Kamis, 20 Agustus 2020

Melepas di Jakarta

     Tulisan ini berhasil jadi peringkat ke-3 dalam lomba cerpen yang diadakan oleh KKN Cibara 019 dari UIN Jakarta.

2 Maret 2020, dua warga Indonesia dikonfirmasi positif COVID-19, lalu semuanya berubah. 5 bulan lebih telah berlalu namun, covid19 tidak berhenti bertamu. Rasa khawatir menyelimuti perasaan saya, jumlah pasien positif terus meningkat serta penanganan umum yang terbatas membuat tidak ada kepastian kapan pandemi ini akan berakhir.

Sudah hampir 1 jam saya meng-scroll foto di laptop. Saya membuat folder satu-persatu agar tersusun rapih setiap momentnya. Seringkali foto-fotonya membuat saya diam mematung dan membawanya kembali ke moment tersebut. Mata saya seakan terhipnotis saat melihat foto; langit, gedung, dan taman di Jakarta tampil dihadapan layar.

Bukan tanpa alasan, sebelum pandemi ini hadir. Saya suka berkeliling kota Jakarta, pergi berjalan ke tempat wisata ataupun berdiam diri di taman berjam-jam lamanya. Dan saya melakukannya sendiri. Karena ada kepuasan yang tercipta saat bepergian sendiri tanpa ditemani siapapun. Tidak perlu repot memikirkan; rute, lokasi makan, dan hal lainnya yang bisa didebatkan.

Melakukan perjalanan dari rumah, lalu singgah di halte menunggu TJ (Trans Jakarta) datang menjemput. Suasana hirup pikuk selalu menghiasi perjalanan saya saat berkeliling ke Jakarta; berdesakan di TJ atau CL (Commuter Line). Tetapi tidak membuat saya kapok untuk menaiki Transpotasi umum. Karena saat itulah membuat saya merasa ada di Jakarta, akan terasa asing rasanya jika Jakarta kosong melompong tanpa pemandangan hilir-mudik manusia di sana.

Rute saya berkeliling Jakarta juga hanya itu-itu saja. Biasanya dimulai ke Kota Tua lalu Taman Lapangan Banteng menjadi penutup perjalanan. Di Kota Tua, saya senang berjalan kaki menyusuri wilayahnya sambil sesekali mengambil foto bangunan-bangunan tua di sana, tidak pernah bosan meski sudah datang berkali- kali. Lalu duduk di halaman luas tepat depan bangunan tua berwarna putih yang menjadi ikonik di sana. Mengamati orang-orang; bersepeda dan berfoto ria. Kadang juga ada sekelompok pemusik memainkan tembang lagu lawas sambil mengajak penonton menyanyi bersama. Suara-suara pedagang menjajahkan dagangannya juga tidak luput mampir ke telinga saya. Di Kota Tua, keramaian terasa mengasyikkan, membuat kesedihan terhimpit mati di antara keramainnya.

Di Taman Lapangan Banteng, seringnya saya datang saat senja membutuhkan teman. Duduk di pelataran taman; menuntun senja hilang diselingi keluhan hidup yang terlontar dari mulut saya. Berbanding terbalik dengan di Kota Tua, di sini saya membutuhkan keheningan, karena pengunjung yang datang juga tidak banyak. Pergantian waktu dari siang ke malam ditambah suara gemercik air mancur jadi penghibur saya saat mengungkapkan apa yang sulit diungkap. Tentang rasa sakit, kecewa, dan putus asa.

Selesai bersedih, saya mendangakkan kepala melihat patung yang berdiri kokoh di tengah taman ini. Patung ini juga menjadi simbol Monumen Pembebasan Irian Barat. Patung dengan tinggi 9 meter, kaki patung dibuat seakan terlepas dari ikatan rantai lalu bentangan tangannya ke atas menggambarkan rasa gembira karena sudah bisa bebas dari penjajahan Belanda waktu itu. Sekiranya begitu dari artikel yang saya baca. Maka dari itu, saya harus juga bisa seperti patung tersebut, mampu melawan rasa sakit, kecewa, dan putus asa. Lalu bahagia dan bebas seperti gaya patung yang terlihat dari bawah sini.

Jam dinding di kamar saya menunjukkan pukul 11 malam, sudah waktunya selesai merindukan hal yang sering saya lakukan sebelum pandemi menyerang. Meskipun rindu tidak kenal waktu, tetapi ada raga yang harus beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk bisa bersanding dengan rindu itu kembali. Akhir tulisan ini, saya ucapkan selamat malam dan ingat; besok pandemi masih ada.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar