mau ikut lagi?” tanya Hasbi.

Intan diam, “Soalnya Nani sama Uli nggak ikutan lagi Pak, aku malu cewek sendirian,” ucapnya pelan.

“Ayo ikut lagi dong!” Ajak Andi dan Firman.

Mendengar itu, Hasbi menceritakan tentang pahlawan wanita Indonesia yang bisa menjadi pemimpin perang. Perasaan Intan tergugah saat mendengar cerita dari Hasbi, begitu juga Firman dan Andi yang menyimaknya serius.

“Intan bantuin Bapak lagi ya,” ajak Hasbi.

Intan masih saja diam, ingin menjawab namun, perasaanya masih malu dan tidak enak. Hasbi meyakinkan kembali. Akhirnya Intan mau ikut. Hasbi senang, begitu juga Firman dan Andi yang sumringah mendengar jawaban Intan.

Langit berwarna oranye, sore telah hadir. Hasbi berhasil mengumpulkan 5 anak-anak yang sebelumnya berjumlah 8. Mereka; Firman, Andi, Intan, Nani, dan Ridho. Mereka berlatih di tanah lapang dekat pemukiman, latihan berjalan lancar walau Hasbi terlihat pusing memikirkan solusi untuk mengisi celah kosong di dalam timnya.

Malamnya, di ruang tamu, Ratmi melihat suaminya berbeda, seperti badannya di rumah, tetapi jiwanya entah di mana. Ratmi menegurnya, “Gimana latihannya? Lancar?”

Hasbi yang kaget lalu menjawab dengan lemas, “Gitu deh.”

“Ungkapin aja.”

Hasil mengambil posisi siap, lalu bercerita bahwa sebagian anak-anak gamau ikut bantu proyek yang sedang Hasbi persiapkan, beberapa beralasan dilarang orang tuanya dan semacamnya. Padahal acaranya 2 hari lagi. Ratmi mendengar dengan serius, Hasbi melanjutkan bahwa takut tidak sempurna saat proyeknya dijalankan nanti. Merasa tidak enak dengan Pak RT. Karena saat meminta izin Pak RT, beliau sangat antusias mendengarnya. Sebab sudah 10 tahun tidak ada kegiatan apa-apa di daerahnya tersebut.

Ratmi diam lalu tangannya mengepal tangan Hasbi, “Percaya bahwa segalanya udah dipersiapkan yang indah sama Allah. Jangan takut, anak-anak pasti sangat bahagia jika sudah melihat hasil yang kamu buat,” Hasbi merespon dengan menyenderkan kepalanya ke sofa biru sambil melihat langit-langit, “Kamu sendiri, bahagia banget waktu melihat wajah cerianya anak-anak saat kamu jelasin proyeknya. Sayang, cerianya anak-anak itu bagai cerahnya langit yang luas. Semua yang melihat akan ikut ceria nantinya,” lanjut Ratmi.

Ternyata Hasbi sudah tertidur pulas di sofa, Ratmi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya itu.

Pagi-pagi, Hasbi sudah berangkat menuju tempat latihannya kemarin. Di sana, semuanya sudah berkumpul; anak-anak dan kumpulan ibu-ibu. Di luar dugaan, lapangannya mau dipakai ibu-ibu senam pagi bersama-sama.

“Gimana Pak?” tanya Andi ke Hasbi.

“Yaudah, tungguin sampai selesai.”

Mereka ber-enam duduk di pinggir lapangan, menyaksikan ibu-ibu bergerak penuh enerjik diiringi lagu-lagu khas yang di-remix.

Hasbi berfikir, daripada cuma duduk dan menonton ibu-ibu senam, lebih baik mereka juga ikutan senam, “Ikut senam aja yuk semuanya,” ajak Hasbi menuju lapangan tanpa menghiraukan respon anak-anak.

Saat di lapangan, Hasbi hanya sendiri. Anak-anak masih duduk di pinggiran. Tidak lama mereka menyusulnya satu persatu-satu; Intan, Andi,dan semuanya ikut berlari lalu mengikuti gerakan instruktur senam di depan. Ada yang sungguh-sungguh mengikuti gerakan senam, ada juga yang gerakannya asal-asalan.

Tiba-tiba hp Hasbi berbunyi, ada panggilan masuk dari Ratmi. Hasbi menjauhi kerumunan.

“Assalamualaikum, iya kenapa Yang?” Hasbi membuka obrolan dengan nafas terengah karena gerakan senam.

“Kamu lagi latihan sama anak-anak?”

“Nggak, lagi senam, kenapa?”

Ratmi menjelaskan sesuatu kepada Hasbi. Selesai Ratmi menjelaskan, Hasbi menutup telponnya dan memasuki lagi ke kerumunan senam.

Anak-anak duduk di pinggir lapangan, keringat membasahi tubuh mereka setelah mengikuti senam.

“Kalian ikut saya,” ajak Hasbi tiba-tiba yang membuat semuanya kaget.

“Kemana Pak?” tanya Intan.

“Ke rumah saya, istri saya sudah menyiapkan makanan buat kalian,” ujar Hasbi tersenyum.

Semua anak bersorak bahagia, Intan dan Uli mendekati  Hasbi, “Latihannya gimana Pak?”

“Di sana, cukup kok halaman saya. Sekalian ngomongin yang perlu disiapin besok.”

Lalu mereka semua berangkat ke rumah Hasbi.

“Assalamualaikum!!!” ucap semuanya.

Ratmi keluar dan mempersilahkan masuk. Di dalam, dia sudah menyiapkan hidangan untuk disantap anak-anak. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, anak-anak langsung mengambil makanannya

“Eh, tertib dong!” ujar Uli yang melihat anak laki-lakinya tidak beraturan, “Makasih ya Tante, udah repot-repot masak buat kita,” ujar Uli ke Ratmi.

“MAKASIH YA TANTE!!” Semuanya mengikuti.

“Iya sama-sama, diabisin ya makanannya.”

Semuanya lahap memakan masakan Ratmi, si Andi bahkan sampai nambah. Teman-temannya geleng-geleng melihat si Andi.

Andi yang melihat teman-temannya lalu berkata. “Kenapa? Laper tau abis senam.”

Hasbi dan Ratmi tertawa melihatnya.

Sekarang mereka sedang berlatih di depan rumah Hasbi. Ridho sudah siap berada di posisi, menunggu Hasbi memberikan aba-aba. Di sisi lain Andi dan Firman sudah siap di posisinya masing-masing sesuai perannya. Hasbi melambaikan tangan bertanda Firman menjalani perannya, berjalan mendekati Andi dan Firman membawa bambu yang ditegakkan. Lalu Uli dan Intan menyusul masuk berjejer pada barisan. Latihan berjalan lancar. Senyuman penuh hasil terlihat di Hasbi dan juga berdoa agar besok acaranya berjalan lancar.

Besoknya, Pagi, 17 Agustus. Semuanya sudah bersiap di rumah Andi memakai seragam sesuai peran yang mereka mainkan, Intan datang terlambat dan mengabari bahwa Uli tidak bisa ikut karena sakit. Semuanya yang mendengar kecewa, termasuk Hasbi.

“Jangan sedih, kita harus tetap memberikan yang maksimal. Kalo kita berhasil, Uli juga bangga nantinya,” sedikit motivasi dari Hasbi untuk menenangkan dan menyemangati anak-anak. Ratmi yang ternyata juga ada di situ, juga memberikan motivasi.

Waktunya tiba. Hasbi berkeliling pemukiman sambil menyalakan sirine, berharap mendapat perhatian warga dan bisa mengarahkannya ke lapangan. Rencananya berhasil, banyak warga berbondong-bondong pergi ke lapangan. Meski mereka tidak tau ada kejadian apa di sana.

Dirasa cukup keramaiannya, Hasbi memberikan aba-aba ke Firman dan Andi untuk datang ke lapangan. Lalu mereka berdua datang Andi berpakaian seperti Ir.Soekarno sedangkan Firman seperti Moh Hatta saat membacakan teks proklamasi waktu hari kemerdekaan, semua warga yang melihat mereka berdua; tertawa dan tepuk tangan.

Saat Hasbi melihat reaksi warga melihat Andi dan Firman. Tiba-tiba Intan datang ke dirinya, “Pak, saya malu kalo cewek sendiri,” ujar Intan pelan.

“Kenapa malu?”

Intan menunduk saja, tidak mau menjawab. Lalu sebuah tangan mendangakkan kepala Intan, “Nanti Tante temenin, mau,kan?” Ratmi membawa kabar baik untuk Intan.

Intan mengangguk senyum.

“Makasih ya, Sayang,” ucap Hasbi kepada Ratmi.

“Ehem,” Andi terlihat grogi dan warga tertawa melihatnya. Warga di sana antusias melihat acara seperti ini di pemukimannya, sebab seperti kata Pak RT, sudah 10 tahun tidak ada acara apa-apa saat tanggal 17 Agustus.

Kemudian Ridho berjalan ke lapangan membawa bendera yang sudah dikaitkan di sepotong bambu diikuti Intan dan Ratmi yang berdiri di belakang Ridho dan berhenti dihadapan Andi dan Firman.  Sudah di posisi masing-masing, Hasbi bergegas membawa mic untuk digunakan Andi.

“Kami, bangsa Indonesia,” Andi membacakan teks proklamasi, seketika warga khidmat mendengarkannya.

Hasbi terenyuh sekaligus haru melihat suasana ini. Impiannya sejak masih kuliah di jurusan Sastra Indonesia kini terwujud. Andi membacakan teks proklamasi dengan penuh penghayatan, di sampngnya, Firman juga berdiri penuh penghayatan.

“Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.” Andi menutup teks prokalamasi.

Selesai membaca teks proklamasi, Firman mengepalkan tangan dan mengangkatnya, “MERDEKA!” ucapnya penuh semangat membakar suasanya di sana.

“MERDEKAAAA!!” semua warga ikut berteriak..

Hasbi lalu memutar lagu Indonesia Raya, Intan dan Ratmi mulai menyanyikannya lalu semua warga mengikutinya sambil hormat kepada bendera merah putih yang dipegang tegak oleh Ridho.

“Terima kasih.” Pak RT yang tiba-tiba sudah di samping Hasbi.

“Sama-sama Pak, ini bukan semata untuk warga Bapak, tetapi juga untuk Indonesia tercinta,” ujar Hasbi.

Lalu Hasbi dan Pak RT hormat ke bendera dan ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.

Di pagi yang cerah, suasana di pemukiman itu terasa hidup lagi dari perang sepi yang menyelimuti.


Kamis, 20 Agustus 2020

Melepas di Jakarta

     Tulisan ini berhasil jadi peringkat ke-3 dalam lomba cerpen yang diadakan oleh KKN Cibara 019 dari UIN Jakarta.

2 Maret 2020, dua warga Indonesia dikonfirmasi positif COVID-19, lalu semuanya berubah. 5 bulan lebih telah berlalu namun, covid19 tidak berhenti bertamu. Rasa khawatir menyelimuti perasaan saya, jumlah pasien positif terus meningkat serta penanganan umum yang terbatas membuat tidak ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir.

Sudah hampir 1 jam saya meng-scroll foto di laptop. Saya membuat folder satu-persatu agar tersusun rapih setiap momentnya. Seringkali foto-fotonya membuat saya diam mematung dan membawanya kembali ke moment tersebut. Mata saya seakan terhipnotis saat melihat foto; langit, gedung, dan taman di Jakarta tampil dihadapan layar.

Bukan tanpa alasan, sebelum pandemi ini hadir. Saya suka berkeliling kota Jakarta, pergi berjalan ke tempat wisata ataupun berdiam diri di taman berjam-jam lamanya. Dan saya melakukannya sendiri. Karena ada kepuasan yang tercipta saat bepergian sendiri tanpa ditemani siapapun. Tidak perlu repot memikirkan; rute, lokasi makan, dan hal lainnya yang bisa didebatkan.

Melakukan perjalanan dari rumah, lalu singgah di halte menunggu TJ (Trans Jakarta) datang menjemput. Suasana hirup pikuk selalu menghiasi perjalanan saya saat berkeliling ke Jakarta; berdesakan di TJ atau CL (Commuter Line). Tetapi tidak membuat saya kapok untuk menaiki Transpotasi umum. Karena saat itulah membuat saya merasa ada di Jakarta, akan terasa asing rasanya jika Jakarta kosong melompong tanpa pemandangan hilir-mudik manusia di sana.

Rute saya berkeliling Jakarta juga hanya itu-itu saja. Biasanya dimulai ke Kota Tua lalu Taman Lapangan Banteng menjadi penutup perjalanan. Di Kota Tua, saya senang berjalan kaki menyusuri wilayahnya sambil sesekali mengambil foto bangunan-bangunan tua di sana, tidak pernah bosan meski sudah datang berkali- kali. Lalu duduk di halaman luas tepat depan bangunan tua berwarna putih yang menjadi ikonik di sana. Mengamati orang-orang; bersepeda dan berfoto ria. Kadang juga ada sekelompok pemusik memainkan tembang lagu lawas sambil mengajak penonton menyanyi bersama. Suara-suara pedagang menjajahkan dagangannya juga tidak luput mampir ke telinga saya. Di Kota Tua, keramaian terasa mengasyikkan, membuat kesedihan terhimpit mati di antara keramainnya.

Di Taman Lapangan Banteng, seringnya saya datang saat senja membutuhkan teman. Duduk di pelataran taman; menuntun senja hilang diselingi keluhan hidup yang terlontar dari mulut saya. Berbanding terbalik dengan di Kota Tua, di sini saya membutuhkan keheningan, karena pengunjung yang datang juga tidak banyak. Pergantian waktu dari siang ke malam ditambah suara gemercik air mancur jadi penghibur saya saat mengungkapkan apa yang sulit diungkap. Tentang rasa sakit, kecewa, dan putus asa.

Selesai bersedih, saya mendangakkan kepala melihat patung yang berdiri kokoh di tengah taman ini. Patung ini juga menjadi simbol Monumen Pembebasan Irian Barat. Patung dengan tinggi 9 meter, kaki patung dibuat seakan terlepas dari ikatan rantai lalu bentangan tangannya ke atas menggambarkan rasa gembira karena sudah bisa bebas dari penjajahan Belanda waktu itu. Sekiranya begitu dari artikel yang saya baca. Maka dari itu, saya harus juga bisa seperti patung tersebut, mampu melawan rasa sakit, kecewa, dan putus asa. Lalu bahagia dan bebas seperti gaya patung yang terlihat dari bawah sini.

Jam dinding di kamar saya menunjukkan pukul 11 malam, sudah waktunya selesai merindukan hal yang sering saya lakukan sebelum pandemi menyerang. Meskipun rindu tidak kenal waktu, tetapi ada raga yang harus beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk bisa bersanding dengan rindu itu kembali. Akhir tulisan ini, saya ucapkan selamat malam dan ingat; besok pandemi masih ada.  

Jumat, 31 Juli 2020

Terpental

Terpental dalam KBBI; terpelanting jauh.

Dalam versi umum; berpindah posisi dari titik sat uke titik satunya dalam jarak yang berbeda. Penyebabnya karena ada momentum yang membuat kita berpindah posisi lalu begitu saja penjelasannya, lengkapnya saya belum tau.

Saya sedang membersihkan kamar, karena sudah sumpek untuk dilihat, tetapi frekuensi aktivitasnya lebih lama bengong daripada bersih-bersihnya. Terutama saat menemui barang-barang yang harusnya saya buang, tetapi masih menumpuk rapih di dalam lemari. Akibat menemukan barang-barang itu saya jadi terpental, tetapi posisi saya tidak berpindah ke mana-mana, karena yang berpindah bukan tubuh saya, melainkan ingatan saya.

Tiket-tiket bioskop XXI saya jejerkan di depan saya. Sebagian masih jelas tertulis judul film dan lokasi bioskop, ada juga yang sudah pudar. Saya punya kebiasaan menulis di belakang tiketnya dengan siapa saya menonton film tersebut. Jadi kalo saya balik tiketnya, saya bisa terpental ke momen yang terjadi waktu itu. Mengingat-ingat setelah nonton ngapain lagi, atau sebelum nonton saya jemput di mana, izin sama orang tuanya atau ketemuan langsung di tempat. Salah satunya tiket nonton bioskop yang sudah agak pudar, tapi judul filmnya terbaca; Soekarno. Sebelum film dimulai, semua penonton disuruh berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Alhamdulillah, cuma saya dan partner yang berdiri dan menyanyikannya dengan lantang.

Beberapa surat dari zaman SMP sampai SMK saya temukan, ada surat cinta dari lawan jenis maupun sejenis dan beberapa tulisan saya di file sewaktu SMK. Baca tulisan saya tempo dulu aja bikin bengong, dibaca sampai habis terus mikir ini tulisan kenapa bisa dibuat, gamungkin ada api kalo gak ada fire-kan?

Mungkin karena sifat saya yang masih suka menumpuk barang dan menyayangkan untuk dibuang.  Maka, kamar bisa terlihat sumpek begini. Orangnya sayangan banget saya tuh, beli baju baru aja bisa 1 tahun kemudian dipakai. Hal yang gak bagus dilakuin sebenernya, soalnya jadi numpuk di lemari. Masih banyak barang lainnya yang menumpuk di kamar. Padahal sebagian sudah pernah dibuang waktu lampau tetapi, kenapa masih keliatan sumpek aja ya?

Akhirnya sudah terpilah; barang-barang yang harus dibuang agar tidak memenuhi isi kamar. Sebenarnya prinsip kamar rapih serupa sama pikiran yang jernih; singkirkan hal-hal gak penting yang bikin memungsingkan kepala, lalu tata dengan teratur apa yang perlu kita simpan. Jika ada orang yang masuk lalu meninggalkan sampah, segera buang jangan pernah tertumpuk di sana. Dan yang penting, kamar harus wangi, jangan tidak.  

 


Selasa, 14 Juli 2020

Kebersamaan, Kerepotan, dan Kebanggaan yang tertunda.

Senin, 13 Juli 2020. Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru bagi seluruh siswa di seluruh Indonesia. Seharusnya, jalan raya dipenuhi oleh siswa/i yang berangkat ke sekolah mulai dari angkutan umum, diantar orang tua, juga mengendarai motor menumpuk tiga. Namun, akibat COVID-19 yang belum selesai di Indonesia, semuanya berubah. Di jalan, saya tidak melihat lalu lalang dari mereka, beberapa saja yang terlihat, sangat tidak banyak. Bahkan pedagang balon gas yang biasanya berdiam di dekat sekolah, tidak ada yang terlihat sama sekali.

Bagi siswa/i, saya paham gimana rasanya ingin bertemu teman-teman sekolah setelah libur panjang yang kali ini terasa melelahkan (karena harus diam di rumah). Merindukan suasana riuh canda tawa, melakukan hal-hal konyol di dalam kelas, dan yang paling ditunggu; beramai-ramai ghibah dari kalangan artis, selebgram, dan tentu teman sendiri.

Begitu juga untuk yang baru masuk ke jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya, bertemu teman baru lalu beradaptasi dengan lingkungannya jadi hal yang ditunggu. Repot menyiapkan hal-hal ospek, sibuk menebak kata kunci makanan dan minuman yang mau dibawa. Di zaman saya, perempuannya diharuskan mengkuncir rambutnya dengan kuncir warna warni, laki-lakinya wajib berkepala botak. Di mana harus mengejar KAMBING (Kaka Pembimbing) untuk dimintai tanda tangannya, kalo diinget, rajin juga ya saya, malah kadang kambingnya sok jual mahal, meh.

Apalagi bagi orang tua, melihat anaknya menggunakan seragam SD di hari pertama mereka bersekolah sambil berujar, “Udah gede juga ya kamu, Nak.” lalu mengantarkannya sampai ke depan pintu gerbang dan momen mengharukan terjadi saat harus rela melepas anaknya menuntut ilmu seorang diri. Saya rasa kata-kata tidak akan cukup untuk mendeskripsikan perasaan orang tua saat itu.

Hari pertama saya bersekolah, lupa dengan siapa saya berangkat waktu itu. Tapi saya ingat saat sedang di dalam kelas, saya melihat beberapa orang tua mengamati anaknya dari balik jendela. Di jam istirahat, orang tua siap menyambut anaknya dengan bekal yang mereka buat. Lonceng pulang berbunyi, anak-anak disambut dengan pertanyaan, “Kamu tadi belajar apa?” dari orang tua mereka.

Sekarang, semua hal diatas terpaksa harus ditunda dulu entah sampai kapan. Kesunyian jadi pengisi kekosongan di sudut lorong-lorong sekolah serta di dalam kelas mereka. Semuanya berpindah ke dalam layar gadget. Terlihat penuh di dalam layar, namun, dari luar layar mereka tetap sendiri di dalam ruangannya masing-masing.

Harapan kita semua sama, pandemi ini cepat berakhir. Agar hal-hal di atas bisa kembali dirasakan oleh semua siswa/i, semua orang tua, dan para pedagang di sekolah. Karena ada sisi yang kosong saat kita harus berinteraksi melalui gadget, yaitu; hangatnya kebersamaan.

Jumat, 10 Juli 2020

Tragedi di Sukamantri

Sudah lewat setengah jam saya menunggu hujan berhenti di salah satu teras ruko dekat mall di daerah Pondok Gede. Hujan yang tiba-tiba membuat saya telat menjemput Zahra di Halte Pinang Ranti.

Berawal dari obrolan ringan di grup whatsapp teman-teman SMK, Fuad; teman saya yang sering naik gunung mengajak kita kemcer (kemping ceria). Bak air tumpah, ajakannya disambut bahagia karena banyak yang belum pernah kemping. Lanjut perihal teknis Fuad yang mengurus karena dia lebih paham. Dia memberikan banyak pilihan tempat, sampai meruncing jadi dua pilihan; di Balong Endah atau Sukamantri.  


Sukamantri menjadi pilihan untuk kemping setelah melalui debat dari kita yang belum pernah kesana dengan membandingkan dua tempat tersebut perihal; tempat foto, track, dan keberadaan hewan buas (ini serius loh) melalui refrensi via Istagram. Agak rumit emang kemauan manusia.


Buat yang belum tau, bumi perkemahan Sukamantri itu berada di kaki Gunung Salak. Kalo dilihat dari foto-foto yang tersebar di Instagram, tempatnya bersahabat buat pemula yang mau kemah atau kemah dengan balutan keluarga gitu.


Hujan sudah berhenti, saya lanjut menjemput Zahra. Dari Pinang Ranti, kemudi saya arahkan ke rumah Bebek. Di sana ada Fuad, Nabila, Nurul, dan Bebek (Fikri). Mereka baru pulang membeli stok makanan buat besok, lalu Fuad membagi-bagikan bawaan besok di dalam tas sekaligus mencoba tenda yang digunakan untuk tidur kita di sana. Setelah semua dirasa cukup, kita pulang ke rumah masing-masing menyiapkan tenaga buat besok.

Rencananya semua berkumpul di rumah Fuad pukul 9 pagi. Bukan orang Indonesia kali ya kalo nggak telat, karena semua baru bisa kumpul pukul setengah 11 lewat. Akhirnya kita bagi-bagiin lagi bawaan yang dipersiapkan buat di sana. Selain 5 orang yang saya sebutkan sebelumnya di atas, ada Elisa, Devari, dan Aji yang juga ikut ke Sukamantri, jadi total kita ada 9 orang. Semua tas sudah terisi barang bawaan, sekitar pukul 11 lewat kita berangkat menuju Sukamantri.

Jalur yang kita lewatin (seinget gue) Leuwinanggung – Tapos – Cibinong – Bogor, selebihnya lupa. Drama saling tunggu karena ketinggalan nggak bisa dipisahkan kalo lagi naik motor ramean begini. Alhamdulillah, saya ada di bagian yang ditungguin alias motor saya gabisa ngebut T.T (ini emot sedih). Setengah perjalanan kita laluin, teman-teman memutuskan buat rehat sejenak di tukang soto mie karena pantat udah kerasa tidak enak (maklum gak biasa) dan perut yang keroncongan.

Setelah perut terisi dan pantat enakan, kita ngelanjutin perjalanan. Tidak jauh; kita memasuki area pemukiman warga, suasana sejuk menyapa kita di sana, lanjut menanjaki jalan bebatuan. Karena takut terjadi apa-apa, kita jalan satu-persatu secara bergantian. Semua terlihat tanpa kendala, sampai  tiba-tiba Adjie nyeletuk, “Tong, motor lu ngebul.”

“Wadadadadadaw,” respon saya dalam hati. Serentak semuanya berhenti, saya langsung mengecek motor. Ternyata nggak cuma asapnya ngebul, bau sangit juga keluar dari motor saya. Keadaan motor membuat saya diem, mikirin perjalanan pulang nanti, nyampe aja belum, ini udah mikirin pulang. Fuad bilang buat berhenti sebentar nunggu motor saya bener (sedikit). Tentu, saya harap-harap cemas sama keadaan ini, masa gagal sih udah setengah lebih perjalanan.

Fuad bilang kalo dikit lagi udah nyampe dan meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Anjay. Memulai dengan Bismillah, kita melanjutkan perjalanan. Zahra yang awalnya satu motor sama saya, pindah ke Fuad yang sendirian. Alhamdulillah, tidak lama dari situ kita disambut jalanan yang udah di cor gitu. Semuanya berhenti lalu foto bersama di dekat gapura bertuliskan “Kujang Raider”.

Akhirnya sampai juga di tempat perkemahan Sukamantri, sebelum markirin motor, kita bayar uang masuk terlebih dahulu. Biayanya Rp 25,000/orang dan belum termasuk parkir. Setelah memakirkan motor, kita harus berjalan sedikit buat sampai di wilayah tempat masang tenda. Di Sukamantri ini ada dua wilayah tempat buat kita berkemah, satu di dekat tempat parkir, satu lagi agak jauh tapi masih bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Perasaan lega menghampiri semuanya saat sampai di wilayah berkemah. Kemudian yang perempuan menggelar tikar untuk meletakkan barang bawaan, sedangkan laki-lakinya memasang tenda. Ditemani lagu-lagu yang udah dipersiapkan sehari sebelumnya dan pemandangan hijau nan asri sejauh mata memandang. Kini, suasana liburan sudah ada di dalam genggaman. Gelak tawa jadi teman saat memasang tenda, saya dan Adji sedikit kesulitan saat memasang tenda. Tiga tenda sudah terpasang dengan kokoh, satu tenda buat tempat tidur perempuan, sisanya buat barang bawaan dan tempat tidur laki-laki.

“Bek, panggangan mana?” tanya Nabila saat mempersiapkan alat memasak.
Semua melihat Bebek, dia diam sebentar, “Lah ada disitu, cari napa Bil,” ujarnya.
“Mana si? Orang gak ada.”
Bebek menuju tasnya dan mencari panggangan, alhamdulillah, yang dicari gak ada.
“Kayanya ketinggalan dah, Bil,” ujar Bebek pasrah.
“Ih kok bisa? Ajksjhdjkaskd,” ocehan Nabilla yang gabisa dikendalikan.

Bukannya pada membela, yang lain malah menertawakan si Bebek, ya mau gimana lagi kan? Tadi motor saya bermasalah, sekarang Bebek lupa bawa panggangan. Ada-ada saja emang tragedinya. Untuk menebus kesalahan, Bebek mencari panggangan di sekitaran situ. Lama berselang, Bebek datang membawa panggangan. Alhamdulillah, dia meminjam panggangan di warung tempat kita menumpang masak nasi saat pertama datang.

Gelap mengganti peran si terang di langit Sukamantri, lalu adzan maghrib berkumandang. Sebagian berangkat ke mushollah untuk salat, kita menggunakan senter ke sana karena gak ada sumber penerangan di Mushollah. Yang ada di Mushollah memutuskan untuk sekalian salat Isya biar rasane plong, gituh.

Keluar mushollah, ada Nabilla yang mau buang air ditemenin sama Devari. Saya, Zahra, Elisa, dan Bebek pamit ke atas. Kamar mandi di sini ada dua lokasinya, satu di ujung tempat dari wilayah kita kemah, satunya lagi di dekat musholah. Akses ke kamar mandinya kita harus nurunin jalan gitu yang pijakannya cukup buat satu kaki, harus hati-hati saat naik maupun turun, apalagi kalo malam, harus pake senter, soalnya bisa terpeleset.

Selain bakar ayam, kita juga bawa kompor kecil buat ngegoreng makanan, kaya naget, otak-otak, sosis, dll. Menikmati makan di alam bebas bersama teman-teman, menghadirkan rasa senang dan haru. Senang karena masih bisa seperti ini dalam keadaan yang sehat, haru karena nggak tau kapan lagi bisa kaya gini.

Menghabiskan sisa waktu malam di tenda dengan canda gurau, mengenang masa-masa sekolah, dan berandai-andai tentang masa depan walaupun semuanya masih abu-abu.


“Nanti kalo kalian menikah, bakal bisa kaya gini lagi ga?” tanya dari salah satu kita, gua lupa siapa orangnya waktu itu, yang jelas bukan gua, apalagi Bebek.

Tiba-tiba satu teman perempuan menangis, bukan karena kesurupan, tetapi menangis haru. Perempuan lainnya terbawa suasana, sedangkan saya dan laki-laki yang lain, menertawainya, jahat ya emang hahaha. 

Lensa kamera dibuka, tombol rekam ditekan oleh Devari. Mata kamera merekam kegiatan kita di temani bintang dan bulan yang cerah pada malam itu, dimulai dengan masing-masing kita diberikan pertanyaan-pertanyaan yang “dalam”. Lalu satu persatu menjawab pertanyaan yang membuka kenangan lama, menyimpulkan benang merah yang kusut. Ada juga yang berkilah tidak mau menjawab, tetapi dari situ bisa menimbulkan gelak tawa dan haru yang membunuh suasana sunyi hutan dalam momen kebersamaan kita.

Nabilla membangunkan satu persatu yang tidur saat adzan subuh berkumandang. Saya dibangunkan paling terkahir karena tidur di tenda barang, terpisah sama laki-laki yang lain karena tendanya gak muat. Balik dari musholla kita menyiapkan sarapan, karena setelah itu kita akan pergi ke curug buat berenang. Momen yang ditunggu oleh semua peserta kemping ceria ini.

“Jalan kaki aja, susah jalannya kalo bawa motor, gak jauh kok dari sini,” ujar Fuad meyakini kita semua yang awalnya mau pergi mengendarai motor, semua menerima. Jalur yang kita lewati itu jalan aspal yang kita naikin di perjalanan berangkat, sampai ketemu gapura “Kujang Raider” kita belok ke kiri di perbatasan jalur aspal dan tanah, perjalanannya memakan waktu sekitar 30 menit (ini udah ditotal sama ngaso beberapa kali di tengah jalan).


Eh ternyata pas sampai kita ngeliat jalannya bisa dilaluin sama motor. Fuad cengengesan karena berhasil mengelabui kita. Namun, lelahnya perjalanan berubah menjadi teriakan bahagia. Semua menyambut pemandangan hijau dan air yang mengalir di sini. Terutama Nabilla, dia baru pertama kalinya ke curug dan sangat bahagia bisa menapakkan kakinya di dalam air mengalir. Adjie; katanya tidak sia-sia ngambil cuti kerja untuk datang ke sini. Dua pernyataan di atas bisa mewakili bagaimana keindahan alam di sana. Keadaan juga masih sepi karena kita datangnya pagi banget, info juga, curugnya gratis.

Satu dua batu kita pijak untuk sampai di tempat yang bisa dibuat berenang, jalan sekitar 5 menit lagi, kita sampai di tempatnya. Semuanya langsung loncat ke sungai, suasana sepi, air dingin, pemandangan hijau, jadi hal asing yang kita jumpai selama di hidup di perkotaan. Curugnya juga serasa milik kita sendiri karena masih sepi banget, ya sekitar 20 menit kemudian baru satu-persatu pengunjung datang. Satu jam lewat kita menikmati pemandian di aliran sungai ini. Maunya sih terus berendam, tapi waktu ikutan berjalan. Semua berbenah dan meninggalkan curugnya. Melihat sekitaran kolam, ternyata udah banyak pengunjung yang dateng, bahkan ada yang ramean naik truk. Untung aja kita udah selesai foya-foya di airnya.

“EHHH!!”, ucap kaget Elisa saat sampai di tenda karena sampah berserakan di mana-mana. Ternyata ini ulah sekumpulan para monyet di kawasan hutan Gunung Salak. Katanya kalo pagi emang banyak yang silaturahmi, sekedar nyari makan dari bawaan pengunjung ataupun bekas sampah makanan kita. Kita makan lagi buat bekal perut di perjalanan pulang, setelah makan, semua membereskan perlengkapannya dan menutup tenda. Kemudian saat semuanya telah siap pulang, ternyata ada yang menghambat, yaitu si Bebek yang masih mandi.

Buah semangka jadi teman menyantap sambil menunggu Bebek. Buah yang menurut banyak pendaki jadi terasa nikmat saat menyantap di ketinggian puncak. Beberapa potong semangka saya kasih ke kerumunan monyet. Namun, petaka dimulai dari situ, sekumpulan monyet semakin banyak yang datang ke tenda kita. Semuanya panik, masing-masing menyelamatkan barang bawaan lalu menjauh dari kerumunan monyet. Beberapa bawaan ada yang belum saya tutupi dengan alas biar gak dibrendel monyet. Bener aja, ada monyet yang berhasil mengambil satu renceng susu jahe.

“BEBEKKKKKKKKKKK, LAMA BANGET LU,” kita meneriaki Bebek agar lebih cepat mandinya.

Lebih dari 30 menit, akhirnya Bebek keluar dari kamar mandi, “Sempak gua ilang Boy,” ujar Bebek saat baru sampai. Semuanya bingung, kaget, dan tentu tertawa. Bebek disuruh buru-buru mempersiapkan dirinya untuk pulang. Barang bawaan sudah gak ada yang ketinggalan, semua bergegas pulang meninggalkan keluarga besar monyet. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya Nyet! Berangkat dengan doa, pulang juga harus dengan doa, kemudian kita pamit sama petugas di sana.

Bergantian kita memulai perjalanan pulang, dalam hati yang bahagia dan lega, perkempingan dua hari satu malam telah terlaksana dengan perasaan yang sangat puas. Dengan beberapa tragedy yang tejadi tidak membuat kita merasa ini sebagai perjalanan yang buruk, melainkan jadi sisi menarik yang bisa kita ceritakan kelak. Seperti kumpulan daging rendang yang nikmat, tetap saja kita suka menggigit lengkuas yang pahit.

Pertama kali berkemah gak mungkin bisa saya lupakan, sama seperti cinta pertama lah ya, hehe.

FYI:
- Fuad juga pernah kehilangan sempak saat mandi di WC yang sama, hmmm?
- Kalian bisa bawa beras dari rumah, lalu meminta tolong buat dimasakin di warung yang ada di sana, biaya masaknya lupa.
- Ada beberapa curug yang tersedia di sana, yang membedakan jarak dan jalur tempuhnya aja.